SURABAYA (Kamis, 19 Maret 2026) – Ratusan umat Muslim di Surabaya menggelar ibadah Shalat Idul Fitri 1447 H lebih awal dari ketetapan Pemerintah dan Muhammadiyah. Pelaksanaan ibadah tahunan ini dijadwalkan berlangsung serentak pada Kamis, 19 Maret 2026, mulai pukul 06.30 WIB dengan menghadirkan jajaran imam dan khatib yang mumpuni. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat Kota Pahlawan karena menunjukkan dinamika perbedaan ijtihad dalam penentuan 1 Syawal, yang didasarkan pada metode Rukyat Global menyusul laporan terlihatnya hilal di Afghanistan dan Mali pada Rabu sore.
Penyelenggaraan Shalat Idul Fitri di Kota Surabaya dipusatkan di beberapa titik strategis, di antaranya GOR Fasha Margorejo (Surabaya Selatan) dan Rahat Futsal Perak (Surabaya Utara). Mengingat antusiasme warga yang tinggi setiap tahunnya, pemilihan lokasi seperti gedung olahraga (GOR) dan lapangan futsal menjadi alternatif utama untuk memastikan kenyamanan dan kekhusyukan jamaah selama prosesi ibadah berlangsung. Di GOR Fasha Margorejo, ibadah berlangsung khusyuk dengan Imam Ust. Sugiono dan Khatib Ust. Asadullah. Panitia juga menyediakan akses navigasi digital melalui Google Maps untuk memudahkan para jamaah pendatang menemukan lokasi dengan akurat.
Dalam khutbahnya yang bertajuk "Idul Fitri: Momentum untuk Mewujudkan Ketakwaan dan Persatuan Hakiki di Bawah Kepemimpinan Islam," Ust. Asadullah menekankan bahwa takwa pasca-Ramadhan memiliki sejumlah tanda yang harus diwujudkan dalam kepedulian sosial yang otentik dan pengamalan Islam secara kaffah (menyeluruh). Beliau menyerukan agar Idul Fitri menjadi momen perenungan atas kondisi umat yang banyak tertindas dan tercerai-berai akibat sekat nasionalisme sempit dan penyakit al-Wahn (cinta dunia, takut mati), sehingga mudah ditindas di berbagai belahan dunia seperti Gaza, Myanmar, Xinjiang, Kashmir, hingga Sudan. Ketergantungan umat Islam pada lembaga internasional kafir dan kekuatan Kapitalisme global, seperti Amerika Serikat yang sering melakukan intervensi militer brutal, juga disorot sebagai ancaman bagi kemuliaan Islam.
Lebih lanjut, khatib menegaskan pentingnya mewujudkan kembali persatuan hakiki dan kepemimpinan global Islam (Khilafah) sebagai perisai (junnah) pelindung kemuliaan Islam dan darah kaum Muslimin, sebagaimana dicontohkan para Sahabat dan ulama terdahulu. Hadis riwayat Muslim tentang kewajiban baiat kepada khalifah dibacakan untuk memperkuat urgensi institusi pemersatu tersebut. Di antara fungsi Khilafah yang paling menonjol adalah menegakkan hukum-hukum syariah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, yang tidak mungkin diperankan oleh penguasa sekuler dalam sistem demokrasi saat ini. Kemenangan sejati adalah saat al-Quran bukan hanya dijadikan bacaan, tetapi juga diamalkan dan diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, serta Sunnah Rasulullah ﷺ dijadikan pedoman kehidupan.
Di akhir khutbah, jamaah diajak menjadikan Idul Fitri 1447 H ini sebagai tonggak kebangkitan umat dengan kembali menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman hidup serta berjuang menegakkan syariah Allah di semua lini kehidupan di bawah naungan sistem Islam sejati. Panitia penyelenggara mengimbau kepada seluruh jamaah untuk hadir lebih awal guna menghindari kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi, membawa perlengkapan shalat masing-masing, dan menjaga kebersihan area selama kegiatan berlangsung. Perbedaan lokasi dan penyelenggaraan merupakan bagian dari upaya syiar Islam untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Kota Pahlawan, selaras dengan semangat Idul Fitri untuk mempererat tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman. Selamat merayakan Idul Fitri 1447 H, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah.


0 Komentar