Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Tim FAKKTA: Persoalan Ekonomi Bukan Sekedar Ubah Rezim, Tapi Ganti Sistem



PKAD- Muhammad Ishak sebagai salah satu tim FAKKTA (Forum Analisis Kebijakan dan Transparansi Anggaran) menegaskan agar masyarakat dan seluruh komponen negeri ini untuk menjadi negeri yang kembali mandiri, independen hingga bahagia dunia dan akhirat hendaknya bukan sekedar ubah rezim tapi juga ganti sistem kehidupannya. Hal tersebut disampaikan ketika [LIVE] Insight #115 Spesial Parade Refleksi Akhir Tahun 2021 Pusat Kajian Dan Analisis Data yang bertajuk "Ekonomi Rakyat dan Sosial Keagamaan Masyarakat." ( Jum'at, 17/12/2021)


"Mau tidak mau ketika kita ingin kembali mulia, mandiri, serta independen dengan melepaskan ketergantungan impor pangan, melepaskan Sumber Daya Alam dari penguasaan inverstor asing, maka harus kembali pada syariat Islam. Bukan hanya bahagia di dunia tapi juga di akhirat," tegas Muhammad Ishak.


Beliau merefleksikan kondisi perekonomian 2021 negeri ini. Ada lima fakta yang berhasil dikumpulkannya sebagai refleksi ekonomi Indonesia hingga tawaran solusinya.


"Refleksi itu memantulkan, jadi saya akan menyampaikan lima refleksi berkaitan dengan perekonomian pada 2021 di negeri ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat. Kedua, tingkat kemiskinan masih tinggi sekali. Ketiga, tingginya utang negeri ini. Keempat, ketergantungan terhadap impor pangan masih tinggi padahal sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Kelima, peran swasta dalam sektor pertambangan masih dominan di negeri ini," jelas beliau seputar hasil refleksinya untuk ekonomi Indonesia pada 2021.


Lebih lanjut Muhammad Ishak juga menjelaskan bahwa persoalan yang dihadapi negeri ini bukan sebatas persoalan individu. Persoalan negeri ini buah dari sistem kehidupan liberalisme yang dilakukan para penguasanya.


"Persoalan yang kita hadapi termasuk buah dari sistem ditambah dengan penguasa yang korup, apatis terhadap rakyatnya. Penguasa lebih mementingkan diri sendiri, kelompoknya dan rakyat dibiarkan berjuang sendiri mengatasi masalah hidupnya. Adapun perdagangan dunia dikontrol WTO (World Trade Organization) yakni organisasi perdagangan dunia yang mendorong adanya liberalisasi perdagangan di negeri ini. Misalnya maraknya impor pangan mulai dari garam, kedelai hingga gula," tutur beliau.


Muhammad Ishak menekankan bahwa mengganti rezim bukan solusi atas persoalan negeri ini sesuai lima hasil refleksi perekonomian yang telah dirincinya tadi.


"Permasalahan kehidupan di negeri ini dipengaruhi oleh sistem baik level negara maupun global. Bukan sekedar ubah rezim karena rezim pelaksana aturan. Mau tidak mau kita harus kembali pada syariat Islam. Dimana saja ada syariat Islam pasti disitu ada kemaslahatan-kebaikan. Ketika kita meninggalkan Islam pasti ada kemudhoratan-kerusakan," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar