Home

News update : FDMPB—Upaya konstruksi sejarah Islam di Nusantara kini menemukan momennya. Apalagi bersamaan dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah 1442 H. Kajian mendalam dan kritis ini mendapat perhatian luas. Khususnya dari Intelektual Muslim Indonesia yang berhimpun dalam Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB). Akhirnya, FGD Online kelima diadakan Sabtu (29/8/2020) Pukul 08.00-11.30 WIB. Menghadirkan Intelektual yang berkompeten dibidangnya, di antaranya: Prof Dr-Ing Fahmi Amhar (Cendekiawan Muslim dan Peneliti), Dr Ahmad Sastra, MM (Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor), Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA. (Guru Besar Pemikiran Islam UIN Ar Raniry Aceh), Drs. Moeflich Hasbullah, MA (Sejarawan Muslim dan Dosen), Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd (Sejarawan dan Penulis Buku Trilogi Revolusi Islam), dan Septian AW (Sejarawan Muda Komunitas Literasi Islam). Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

SYAIKHONA KHOLIL, SUMBER MATA AIR ILMU DI BANGKALAN MADURA


shautululama – Bangkalan. KH. Abdul Lathif yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati, sangat gembira hatinya saat kelahiran putranya yang diberi nama Muhammad Kholil pada 11 Jumadil Akhir 1235 H (27/01/1820) di Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan. Yang kemudian kelak lebih dikenal Mbah Kholil atau Syaikhona Kholil, Al-'Alim al-'Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif Basyaiban al-Bangkalani al-Maduri asy-Syafi'i.

Masyrab atau tempat minum ilmu pengetahuan (berguru) Kholil muda diawali belajar kepada Kyai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Dilanjutkan ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Berikutnya, pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi, sambil menjadi buruh batik. Secara bersamaan beliau belajar pula kepada Kyai Nur Hasan Sidogiri (7 kilometer dari Keboncandi).

Tidak afdhal kalau mereguk ilmu diniyah islamiyah kalau tidak di Tanah Suci. Keinginan menuntut ilmu ke tanah suci ini mengantarkan Kholil muda menuntut ilmu di sebuah pesantren di Banyuwangi yang memiliki kebun kelapa yang luas, Lagi-lagi, kegiatan berguru, juga disambi dengan bekerja sebagai buruh di kebun kelapa, yang hasilnya ditabung untuk pergi belajar di tanah suci.
Beberapa guru Kholil muda di Mekah antara lain Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten), Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.

Pulang ke tanah air, mengamalkan ilmunya sebagai ahli ilmu fikih, ilmu nahwu dan thariqat dengan mendirikan pesantren di Cengkubuan, tidak jauh dari tanah kelahirannya di Bangkalan Madura. Sesama alumnus Mekah, KH. Kholil lebih dituakan dan ditahbiskan sebagai guru dari KH. Ahmad Dahlan (pendiri Ormas Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Ormas Nahdlatul Ulama). Pesantren di Cengkubuan diserahkan kepada menantu (yang masih keponakan) Kyai Muntaha, Mbah Kholil mendirikan pesantren lagi di Kademangan (pusat kota Bangkalan).

Hal itulah yang menjadikan Syaikhona Kholil sebagai mata air pengetahuan kedua Ormas Islam yang kelak di kemudian hari menjadi arus utama pemikiran di tanah Jawa, bahkan Nusantara. Ibarat aliran sungai yang memberi banyak manfaat bagi daerah yang dilalui arus sungai tersebut, Syaikhona Kholil adalah asal mata airnya. Aliran air pengetahuan telah mengairi  mulai dari Asembagus Situbondo, Bondowoso, Jember, Genggong Probolinggo, Sidogiri Pasuruan,Tebuireng Jombang, Buduran Sidoarjo, Maskumambang Gresik, Liboyo Kediri, Rembang, Krapyak Yogya, sampai Tasikmalaya.

Dari sisi karya ilmiah sebagai bukti keulamaannya, dua kitab karya Syaikhona Kholil kitab _Ilmu Qawaid I’rab_ (semacam nazam dari kitab _Mughni al-Labib Ibnu Hisyam)_ dan kitab _Isti’dad al-Maut_ (berisi fikih jenazah). Dua kitab inilah yang sudah diterbitkan oleh Dzuriyah Syaikhona Kholil (Lajnah _Turats Ilmi_ Syaikhona Kholil). [] rif

Posting Komentar

0 Komentar