Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita dari Sudut Pandang yang Berbeda, Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Akhir Bulan Ramadhan: Momentum Menuju Kemenangan



Oleh: Indha Tri Permatasari, S. Keb., Bd. ( Aktifis Muslimah) 


Akhir Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di satu sisi, hati terasa haru karena bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan akan segera pergi. Di sisi lain, kaum muslim semestinya tidak menjadikan akhir Ramadhan hanya sebagai penutup ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum muhasabah besar: sejauh mana Ramadhan telah mengubah cara pandang, sikap, dan arah perjuangan kita sebagai umat.


Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah madrasah ruhiyah dan siyasiyah. Di dalamnya, kaum muslim dilatih untuk taat total kepada Allah Swt., menundukkan hawa nafsu, memperkuat kesabaran, membangun solidaritas, dan meneguhkan ketaatan terhadap aturan-Nya. Semua itu sejatinya bukan hanya bekal menjadi pribadi saleh, tetapi juga bekal membangun kehidupan Islam secara menyeluruh, termasuk dalam aspek politik.


Karena itu, akhir Ramadhan seharusnya menjadi momentum menuju kemenangan. Namun, kemenangan dalam Islam bukan semata kemenangan emosional, seremoni Idulfitri, atau keberhasilan menuntaskan puasa selama sebulan. Kemenangan yang hakiki adalah ketika umat semakin dekat kepada Allah, semakin terikat dengan syariat-Nya, dan semakin sadar akan kewajibannya untuk memperjuangkan tegaknya kehidupan Islam dalam seluruh aspek, termasuk politik.


Hari ini, kaum muslim menghadapi begitu banyak persoalan. Penjajahan di Palestina terus berlangsung. Negeri-negeri muslim dipecah belah. Kekayaan alam dikuasai asing. Hukum-hukum Allah disingkirkan dari kehidupan. Umat diarahkan agar cukup sibuk dengan ibadah individual, tetapi dijauhkan dari kesadaran politik Islam. Padahal, Islam bukan hanya agama yang mengatur shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga mengatur kepemimpinan, pemerintahan, hukum, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan luar negeri.


Di sinilah pentingnya politik Islam. Politik Islam bukanlah perebutan kekuasaan demi jabatan, bukan pula tipu daya dan intrik sebagaimana yang sering dipraktikkan dalam sistem sekuler hari ini. Politik Islam adalah ri’ayah syu’unil ummah, yaitu mengatur urusan umat dengan hukum Allah. Politik Islam bertujuan menjaga agama, melindungi rakyat, menegakkan keadilan, memelihara kehormatan umat, dan membawa manusia kepada kehidupan yang diridhai Allah Swt.


Ramadhan seharusnya menghidupkan kembali kesadaran ini. Sebab orang yang benar-benar bertakwa tidak akan rela jika hidupnya diatur dengan hukum buatan manusia, sementara hukum Allah ditinggalkan. Orang yang bertakwa juga tidak akan diam melihat umat terus berada dalam kelemahan, perpecahan, dan ketertindasan. Ketakwaan sejati akan mendorong seorang muslim untuk ikut memikirkan nasib umat dan berjuang agar Islam kembali menjadi aturan hidup, bukan sekadar identitas.


Akhir Ramadhan juga mengajarkan bahwa kemenangan selalu menuntut kesungguhan. Lihatlah bagaimana pada bulan Ramadhan terjadi banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan pasif, melainkan bulan perjuangan. Ruh Ramadhan melahirkan generasi yang kuat imannya, jernih pikirannya, dan kokoh keberaniannya. Mereka tidak hanya menang melawan hawa nafsu, tetapi juga siap memperjuangkan kemuliaan Islam di tengah kehidupan.


Maka, menuju kemenangan dengan politik Islam berarti menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak kebangkitan. Setelah sebulan dilatih taat, umat harus bergerak lebih jauh: memahami Islam secara kaffah, membangun kesadaran politik Islam, mengoreksi kebatilan sistem sekuler, dan mendukung perjuangan penegakan syariat Islam dalam kehidupan. Inilah bentuk nyata bahwa Ramadhan tidak berhenti di sajadah, tetapi berlanjut dalam perjuangan membela agama Allah.


Idulfitri yang akan datang bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Apalah arti kembali suci secara pribadi jika masyarakat tetap dikuasai kezaliman sistem kufur? Apalah arti hati yang lembut dalam ibadah jika umat tetap dibungkam, dijajah, dan dijauhkan dari hukum Allah? Karena itu, kemenangan sejati bukan hanya saat kita bertakbir di hari raya, tetapi saat umat mampu kembali hidup di bawah naungan Islam.


Sudah saatnya akhir Ramadhan menjadi momentum perubahan besar. Bukan hanya berubah dalam akhlak pribadi, tetapi juga dalam orientasi perjuangan. Umat harus bangkit dari pola pikir sempit yang memisahkan agama dari politik. Umat harus yakin bahwa Islam memiliki solusi atas seluruh problem kehidupan. Dan umat harus kembali mengambil perannya sebagai pembela agama Allah dan penggerak kebangkitan Islam.


Semoga akhir Ramadhan ini tidak hanya meninggalkan kenangan ibadah, tetapi juga melahirkan tekad perjuangan. Tekad untuk menjaga ketakwaan, menguatkan persatuan umat, dan melangkah menuju kemenangan hakiki melalui politik Islam. Sebab hanya dengan Islam yang diterapkan secara menyeluruh, kemuliaan umat dapat kembali diraih.

Posting Komentar

0 Komentar