Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Forum Peduli Bangsa Tuban: “Demo Mahasiswa Harus Diarahkan Pada Perubahan Yang Benar”


Kamis, 26 September 2019 kemarin berlangsung Forum Peduli Bangsa di Tuban. Forum yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat, tokoh pemuda-mahasiswa ini diselenggarakan atas keprihatinan yang mendalam atas carut marutnya pengelolaan negeri.

Forum Peduli Bangsa mengangkat tema diskusi : “Demontrasi Mahasiswa 2019; Mengulang ’98??” sebagai bentuk ikhtiar untuk ikut memikirkan situasi terkini dimana marak demonstrasi mahasiswa dan juga pelajar.

Hadir sebagai narasumber Ketua LBH Pelita Umat-Jakarta, seorang praktisi hukum yang juga aktivis yakni Akhmad Khozinuddin, SH kemudian Wahyudi Al Maroky, Direktur Pamong Institute yang juga Pakar Politik Pemerintahan dari Jakarta serta Abdus Salam, seorang aktivis yang juga dikenal sebagai Pengamat Gerakan.

Pada prinsipnya ketiga panelis sepakat bahwa Indonesia saat ini sesungguhnya memang tidak sedang baik-baik saja, ketiga narasumber juga sepakat berbahagia atas bangkitnya gerakan mahasiswa, akan tetapi apresiasi atas bangkitnya gerakan mahasiswa ini harus dibarengi dengan penyadaran kepada elemen mahasiswa bahwa perjuangan tidak cukup dengan reformasi sebagaimana 1998, karena problemnya bukan hanya soal tokoh, namun ada problem sistemik yang harus juga menjadi focus gerakan.

Dan diantara problem sistemik tersebut adalah persoalan demokrasi yang telah menjadi jalan bagi adanya carut marut pengelolaan negeri, misal penguasaan sumber daya alam oleh asing, budaya asing yang merajalela, utang ribawi yang menggunung dan lain sebagainya.

Pada sesi tanggapan, 2 (dua) penanggap mengamini atas uraian narasumber bahwa benar Indonesia tidak sedang baik-baik saja dan karenanya perlu untuk diberikan solusi, kalau reformasi telah gagal, demokrasi gagal, lalu apa?? Demikian uraian para penanggap.

Disinilah walau dengan ragam latar belakang yang berbeda, ketiga narasumber sepakat bahwa Islam mampu menghadirkan solusi.

Bang Wahyudi Al Maroky bahkan mengilustrasikan bagaimana pengelolaan sanksi pencuri ala Islam dibandingkan dengan yang berjalan sekarang. Bagaimana kalau ada orang yang mencuri dalam sistem sekarang. Mereka akan ditahan. Dalam proses penahanan itu butuh penjaga, butuh makan, butuh tempat penahanan yang itu dibayar oleh negara. Setelah itu mereka disidangkan. Untuk membawa mereka ke pengadilan butuh mobil, mobil butuh bensin, butuh sopir, butuh penjaga yang itu semuanya dibayar oleh negara. Setelah diputus bersalah, maka para pencuri itu harus ditahan, butuh penjara, butuh makan 3 kali sehari dan yang bayar itu semua adalah negara. Bisa dibayangkan berapa total anggaran untuk menangani 1 pencuri.

Bandingkan dengan Islam, yang cukup jika orang itu terbukti mencuri sesuai nishab maka dipotong tangan, dan selesai.

Ilustrasi sederhana itu menunjukkan bagaimana Islam menyelesaikan masalah dengan tuntas dan cepat serta berkeadilan.

Forum yang berjalan dinamis tersebut berakhir jam 23.00 WIB diakhiri dengan doa untuk kebaikan negeri ini oleh KH. Anwar S. []

Posting Komentar

0 Komentar