Oleh: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.
Pemerhati Masalah Sosial dan Politik
Bulan ini kita kembali memperingati Hari Santri Nasional. Tema Hari Santri 2026 adalah "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Saya tertarik menulis tentang hal ini karena dua anak saya juga bersekolah di pondok pesantren. Tentu karena saya ingin anak-anak saya menjadi muslim yang jauh lebih baik dari saya. Ada harapan besar juga kelak mereka menjadi penerus perjuangan membangun peradaban mulia di masa depan.
Membahas tentang tema Hari Santri Nasional tahun ini, saya cukup tercenung. Ada pertanyaan besar melintas di benak: mampukah santri menguatkan negeri jika sistemnya sendiri melemahkan santri?
Jika kita jujur melihat fakta hari ini, negeri ini sedang sakit. Ada kebodohan, ada kemiskinan, ada korupsi, ada ketidakadilan, ada kesenjangan, ada perpecahan, ada kerusakan lingkungan, ada penyalahgunaan teknologi, dan ada krisis keteladanan.
Ini bukan sekadar masalah individu. Ini sudah menggejala, menjadi masalah sistemik. Tidak mungkin masalah sebesar ini hanya karena individunya kurang ngaji. Ini karena sistem aturan yang salah.
Akar dari semua kerusakan ini adalah penerapan sekularisme. Agama dipisah dari kehidupan. Islam hanya boleh di masjid dan pesantren, tapi tidak boleh mengatur negara, ekonomi, dan politik.
Di sisi lain, santri dipahamkan agama Islam secara mendalam di dalam pesantren. Namun ketika keluar, mereka dihadapkan kepada sistem kehidupan yang sekuler. Pergaulannya sekuler, ekonominya kapitalis, politiknya liberal, hukumnya tidak berlandaskan syariat.
Bagaimana mungkin santri mewujudkan Indonesia Emas? Indonesia Emas yang kita cita-citakan adalah negeri yang kuat, di mana orang lemahnya tidak ketinggalan, kekuasaan dijalankan sebagai amanah, dan kemakmuran dirasakan oleh rakyat. Namun hal demikian tidak akan pernah terwujud dengan sistem sekuler.
Tantangan lain yang juga dihadapi santri hari ini adalah pendangkalan identitas. Melalui penderasan moderasi beragama dan nasionalisme, peran strategis pesantren sebagai lumbung calon ulama masa depan justru terdegradasi. Santri diarahkan untuk menjadi penjaga tradisi, bukan menjadi pemimpin perubahan, apalagi pembangun peradaban.
Akibatnya, Hari Santri yang diperingati setiap tahun belum memberikan perubahan signifikan untuk negeri. Seremonialnya ada, tapi perubahan kualitas generasinya belum terasa.
Padahal, pesantren adalah institusi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengasah karakter santri untuk menjadi insan yang bermanfaat. Dalam sejarah kejayaan Islam, ulama adalah sekaligus cendekiawan, ilmuwan, dan pemimpin peradaban. Pendidikan di pesantren seharusnya mencakup antara penguasaan ilmu agama dan keterampilan teknologi, seperti masa keemasan Islam dulu.
Kita harus ingat, penetapan Hari Santri berawal dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Semangatnya adalah jihad karena Allah SWT, bukan sekadar nasionalisme. Santri harus memiliki mental pembelajar sekaligus pejuang, karena akidah Islam menuntut perjuangan dan pengorbanan. Begitulah teladan Rasulullah SAW dan salafus shaleh. Sunatullah, pengemban kebenaran pasti akan berhadapan dengan kebatilan.
Maka, membentuk santri masa kini menjadi generasi Qur'ani tidak cukup hanya dengan menambah jam hafalan. Generasi Qur'ani adalah generasi yang menjadikan Al-Qur'an sebagai aturan hidup secara menyeluruh. Karena Islam bukan hanya soal ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji, tetapi juga soal pengaturan kehidupan publik seperti politik, pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Keberkahan suatu negeri, Indonesia Emas yang hakiki, hanya bisa didapatkan jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai negara. Di sanalah peran santri yang sesungguhnya. Bukan hanya menjaga negeri, tapi mengubah negeri dengan Islam, mewujudkan negeri yang kuat karena diatur dengan aturan yang kuat dari Allah SWT.
Itulah makna menjadi santri penguat negeri yang sebenarnya. Wallahualam.


0 Komentar