Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

PROYEKSI 2020: MENAWARKAN ISLAM UNTUK INDONESIA GEMILANG


Sumenep --- Hari Ahad kemarin tanggal 12 Januari 2020, Forum Masyarakat Peduli Negeri (Formasi) Sumenep menggelar acara Bincang-bincang Interaktif bertajuk "Refleksi 2019, Proyeksi 2020, Islam untuk Indonesia Gemilang". Hadir sekitar 80 undangan tokoh & masyarakat lintas organisasi & profesi memenuhi ruangan pertemuan tersebut.

Acara yang berlangsung di Kafe Rotiku ini menghadirkan tiga narasumber kawakan yang berlatar belakang lintas profesi. Narasumber pertama adalah seorang da'i muda dan pemerhati sosial dari Jember, yakni Ustadz Hutri, yang saat itu  sedang ada agenda safari dakwah di Sumenep. Pada kesempatan itu beliau mengungkapkan bahwa tahun 2019 Indonesia masih diliputi oleh banyak problem, kehidupan masyarakat yang rusak terutama di kalangan generasi muda, dekadensi moral merajalela dimana-mana. Menurutnya itu akibat dari penerapan sistem sekularisme dan liberalisme di Indonesia. Sebuah sistem hasil impor dari kultur sejarah dan peradaban barat. Beliau mengungkapkan jalan perubahan ke depan harus kembali pada jalan Islam, apalagi saat ini mayoritas anak muda adalah dari kalangan muda muslim yang tak punya beban sejarah, bersemangat, dan produktif. Dan itu merupakan bentuk bonus demografi, pungkasnya.

Pemateri kedua adalah seorang intelektual muda yang kompeten di bidang ekonomi & moneter, Aang Kunaifi, M.EI, dosen STAI Al Khairat Pamekasan. Beliau menuturkan tentang kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2019 yang sangat memburuk. Layanan pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan secara berkeadilan masih terasa sangat timpang. Ada monopoli ekonomi secara sistemik oleh para kapitalis, sementara mayoritas rakyat justru diperah dengan banyak kebijakan dzalim. Kondisi ini harus segera dirubah. Dan tidak ada jalan perubahan menuju Indonesia lebih baik, kecuali tinggalkan kapitalisme dan terapkan sistem ekonomi Islam.

Pemateri terakhir adalah seorang analis dan pemerhati sosial politik tanah air dari Sumenep, Ibnu Rusydi. Beliau menyempurnakan paparan pemateri sebelumnya, bahwa semua persoalan baik kerusakan moral yang marak terjadi di tengah masyarakat, kondisi ekonomi yang terus memburuk, kebijakan politik yang banyak menindas serta berbagai problem negeri ini adalah akibat dari penerapan sistem demokrasi yang berbasis pada asas kebebasan dan sekularisme. Dimana penguasa hanya bekerja pada kepentingan para pengusaha, terutama pengusaha asing. Dan tak peduli dengan nasib rakyat. Sudah saatnya negara & bangsa ini mengambil tawaran Islam untuk menata negara ini menuju negara gemilang yang pada saatnya mampu bahkan memegang kendali peradaban dunia dalam kepemimpinan Islam rahmatan lil alamin

Penyampaian para pemateri telah mampu menggairahkan forum. Para peserta antusias dan banyak melemparkan pertanyaan dan harapan, semoga di tahun-tahun mendatang, Indonesia bangkit dengan Islam menjadi negeri baldatun thayyibatun warabbun Ghafur. [MH]

Posting Komentar

0 Komentar