Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Islam Solusi Sistemik bagi Indonesia


FordokNews - Malang (20/10). Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDM-PB) edisi ke-3 telah terlaksana di Kota Malang pada Ahad (20/10) dengan mengambil tema "Negara dalam Krisis, Butuh Solusi Sistemik".

FDM-PB ini digelar di Ballroom salah satu hotel di kawasan Malang. Kapasitas ruang dengan 60 kursi nampak penuh oleh para profesor, doktor, dan magister dari berbagai disiplin ilmu. Mereka hadir antara lain dari: Malang, Surabaya, Jember, Bangkalan, Gresik, Blitar, Jombang, Sidoarjo, dan bahkan dari beberapa kota di luar Jawa Timur.

Tampil sebagai narasumber pembuka Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc., SH., MSi., Ekonom dan Pengamat Politik Ekonomi kawakan yang menyampaikan bahwa krisis yang menimpa Indonesia ini bukan datang tiba-tiba tetapi sudah berproses dan direncanakan sejak Indonesia baru merdeka.

“Jangan coba mengubah Kapitalisme dari dalam, (karena) itu omong kosong (mustahil)!”Tegasnya.

Noorsy mempertanyakan perihal tidak berbedanya program studi di perguruan tinggi Islam dengan yang tidak berlabel Islam, seharusnya berani meng-create ilmu yang berbasis Islam. Noorsy menyatakan siap adu ide karena beliau punya: filosofi, ideologi, teori, aplikasi dan bukti tentang ekonomi ideal dalam Islam.

“Dengan landasan Iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mari kita terus berusaha ber-perspektif Islam di semua bidang,” ajaknya.

Sementara narasumber kedua, Prof. Daniel M. Rosyid, PhD., M.RINA., pakar Pendidikan & Maritim menyampaikan bahwa sekolah saat ini justru menjadi alat “pendunguan” yang membuat siswa tidak sadar kalau sedang dijajah, dan agar siswa sabar untuk menjadi buruh pabrik.

Dalam pandangan Prof. Daniel, sistem pendidikan cenderung hanya menekankan realisasi, adapun tentang narasi sebagai manusia merdeka cenderung sudah habis.

“Solusinya perlu proses pembenahan melibatkan intelektual muslim dengan tawaran-tawaran solusi-solusi Islam saja,” pungkasnya.

Acara berlanjut dengan narasumber lain sebagai pemakalah, diantaranya: Dr. H. Fahmy Lukman, M.Hum., pakar Bahasa & Sastra; Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar, pakar Sistem Informasi Spasial dan Pakar Riset; Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila; Dr. Rudy Wahyono, SE., M.Si., pakar Ekonomi; Dr. Sucipto, M.P., pakar Kebijakan Agroindustri, dan Dr. N. Faqih Syarief H., M.Si. selaku pembaca pernyataan sikap. Forum yang dipandu Drs. Handono ini berlangsung lancar. Acara bermula pada pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB, termasuk sesi dialog-interaktif. [Ary/Ard]

Posting Komentar

0 Komentar