Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Praktisi Kesehatan Masyarakat Puguh Saneko Menilai Pemerintah Terkesan Abai Sejak Awal



PKAD—Puguh Saneko, S. KM, M. Kes, selaku Praktisi Kesehatan Masyarakat memaparkan bagaimana kondisi dilapangan selama pandemi. Ia menjelaskan bahwa virus covid-19 telah mengalami mutasi yang luar biasa menjadi varian baru, tidak memakan waktu lama dan kedepannya akan terjadi mutasi baru kembali.  


“Analisa saya pribadi, ini dimungkinkan akan terjadi varian terbaru lagi. Karena ketika virus itu banyak memapar orang, maka virus akan bersinggungan banyak materi genetik yang akan memicu virus untuk melakukan mutasi genetik. Sehingga akan muncul varian-varian baru lagi”, jelasnya dalam insight ke-57 Pusat Kajian Analisis Data (PKAD) : Demi Pandemi, Haruskah Salahkan Jokowi?, Rabu (04/8/2021) di kanal Youtube Pusat Kajian dan Analisis Data.


Dalam PKAD insight ke-57 juga menghadirkan beberapa tokoh seperti Adi Kurniawan (Ketua BARA NUSA Relawan Jokowi), Dr Suswanta, M. Si (Akademisi Dan Pengamat Kebijakan Publik), serta Puguh Saneko, S. KM, M. Kes (Praktisi Kesehatan Masyarakat)  yang menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan kebijakan yang ada terkait pandemi. Apakah semua disalahkan ke penguasa? Bagaimana nasib rakyat di tengah PPKM Berjilid-jilid? Adakah jalan keluar dari itu semua?


Puguh Saneko menilai perkembangan pengendalian pandemi yang terlihat saat ini terjadi virus bermutasi dengan cepat. Terdapat dua aspek yang patut menjadi perhatian, yaitu pada aspek masyarakat dan aspek pemerintah. Melihat pada aspek masyarakat, masih banyaknya yang tidak disiplin pada prokes. Disatu sisi ada juga masyarakat yang tidak mampu, terlebih yang harus bekerja dengan bertemu banyak orang. Banyaknya masyarakat yang dituntut kondisi dan masalah ekonomi sehingga harus keluar rumah.


Jika melihat aspek dari pemerintah, Puguh Saneko menyampaikan kekecewaannya. Sejak awal pandemi pemerintah terlihat “abai” dengan menganggap bahwa covid hanya ada di Wuhan, tidak akan bisa masuk ke Indonesia dan pendapat yang lainnya. “ini akan menjadikan para pemegang kebijakan itu kemudian abai, dan abai itu dilanjutkan dengan tidak memperketat pintu-pintu masuk perbatasan. Terbukti akhirnya covid betul-betul masuk ke Indonesia”, tambahnya.


Ia juga menilai setelah covid masuk pemerintah terkesan tidak ditindaklanjuti dengan melakukan mitigasi paparan. Seandainya segera ditindak untuk melakukan mitigasi paparan, maka tidak akan sampai menyebar ke seluruh negeri. “Jika saat itu langsung dilakukan mitigasi atau pengendalian paparan siapa yang melakukan kontak, atau minimal lockdown lokal dan dilakukan identifikasi siapa yang terpapar dan tidak, mungkin tidak akan menyebar ke seluruh negeri”. tegasnya.

Posting Komentar

0 Komentar