Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

DIALOGIKA: INDONESIA DARURAT LGBTQ+

Berlokasi di pojokan Gubeng Surabaya, pada sore 6 Desember 2022, GEMA Pembebasan Jawa Timur menyelenggarakan DIALOGIKA (Dialog Islam Kampus). Kali ini, mengangkat tema Indonesia Darurat LGBTQ+. Beberapa saat lalu, gempar rencana utusan resmi pemerintah AS, Jessica Stern akan berkunjung ke Indonesia setelah lawatannya ke Vietnam. Sontak saja para tokoh umat dan MUI menolak dengan keras. Begitu pula umat yang menyuarakan di sosmed. Hal tersebut menjadi bahasan menarik dalam dialog. 

Bung Chargin Strada A. dari PII Surabaya berpendapat, bahwa LGBTQ+ mencoreng naluri manusia. Seharusnya, manusia yang mempunyai naluri melanjutkan keturunan dilampiaskan ke lawan jenis, malah dilampiaskan ke sesama jenis. Jelas mencoreng naluri manusia. Begitu pula mencoreng etika di Indonesia yang berlandaskan agama. Juga secara psikologis, hal ini merupakan gangguan pada mental dan sosial. 

Selanjutnya, Bung Ahmad Fathoni, M.E. selaku Kepala Departemen Ekonomi Pemuda Hidayatullah mengejawantahkan pendapatnya, bahwa konsep LGBTQ+ bertentangan secara beragama, bernegara, dan berkemanusiaan. Secara beragama, seorang manusia sebagai hamba Allah mempunyai ketentuan yang harus dipatuhi. Pada pembahasan ini, laki laki yang ditakdirkan berjodoh dengan perempuan akan menghasilkan keturunan, bukan dengan sesama jenis. Begitu pula dengan manusia sebagai khalifah Allah di bumi, manusia diamanahi untuk mengatur dan memanfaatkan apa yang ada di bumi. Perilaku LGBTQ+ sangat bertentangan dengan sistem pergaulan manusia menurut Islam yang aturannya melarang hal itu. Secara bernegara, LGBTQ+ melanggar sila pertama dari Pancasila, di mana Indonesia merupakan negara berketuhanan dan konsekuen dengan berketuhanan itu. 

Berikutnya, Bung M. Rizqy Aminullah dari PW GEMA Pembebasan Jawa Timur menyampaikan, bahwa perkara yang penting bagi manusia ialah keberlanjutan kehidupan manusia. Seorang pria dan wanita yang menikah, mempunyai tujuan agar dapat melanjutkan garis keturunan mereka. Seperti teori naluri, terutama pada bagian naluri melestarikan jenis, menikah termasuk dari aktivitas pemenuhan naluri tersebut. Adapun, orang yang berperilaku LGBTQ+ itu salah dalam melampiaskan naluri tersebut. Penyimpangan ini, oleh sebagian orang tidak dianggap sebuah masalah. Mereka menganggap bahwa hal ini hanyalah preferensi pribadi masing-masing. Sejatinya, gender itu bermacam-macam. Yang mendikotomikan hanyalah konstruksi sosial yang dibangun untuk mendiskriminasi orang yang tidak mengikuti anggapan tersebut. 

Solusi dari hal ini tak sekadar hukuman saja. Islam tidak mengajarkan hanya hukuman, tapi juga cara hidup yang benar agar tak terperosok ke dalam lubang kesalahan. Demikian juga, mengatasi hal ini diperlukan pencegahan dengan berbagai macam cara, termasuk edukasi atau persuasi yang dapat mencegah orang agar tidak terpapar pemikiran atau berperilaku LGBTQ+.

Dialogika dilanjutkan sesi diskusi oleh audiens. Ada tiga orang yang menyampaikan opininya. Pertama, Bung Kiki Hamdani dari Mensoshum BEM STAIL Surabaya menyampaikan, bahwasanya LGBTQ+ sudah sangat marak di masyarakat Surabaya dan perlu penolakan dari seluruh elemen umat. Kedua, Bung Ary Ibrahim dari Sahabat Literasi Surabaya, menyampaikan bahwa tidak cukup melawan pergerakan LGBTQ+ hanya melalui diskusi atau penolakan dari segelintir tokoh umat. Perlu seluruh elemen umat turun tangan untuk menolak utusan resmi AS promotor LGBTQ+ dan mengondisikan agar paham LGBTQ+ tidak tersebar lagi di bumi nusantara. Ketiga, Bung M. Fajar Habibullah dari PIKNIK, menyampaikan pentingnya pemuda konsen terhadap problematika pemuda dan negeri, seperti darurat LGBTQ+.

Terakhir, closing statement disampaikan oleh setiap pemantik. Dapat ditarik kesimpulan, bahwa LGBTQ+ merupakan masalah besar umat pada bidang kehidupan sosial. Perlu solusi yang konkrit dan komprehensif agar dapat menyetopnya dan melawan agenda-agenda jahat lain yang berupaya merusak pemuda Islam. [Akbar]



Posting Komentar

1 Komentar