Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

DIALOGIKA GEMA PEMBEBASAN UNAIR: RESOLUSI 2020; GERAKAN MAHASISWA-PEMUDA UNTUK PERSATUAN UMAT


Pojokkota.com, Surabaya – GP Press. Gema Pembebasan Komisariat Unair Raya kembali mengadakan Dialogika bertajuk “Resolusi 2020: Gerakan Mahasiswa-Pemuda Untuk Persatuan Umat”, pada Ahad (8/12/2019) pukul 19.00 WIB di Surabaya. Forum diskusi yang dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya ini mengundang Bung Dwi Agus, Bung Fajar Habibullah, dan Bung Anas yang merupakan aktivis mahasiswa dan pemuda Surabaya. Dialogika kali ini mengulas balik peran pemuda/mahasiswa di tahun 2019 dan memprediksi potensi perubahan di tahun mendatang.

Bung Dwi Agus sebagai pemantik pertama menyampaikan bahwa pemuda menduduki peran penting dalam kebangkitan suatu peradaban. “Kebangkitan peradaban di mana pun tempatnya tidak luput dari peran pemuda”, tegasnya. Pemantik memberikan contoh pemuda-pemuda yang menjadi pelopor perubahan peradaban, misalnya Salahuddin Al-Ayyubi. Juga Muhammad Al-Fatih yang di usia mudanya mampu menaklukkan Konstantinopel. Kontras dengan kondisi saat ini, menurut pandangannya, pemuda hari ini cenderung individualis, apatis, cuek, dan tidak peduli dengan masyarakatnya. Pemuda hari ini telah dijajah dan dikendali  model-model baru penjajahan barat dengan dilemahkan pikirannya melalui media sosial dan game online.

Sejalan dengan Bung Dwi, Bung Fajar yang memotret fenomena mahasiswa membenarkan hal tersebut. Mahasiswa hari ini tidak memiliki konsep perubahan yang jelas karena hanya pragmatis dengan kondisi minim pemikiran revolusioner. “Kita lihat saja di sekitar kita, apakah teman-teman kita mahasiswa memang memahami perubahan yang sebenarnya seperti apa? Apakah hari ini mahasiswa memang memiliki misi untuk belajar atau hanya kerjaannya tidur-tiduran?”, tanya retoris Bung Fajar.

Lebih jelas Bung Anas mencoba menggambarkan kondisi ril di kampusnya, bahwa kampusnya yang notabene didominasi laki-laki karena memang kampus teknik cenderung individualis, juga memiliki ego yang kuat karena terbiasa belajar mandiri dengan tugas-tugasnya. Dia menilai karena memang di tengah-tengah mahasiswa kampus tidak ada pemantik yang mampu mempersatukan mereka. Mereka hanya disibukkan untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan bergaji tinggi.

Untuk meningkatkan persatuan pemuda/mahasiswa diperlukan penyadaran dan perubahan paradigma pemuda dalam melihat perubahan. Pemuda harus diarahkan pada kesadaran diri akan perubahan, terutamanya perubahan ke arah yang benar, yakni Islam sebagai pemersatu umat. Tidak hanya peran individu, sistem keluarga, lingkungan, serta pendidikan juga memegang peran penting dalam mendorong percepatan perubahan tersebut. Negara pun harus hadir dalam membentuk sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada materi, tapi mampu membangkitkan kesadaran perubahan peradaban tersebut. Pemuda harus menyadari sebagai makhluk berakal, tidak seharusnya menjadikan pendidikan hanya sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan, namun mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat demi terwujudnya perubahan menuju perubahan yang hakiki, yakni dengan Islam. [esp]

Posting Komentar

0 Komentar