Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Melawan Corona Dengan Semangat Iman


Oleh: Muhammad Amilurrohman, MT
(Pemerhati Politik)

Corona adalah makhluk Allah. Atas kehendak-NYA lah ia ada dan atas kehendak-NYA lah ia menjadi wabah dunia. Karenanya, menghadapi Corona tidaklah cukup hanya dengan pendekatan medis dan teknis semata-mata melainkan juga dengan pendekatan iman. Dengan begitu, setiap amal yang kita kerjakan tidak hanya bermanfaat melainkan juga berpahala, itu kuncinya.

Artinya, kita melakukan social distancing, menggunakan masker dalam berbagai kegiatan di luar rumah, membiasakan cuci tangan dan segala tindakan-tindakan preventif medis lainnya bukanlah semata-mata karena takut mati terpapar Corona, karena toh tanpa Corona pun kita akan meninggalkan dunia, melainkan karena ketaatan kita pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Kita lakukan berbagai tindakan preventif medis tersebut, semata-mata memenuhi perintah Rasulullah untuk menghindari orang yang terkena kusta. Begitu pulalah Corona, kita berusaha lari darinya dengan berbagai tindakan preventif yang sudah dirumuskan secara medis.

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ اْلأَسَدِ

Artinya: "Menghindarlah kamu dari orang yang terkena judzam (kusta), sebagaimana engkau lari dari singa yang buas." (HR Al Bukhari).

Inilah yang membedakan muslim dengan kafir. Tidaklah yang dilakukan seorang muslim melainkan dilandasi dengan iman sehingga bernilai ibadah. Ini yang memberikan nilai plus bagi muslimin, sehingga tidak hanya sehat dan terlindung dr berbagai macam penyakit termasuk Corona melainkan juga mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

Inilah yang akan membentengi kaum muslimin berlebihan dalam menyikapi wabah ini. Tidak terlalu takut sehingga tidak berani berjamaah di masjid sementara warga di kampungnya tidak ada yang teridentifikasi ODP, PDP, apalagi positif Corona. Tidak terlalu berani sehingga cenderung meremehkan dan tidak melakukan berbagai macam tindakan preventif baik secara individual maupun komunal.

Cukuplah negara Amerika menjadi contoh yang nyata, betapa segala kecanggihan teknologi kesehatan yang dimiliki tidak mampu secara efektif membendung wabah ini membunuh tujuh puluh ribuan warganya dari sejuta lebih warga yang positif corona. Hal itu lebih disebabkan karena keangkuhan akan kemajuan teknologi menjadikan masyarakat tidak begitu peduli dan cenderung menantang wabah ini tanpa tindakan preventif - masker, social distancing, kebersihan diri. Apalagi hidup sudah terbiasa bebas berbuat apa saja demi memenuhi nafsu syahwat menjadikan banyak warga tidak bisa bersabar menjalani lockdown meski dapat jaminan. Ditambah lagi sikap individualistis yang sudah menjadi karakter banyak warganya sehingga hilanglah kepedulian sosial dimana yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah.

Berbeda dengan negeri kita. Meski kalah jauh teknologinya, dampak wabah tidaklah lebih parah dari negara adidaya. Hal itu karena negeri ini mayoritas muslim yang memang sejak dahulu mengajarkan kesucian dalam keseharian dan ibadah kita, mendidik kepedulian sosial di tengah-tengah masyarakat kita dalam segala keadaan. Maka, ketika wabah ini melanda negeri ini, masyarakat sudah memiliki ketahanan diri dan sosial yang rupanya lebih efektif mencegah persebaran wabah. Hanya karena Political Will rezim negeri ini yang tidak berangkat dari spirit imanlah yang membuat penanganan wabah menjadi lamban bahkan cenderung memanfaatkan keadaan mengeluarkan kebijakan yang sangat berpotensi menjadikan anggaran negara jadi 'bancaan' para penjahat politik.

Maka jangan biarkan ada setitik rasa angkuh, menganggap enteng wabah ini, lantas kita lalai berpegang pada tindakan preventif yang memang diajarkan oleh nabi. Jangan sampai kita salah menempatkan mana amal hati mana amal perilaku. Ketidaktakutan pada Corona dan hanya takut pada Allah itu amal hati, sementara segala tindakan preventif itulah amal perilaku. Keduanya harus berjalan beriringan.

Semoga dengan begitu, setiap amal yang kita kerjakan bernilai ibadah. Dan semoga, selepas kita melewati ujian wabah ini, kita menjadi insan-insan yang semakin bertaqwa. Sebab tidaklah suatu wabah itu diturunkan melainkan agar kita kembali ke jalan Allah.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
[Surat Ar-Rum, Ayat 41]

Mari kita tingkatkan kedekatan kita dengan Allah melalui amal hati dan amal perilaku kita, agar meningkatkan akselerasi diangkatnya wabah ini dari negeri yang kita cintai.

Posting Komentar

0 Komentar