Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

INSIGHT #50 PKAD: “MAU SEKOLAH MASIH WABAH. SOLUSINYA BAGAIMANA?”

 


PKAD—Miris saat ini sistem pendidikan menjadi dampak terbesar dari pandemi. Di sisi lain pembangunan karakter siswa yang berakhlak mulia perlu diperhatikan. Mampukah sistem pendidikan ala pandemi ini menjawab kekhawatiran lost generation di masa mendatang.


“Karakter anak tidak tergantung guru, tapi juga orang tua dan masyarakat ikut andil dalam membangun karakter” Tutur Dr Hafidz Widodo, S.Pd, M.Pd, dalam mengisi [Live] Insight #50 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) (19/07/2021). 


Dosen Pendidikan Luar Sekolah di Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa ini pun menambahkan bahwa pendidikan luar sekolah saat ini berperan sangat penting, hal ini dikarenakan anak akan belajar langsung dari lingkungannya yang hakiki. Yakni keluarga. Pada dasarnya peran sekolah hanya membantu, tugas utamanya adalah orang tua.


Pro-kontra akan pembelajaran tatap muka dikala pandemi ini menjadi perhatian serius. Bukan hanya bagi sekolah sebagai penyelenggara saja. Namun bagi guru belajar secara daring ini tidak lebih hanya sebatas transfer of knowledge. Tidak ada kontrol sikap dan keterampilan yang dapat dinilai dari siswa. Hal ini disampaikan Hafidz disela-sela diskusi virtual yang bertemakan “MAU SEKOLAH MASIH WABAH. SOLUSINYA BAGAIMANA?”


Tidak hanya Hafidz, hadir pula narasumber M. Romadhon, S.Pd yang menyatakan bahwa untuk mengubah karakter tidak bisa tergantikan oleh canggihnya teknologi, tetapi harus pula diadakan pembelajaran tatap muka yang keefektifan tidak bisa dipungkiri. 


“Disisi lain seorang guru pun harus meningkatkan kreativitas dan kompetensi dalam menghadapi segala permasalahan anak”, ungkap guru dari bengkel inspirasi dan edukasi. 


Dalam hal belajar anak sampai dengan dewasa, semakin tinggi usianya maka semakin tinggi pula tingkat kemandirian dalam belajar. Saat tingkat sekolah dasar masih tergantung kepada orang tua. Bukankah hal ini bernilai tinggi dihadapan Allah karena kesabaran, keuletan hati yang legowo dalam membinanya. 


Anggi Afriansyah, S.Pd., M.Si. sebagai Peneliti Sosiologi Pendidikan-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang menjadi salah satu narasumber pun mengungkapkan bahwa “pendidikan sebagai ekosistem saat pandemi ini tidak berjalan. Sehingga perlu diadakan asasment dari sekolah yang harus bersiap dengan segala infrastrukturnya. Lalu pengajarnya yang kompeten. Kesiapan orang tua dan anak dalam pembelajaran tatap muka atau jarak jauh. 


Dengan demikian ini adalah PR bersama untuk mengatasi potret buram pendidikan kala pandemi yaitu permasalahan guru yang kurang kompeten, peran tanggung jawab orang tua dalam mendisiplinkan anak dalam pembelajaran dengan segala keterbatasannya.Diskusi yang diadakan pusat kajian dan analisis data dalam chanel YouTubenya ini pun berjalan dengan sukses dan lancar.

Posting Komentar

0 Komentar