Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Bahaya Deforestasi di Negri Paru-Paru Dunia

PKAD--Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si yang merupakan koordinator LENTERA ( Kajian Strategis Perempuan) mengupas bahaya deforestasi di Negeri Paru - paru dunia. Nindira hadir dalam acara Insight #98 Pusat Kajian dan Analisis Data. Acara yang diselenggarakan pada Senin (8/11/2021) bertajuk "Klaim Deforestasi Indonesia Turun, Faktanya?"


Nindira menyampaikan bahwa "exploitasi hutan secara besar - besaran akan menimbukan bom waktu, yang tinggal menunggu waktu kapan meledaknya dan terjadi bencana". 


Beliau mempertegas walaupun bencana itu datangnya dari Allah, akan tetapi juga bisa terjadi karena tangan manusia. Seperti banjir bandang yang pernah terjadi di Kalimantan akibat pengalihan fungsi dan terjadi exploitasi besar - besaran.


Beliau juga menggambarkan "Perlu dibedakan pengelolaan hutan primer, dan sekunder". 


Hutan di Kalimantan merupakan hutan primer yang masih perawan yang dulunya merupakan paru - paru dunia. Akan tetapi saat ini tinggal sedikit dan diistilahkan oleh beliau "ngap - ngap". Seharusnya dijaga tidak diexploitasi besar - besaran.


Nindira juga memaparkan pandangan Islam terkait pengelolaan hutan. Di dalam hadist ada tiga hal yang berserikat yakni air, padang gembalaan dan api. Hutan termasuk kedalam padang gembalaan yang tidak boleh dimiliki oleh individu tapi untuk bersama. Beliau menambahkan berbeda dengan kapitalis, kapitalis akan terus mengambil hasil hutan karena dianggap modal.


Para kapital sebenarnya kebingungan juga melihat dampak hutan yang berkepanjangan. Seperti pengalihfungsian hutan diganti tanaman lain dan juga pembangunan infrastruktur berakibat akan menganggu produktivitas ekologi. Masing - masing tanaman memiliki fungsi yang berbeda. Apalagi pada hutan primer sehingga walaupun ditanami kembali produktivitasnya akan berbeda dengan sebelumnya. Perlu ada suatu komparasi alternatif untuk melihat problematika ini dari berbagai sisi sehingga dapat menyolusi tuntas ke akarnya bukan solusi pragmatis lagi.[]

Posting Komentar

0 Komentar