Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Halal Bi Halal 1441 H MT An-Nashr Gubeng


Surabaya – Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, Majelis Taklim An-Nashr Gubeng Surabaya menggelar acara halal bi halal 1441 H secara daring menggunakan aplikasi zoom dan disiarkan live streaming melalui youtube pada Jumat (19/6), dimulai pukul 19.00 WIB. Acara yang mengambil tema "Semangat Syawal: Tangkal Korona, Tingkatkan Amal" menghadirkan dr. Dedy Setiawan (Member of HELP-Syariah), Ust. Muis Karim (Pendiri Pesantren Hararatul Iman), dan Ust. H. M. Ihsan Abdul Djalil (Kabid Pendidikan Mahad Syaraful Haramain) ini dihadiri berbagai kalangan dari berbagai daerah di Indonesia. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Ust. Eko Surya selaku MC, diikuti pembacaan Al-Quran oleh Ust. Abu Yazid, dan sambutan oleh Ust. H. Soeprajogi selaku Ketua Majelis Taklim An-Nashr.

dr. Dedy menjadi pembicara pertama yang mengangkat tema “Tantangan Kasus COVID-19 di Indonesia”. Dokter yang aktif berpraktik di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini mengawali paparannya dengan menjelaskan bahwa hampir seluruh kamar di RSUD Dr. Soetomo diisi oleh pasien-pasien yang terkonfirmasi korona. Dokter yang masih menempuh studi spesialis ini juga menilai bahwa kebijakan new normal yang digulirkan pemerintah tidak tepat. “Kebijakan new normal ini menunjukkan bahwa pemerintah dalam kondisi bingung. Tidak ada jaminan bahwa dengan new normal jumlah pasien akan berkurang”, paparnya. dr. Dedy mengingatkan untuk sebisa mungkin tidak keluar rumah. Kalaupun keluar rumah menggunakan masker dan menjaga jarak 1-2 meter.

Ust. Muis Karim hadir sebagai pembicara kedua. Dalam menghadapi corona, beliau menegaskan dua hal. Pertama, membangun kesyukuran. Islam dapat memberikan pahala tanpa berbuat apa-apa dalam dua kondisi, yaitu kondisi orang-orang berusia lanjut dan di dalam kondisi kesulitan. Dikaitkan dengan fenomena korona, dengan kerelaan menerima kondisi yang ada dapat menjadi pahala bagi orang yang menerimanya. “Wabah ini bisa bermakna dua hal. Siksaan bagi orang kafir atau rahmat bagi orang bertakwa”, tegasnya. Yang kedua, agar meningkatkan kecerdasan. Kesyukuran tidak cukup tanpa adanya kecerdasan dalam menghadapinya.

Sebagai pembicara akhir, Ust. H. M. Ihsan Abdul Djalil mengingatkan bahwa apapun yang diciptakan oleh Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Begitu pula hadirnya virus Covid-19. Korona menjadi ujian bagi orang saleh dan menguji kesabaran bagi umat Islam. Korona juga menjadi bukti kebesaran Allah SWT dan ketidakberdayaan manusia. “Negara-negara super power seperti Amerika pun tak berdaya menghadapi korona”, contohnya. Bagi mereka yang telah terkena korona diharapkan bersabar atas kondisi ini. Penanganan diperparah dengan tiadanya keseriusan dari pemerintah dalam menanggulangi persebaran korona. Pemerintah tidak menaruh perhatian yang lebih terhadap kesehatan namun justru berfokus pada kestabilan ekonomi. Hal ini menunjukkan kebobrokan dari penerapan sistem kapitalisme. (esp)

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Alhamdullillah, benar-benar menggugah dengan adanya pandemi ini justru memberikan semangat untuk terus mendakwahkan syariah dan khilafah.

    BalasHapus