Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

FGD Online Tokoh Nasional disaat Pandemi, Solusi apa yang mereka rumuskan?


PKAD News - Surabaya

Social distancing meniscayakan ketiadaan kerumunan massa, termasuk untuk kegiatan ilmiah seperti Focus Group Discussion. FGD (04/04) pandemi Corona yang diselenggarakan PKAD (Pusat Kajian dan Analisis Data) bertemakan 'Kebijakan Penanganan Corona dan Implikasi Terhadap Ipoleksosbudhankam' juga telah bermigrasi ke online dengan memanfaatkan 'meeting Zoom' yang diamplifikasikan secara live streaming via Youtube dan Facebook.

Diskusi yang diikuti belasan pakar, profesor dan ilmuwan berlangsung bernas berkelas dengan 60 lebih partisipan. Narasumber nasional dari Bandung, Jakarta, Bogor dan terbanyak Surabaya dan ada yang 'join' dari Denpasar. Partisipan yang join lebih banyak lagi, dari berbagai kota-kota Jawa Timur seperti Gresik, Sidoarjo, Kediri, Malang, Pasuruan, Bojonegoro, Blitar bahkan ada Doktor dari Makassar. Baik dari kalangan dosen Unesa, Unair, ITS, Ubhara Surabaya, Unisa Sidoarjo, dari unsur tokoh masyarakat maupun berbagai lembaga think thank. Apalagi viewer Youtube, hampir mencakup seluruh Indonesia. Tercatat sebagai viewer Youtube secara live 13.590 orang, dengan komentar-komentar konstruktif dan dinamis. Dilengkapi lagi orang yang menonton via Facebook 859 orang.

Meeting Zoom diaktifasi pukul 08.30, satu persatu narasumber dan partisipan bergabung. Saling sapa dan saling lempar joke, seolah di antara mereka tanpa jarak, padahal terpisah di kota asal masing-masing. Duapuluh menit kemudian diskusi dibuka Slamet Sugianto sebagai host, diawali dengan video tayangan pengantar FGD.

Kesempatan pertama disampaikan oleh Ahmad Rusydan Ph.D. peneliti biologi molekuler postdoc fellow Harvard Medical School, memaparkan virologi covid-19 dan epidemiologinya.

Kritisme dari pengamat kebijakan publik disampaikan Muslim Arbi (Direktur Gerakan Perubahan) dan  Misbahul Huda, MBA (Ikatan Saudagar Muslim Indonesia).

Dari perspektif dampak ekonomi terwakili Ahmad Daryoko (eks DPP SP PLN dan direktur Indonesia Valuation for Energy and Infrastructure). Ditambahi di sesi akhir Dr. Ichsanudin Noorsy, pakar ekonomi, politik dan kebijakan publik, dengan paparan penuh data, menengarai adanya currency war di balik pandemi Corona.

Dari perspektif hukum, Dr. A. Chair Ramadhan dari HRS Centre, mengingatkan bahwa adanya darurat karantina kesehatan mengharuskan negara menjamin kebutuhan primer individu masyarakat. Prof. Suteki pakar sosiologi hukum dan filsafat Pancasila memaparkan konstruksi hukum dari ideologi dan aspek peraturan. Ketua LBH Pelita Umat Ahmad Khozinuddin mencermati PERPPU no 1 tahun 2020 yang bernuansa ekonomi, berpotensi memberikan kewenangan dana penanganan bencana ini untuk menambah hutang. Juga tidak akan disebut sebagai kerugian negara sehingga bebas dari gugatan PTUN.

Dari catatan perspektif media, Ainur Rafiq Sophiaan jurnalis dan akademisi ini mencermati berita covid-19 telah menenggalamkan berita berbagai carut marut politik sosial. Join juga penulis buku Anwar Jaelani dan Redaktur Pelaksana tabloid Media Umat Mujiyanto.

Dr. Ahmad Sastra dari Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa membahas dari aspek filosofis berbasis histori Islam dari masa ke masa. Dilengkapi juga oleh Bahrul Ulum sekretaris MIUMI Jatim.

Sesi terakhir presentasi Prof. Daniel M. Rosyid pakar kemaritiman dan peradaban meneropong dunia pasca covid-19 adalah dunia baru yang sudah berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Umat harus menjaga jarak dari peradaban kapitalisme yang mau ambruk dan collapse ini. Umat harus lebih keras mengadvokasikan Islam dengan percaya diri berhadapan dengan sekuler garis keras. Agus Maksum praktisi economy digital, menambahkan bahwa covid-19 telah menghantam kapitalisme dan derivatnya. Diaminkan oleh Prof. Fahmi Amhar pakar geo-spasial dan peradaban. Nantikan FGD online pada edisi-edisi berikutnya. [] rif

Posting Komentar

0 Komentar