Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

FORMAT: Revitalisasi Peran Keumatan Kaum Muda

Setelah lama tidak menggelar kajian secara luring, Sabtu (30/10) bertempat di Camen Coffee Jl. Karang Menjangan No. 15 Surabaya, PIKNIK (Pikiran Inisiatif Kritis) mengadakan diskusi FORMAT (Forum Akal Sehat) Spesial Sumpah Pemuda 2021. Diskusi santai dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ini dimulai pukul 19.30 WIB. Diskusi yang dihadiri para peserta dengan berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pekerja, pendidik, dan aktifis ini mengundang tiga pembicara, yakni Bung Robin (Pegiat Muamalah Dinar-Dirham), Bung Dwi Agus (Da'i Muda Indonesia Jatim) dan Bung Naufal (Founder PIKNIK). 

Bung Robin sebagai pembicara pertama menyoroti pentingnya peran aktif pemuda dalam membawa perubahan khususnya dari sektor ekonomi. Sebagai seorang pedagang yang memahami kondisi di lapangan, beliau mengamati bahwa sistem perekonomian saat ini menjadi faktor utama sulitnya para pedagang mendapatkan perlakuan yang adil. Menurutnya, pemuda perlu mengambil peran dengan menawarkan dan menjalankan sistem perekonomian yang Islami, salah satunya diwujudkan dengan kembali menggunakan sistem uang dinar dan dirham.

Hadir sebagai pembicara kedua, Bung Dwi Agus mengingatkan kembali bahwa dalam perjalanan sejarah pemuda mempunyai peran sentral dari banyaknya perubahan di Indonesia hingga level dunia. Melalui sumpah pemuda, kita disadarkan bahwa kesadaran persatuan dan kesatuan perlu dibangun untuk mencapai tujuan besar. Para pemuda harus memiliki pemahaman, bersinergi, dan perlu bersatu untuk melakukan perubahan besar. Belajar dari aktivitas DMI, beliau menyoroti bahwa adanya perubahan harus hadir dari dalam diri setiap pemuda tersebut karena perubahan yang didasari pada keyakinan pribadi akan dapat bertahan lama.

Bung Naufal sebagai founder PIKNIK memiliki harapan dan pandangan bahwa fenomena hijrah yang mulai berkembang di masyarakat harus diarahkan. Tidak hanya pada urusan pribadi, tetapi pada terbentuknya pemikiran yang kritis dan analitis. Berangkat dari hal tersebut, beliau menginisiasi PIKNIK. Arah perubahan pemuda harus ditujukan pada perubahan pemikiran secara Islami, karena Islam menjadi satu-satunya solusi untuk menanggulangi kemerosotan umat saat ini. 

Diskusi dilanjutkan dengan tanggapan peserta diskusi. Penanggap pertama, yakni Bung Fajar mengingatkan bahwa pemuda harus terus bergerak tanpa menghiraukan stigmatisasi yang menyesatkan dan tidak berdasar, seperti stigmatisasi radikalisme. Selanjutnya, Bung Abu Yazid selaku pendidik menekankan perlunya kilas balik dan belajar pada perjuangan pemuda masa lalu, khususnya pemuda-pemuda di era Rasulullah yang memiliki kontribusi yang besar bagi Islam. Terakhir, Bung Afif selaku wakalah muamalah dinar dirham Surabaya mengingatkan agar pemuda memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan berdasarkan Islam. (esp)

Posting Komentar

0 Komentar