Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Gaza, Ketika Batas Fisik Menjadi Simbol Ketidakadilan

 


Oleh : Rahmayanti, S.Pd


Persoalan Gaza seakan tidak bertepi, selalu saja ramai menjadi topik pembicaraan.  Apalagi yang terbaru  mengenai tembok, pagar, garis pembatas dan zona terlarang mungkin terlihat sebagai bangunan fisik. Namun,  di Gaza persoalannya jauh lebih rumit lagi. Ketika pembatas disertai pembatasan bergerak, akses bantuan, serta wilayah yang tidak dapat dimasuki masyarakat sipil, ia bukan lagi sekedar masalah konstruksi, akan tetapi menyangkut hak hidup, kebebasan, kemerdekan, keselamatan dan martabat manusia.

Laporan kemanusiaan PBB pada Juli 2026 sedang menggambarkan bahwa sebagian besar penduduk Gaza, masih mengalami pengungsian berulang, sementara pembatasan akses dan operasi militer terus menghambat akses terhadap makanan, pakaian, air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. PBB juga melaporkan adanya wilayah yang aksesnya sangat dibatasi di sekitar garis yang disebut  “Yellow Line” dan “Orange Line”. 

Israel diam-diam membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 km yang membelah lebih dari separuh wilayah jalur Gaza. Keberadaan penghalang ini terungkap melalui citra satelit, yang menunjukkan pembangunannya  berlangsung dalam beberapa bulan terakhit ini. Dilansir dari Associated Pers, Selasa (21/7/2026)

Proyek tersebut memperluas pemisahan wilayah di jalur Gaza, melintasi sejumlah pemukiman Palestina yang telah hancur dibombardir Israel yang dihuni lebih dari dua juta penduduk.

Pembangunan tembok yang membelah Gaza semakin menjelaskan ambisi entitas Zionis Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza. Israel sangat jelas tidak akan pernah memberikan kemerdekaannya kepada rakyat Palestina meskipun seluruh dunia menentangnya. BOP dan New Gaza hanyalah propaganda yang menipu, mereka tidak pernah terlintas untuk upaya memerdekakan Palestina, jadi itu semua adalah impian yang akan menjadi fatamorgana.  

Hal yang seharusnya dikritisi bukanlah semata-mata tembok atau pagar sebagai pertanda, tetapi sistem pembatasan yang dapat  menjadikan manusia terkurung dan kehilangan ruang yang aman untuk menjalani kehidupan yang layak dan nyaman.

Jika sebuah pembatasan membuat masyarakat menjadi kesulitan memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, bantuan kemanusiaan, dan  keperluan dasar seperti air bersih, makanan, pakaian. Melihat keadaan seperti ini maka dunia tidak perlu bertanya lagi seberapa tinggi tembok itu ?, atau seberapa banyak bantuan obat dan makanan yang dperlukan. Karena pertanyaan seperti itu sangat naif untuk ditujukan kepada Gaza. Mereka sudah terlalu lama menderita dan bertahan tanpa ada kepastian kapan ini akan berakhir, sedangkan dunia hanya bisa bertanya, mengecam tanpa ada tindakan nyata untuk segera menyelesaikan masalah vital ini secara kongkrit.

Situasi di Gaza ini menunjukkan bahwa permasalahan kemanusiaan tidak berhenti pada kerusakan bangunan dan infrastruktur di wilayah sana. OCHA melaporkan bahwa pembatasan akses dan kekurangan pasukan telah menghambat layanan air, sanitasi kesehatan, serta  distribusi bantuan.  Pada Juni 2026 lebih 70 persen penduduk Gaza dilaporkan bergantung pada air yang diangkut dengan truk. Oleh Karena itu tembok pemisah tidak boleh dilihat hanya sebagai simbol keamanan dari satu pihak. Keamanan harus dilihat dan dipahami secara menyeluruh. Keamanan warga sipil, hak hidup, kebebasan bergerak akses bantuan yang mudah didapat, dan martabat manusia juga harus dilindungi.

Solusi Islam  

Islam adalah jalan kehidupan, yang seharusnya manusia pilih karena membawa keselamatan dunia dan akhirat. Islam mengajarkan  bahwa kehidupan menusia memiliki kehormatan. Maka penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, perempuan dan orang tua serta masyatakat yang tidak terlibat dalam pertikaian, tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau dibiarkan hanya menjadi angka statistik tanpa kendali nyata.  

Umat Islam tidak boleh tertipu dengan propaganda negara kafir yang mereka programkan (BOP dan New Gaza), karena semua itu hanya semu untuk kemerdekaan Palestina. Berdamai dengan entitas Zionis Israel hukumnya haram. Menegakkan jihad melawan entitas Zionis  Israel hukumnya fadhu kifayah atas seluruh umat Islam. Ketiadaan pemimpin dalam Islam ini membuat umat Islam tidak bisa berbuat banyak untuk menegakkan jihad secara sempurna.  

Kita sebagai umat Islam sudah sejatinya terus-menerus mengingatkan terkait penghianatan penguasa muslim, serta selalu mengajak seluruh umat untuk fokus pada perjuangan menegakkan kepemimpinan Islam, agar bisa menjadi junnah (perisai) bagi rakyat Palestina dan seluruh umat Islam. Bersatunya umat di bawah kepemimpinan Islam adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah, umat tidak akan mudah tertipu dan terpecah belah serta dijajah oleh musuh-musuh Islam. Wallahu a’lam.

Posting Komentar

0 Komentar