Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

MIRIS!!!, Hanya 22% Mahasiswa UNEJ Terpapar Radikalisme ?


Oleh: Ghea RDyanda

LP3M Unej merilis sebuah hasil pemetaan terkait mahasiswa terpapar radikalisme.  Dalam sebuah forum diskusi di festival HAM, Akhmad Taufik selaku ketua LP3M menyampaikan setidaknya ada sekitar 22% mahasiswa UNEJ terpapar radikalisme.

Lebih lanjut, jika diderivasi lagi ada sekitar 25% terpapar radikalisme teologis (setuju dengan pengkafiran, qital, dan jihad) dan 20% terpapar radikalisme politis (setuju dengan konsep negara Islam atau Khilafah).

Meski pemberitaan ini bersifat internal, dan dilakukan sekitar akhir tahun 2017 sampai awal 2018. Pernyataan ini dibenarkan oleh BNPT, bahkan trennya cenderung meningkat dibanding data tersebut.

Pernyataan ketua LP3M UNEJ, yang mengungkapkan bahwa data 22% itu adalah data mahasiswa yang memiliki benih-benih pemikiran radikal tentunya patut untuk dikritisi.

Pasalnya, parameter yang digunakan adalah terkait kesadaran mahasiswa untuk berislam secara total atau kaffah. Dalam parameter itu, disebutkan tentang kesetujuannya terhadap pengkafiran.

Jika yang dimaksud dengan pengkafiran disini adalah menyatakan orang diluar Islam adalah kafir, tentu ini termasuk dalam ajaran Islam. Beda hal dengan mengkafirkan orang Islam. Jika orang Islam tersebut hanya melakukan perbuatan fasik saja dan tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam maka menyatakannya sebagai orang yang kafir adalah sesuatu yang salah dan tidak patut untuk dibenarkan.

Pun demikian dengan parameter lain seperti setuju jihad, qital, atau khilafah. Kesemua hal tadi adalah ajaran Islam. Penyimpangan terhadap makna atau perbuatan yang mengatasnamakan jihad atau qital padahal dari faktanya itu adalah teror misalnya tidak lantas menjadikan hukum jihad, qital, atau mungkin Khilafah menjadi haram atau tidak berlaku.

Hukum tersebut tetap ada, bahkan menjadi sebuah prioritas diantara kewajiban yang ada. Utamanya ketika dibutuhkan seperti saat ini.

Kesadaran mahasiswa terhadap Islam, seharusnya diapresiasi dan membawa kegembiraan bukan malah dianggap sebagai parameter radikalisme. Justru ini semakin menguatkan dugaan bahwa rezim ini memang anti Islam.

Apalagi, program utama rezim ini hanya berkutat seputar radikalisme. Sementara problematika lain yang urgen untuk diselesaikan justru diabaikan. Semakin melekatlah label anti Islam itu pada rezim ini.

Posting Komentar

0 Komentar