Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Islam Solusi Sistemik bagi Indonesia


FordokNews - Malang (20/10). Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDM-PB) edisi ke-3 telah terlaksana di Kota Malang pada Ahad (20/10) dengan mengambil tema "Negara dalam Krisis, Butuh Solusi Sistemik".

FDM-PB ini digelar di Ballroom salah satu hotel di kawasan Malang. Kapasitas ruang dengan 60 kursi nampak penuh oleh para profesor, doktor, dan magister dari berbagai disiplin ilmu. Mereka hadir antara lain dari: Malang, Surabaya, Jember, Bangkalan, Gresik, Blitar, Jombang, Sidoarjo, dan bahkan dari beberapa kota di luar Jawa Timur.

Tampil sebagai narasumber pembuka Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc., SH., MSi., Ekonom dan Pengamat Politik Ekonomi kawakan yang menyampaikan bahwa krisis yang menimpa Indonesia ini bukan datang tiba-tiba tetapi sudah berproses dan direncanakan sejak Indonesia baru merdeka.

“Jangan coba mengubah Kapitalisme dari dalam, (karena) itu omong kosong (mustahil)!”Tegasnya.

Noorsy mempertanyakan perihal tidak berbedanya program studi di perguruan tinggi Islam dengan yang tidak berlabel Islam, seharusnya berani meng-create ilmu yang berbasis Islam. Noorsy menyatakan siap adu ide karena beliau punya: filosofi, ideologi, teori, aplikasi dan bukti tentang ekonomi ideal dalam Islam.

“Dengan landasan Iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mari kita terus berusaha ber-perspektif Islam di semua bidang,” ajaknya.

Sementara narasumber kedua, Prof. Daniel M. Rosyid, PhD., M.RINA., pakar Pendidikan & Maritim menyampaikan bahwa sekolah saat ini justru menjadi alat “pendunguan” yang membuat siswa tidak sadar kalau sedang dijajah, dan agar siswa sabar untuk menjadi buruh pabrik.

Dalam pandangan Prof. Daniel, sistem pendidikan cenderung hanya menekankan realisasi, adapun tentang narasi sebagai manusia merdeka cenderung sudah habis.

“Solusinya perlu proses pembenahan melibatkan intelektual muslim dengan tawaran-tawaran solusi-solusi Islam saja,” pungkasnya.

Acara berlanjut dengan narasumber lain sebagai pemakalah, diantaranya: Dr. H. Fahmy Lukman, M.Hum., pakar Bahasa & Sastra; Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar, pakar Sistem Informasi Spasial dan Pakar Riset; Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., pakar Sosiologi Hukum dan Filsafat Pancasila; Dr. Rudy Wahyono, SE., M.Si., pakar Ekonomi; Dr. Sucipto, M.P., pakar Kebijakan Agroindustri, dan Dr. N. Faqih Syarief H., M.Si. selaku pembaca pernyataan sikap. Forum yang dipandu Drs. Handono ini berlangsung lancar. Acara bermula pada pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB, termasuk sesi dialog-interaktif. [Ary/Ard]

Posting Komentar

0 Komentar