Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Tugu Titik Nol Kilometer Surabaya, Destinasi Wisata Baru di Surabaya



Selama ini Titik Nol Kilometer Surabaya tidak terlalu diketahui orang. Menurut info lokasinya berada di dalam area gedung Gubernuran, hanya saja posisi titiknya belum juga saya temukan. 
Ketika di daerah lain tugu titik nol dibuat memukau, milik Surabaya malah keberadaannya tidak terendus. Bahka berkali-kali mencoba cari keberadaannya dari luar pagar gedung gubernuran saya tidak jua menemukan. Jan’jane panggone nang endi, sih, yo?
Hingga suatu hari ada kabar Gubernur Jawa Timur, Pakdhe Karwo, meresmikan Tugu Titik Nol Kilometer Surabaya yang dibarengi dengan tanggapan wayang kulit semalam suntuk.
Wah, benarkah Surabaya sudah memiliki Tugu Titik Nol Kilometer?

Dari Karapan Sapi hingga Reog Ponorogo

Jika teman-teman melalui jalan Pahlawan, setelah jembatan viaduk, menolehlah ke kiri maka akan tampak kemegahan Tugu Nol Kilometer Surabaya.
Posisinya berada di tikungan gedung Gubernuran, sangat mudah terlihat oleh pengendara kendaraan.
Saya pun turut memarkir motor tepat di depan latar tugu yang berwarna perak. Selain saya banyak sekali pengendara lain yang juga turut mengabadikan diri dan berselfie ria di sana.
Sejenak, saya melihat penanda nol kilometer Surabaya merupakan perpaduan kesenian khas jawa Timur. Dari kiri patung Karapan Sapi, lalu diikuti Tari Remo dan Tari Gandrung, dan di ujung kanan terdapat penampakan Reog Ponorogo.
Kombinasi 4 kesenian Jawa Timur di atas diatur sedemikian rupa oleh pemahat dari Bali yang juga seniman Garuda Wisnu Kencana, yaitu I Nyoman Nuarta.
Di bagian bawah patung kesenian terdapat kolam air yang didalamnya ada ikan berenang berukuran cukup besar. Area ini jadi spot favorit anak-anak sambil disuap Ibunya makan sore. Praktis orang dewasa harus sabar kalau ingin berfoto dalam keadaan clear.
Dari sekian pahatan kesenian, rupanya belum membuat rupawan tugu ini. Untuk lebih menampakkan keJawatimurannya, di atas kolam air dilengkapi dengan penghargaan yang pernah di raih Propinsi Jawa Timur yang dibuat seakan-akan mengapung.
Secara keseluruhan Tugu Titik Nol Kilometer Surabaya sangat bagus dan cocok jadi destinasi wisata baru di Surabaya. Lokasinya strategis dan mudah diakses. Setelah itu teman-teman bisa langsung melanjutkan itinerary ke Tugu Pahlawan sekaligus Museum 10 Nopember.

Posting Komentar

0 Komentar