Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita dari Sudut Pandang yang Berbeda, Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Potret Buram Keluarga, Merenggut Masa Depan Generasi

Oleh: Fita Rahmania, S. Keb., Bd.


Predikat keluarga sebagai tempat ternyaman mungkin kini telah pudar. Sebab, banyak kasus kriminalitas justru berasal dari tengah-tengah keluarga. Kasus-kasus seperti kekerasan dalam rumah tangga (antara suami-istri/ orang tua -anak) hingga ada yang berujung pada pembunuhan, dan bunuh diri terus menghantui realita kehidupan keluarga di negeri ini.  

Berdasarkan laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) bahwa sejak 1 Januari hingga 20 Juni 2023 telah tercatat 11.292 kasus kekerasan. Jumlah kasus tersebut didominasi oleh korban perempuan sebanyak 10.098 orang dan sisanya 2.173 korban kekerasan berasal dari korban laki-laki. (katadata.co.id, 16/12/2023)


Kasus bunuh diri pun tak kalah meningkat. Melansir situs inasp.id, jumlah kasus bunuh diri resmi pada tahun 2020 sebanyak 670 kasus. Sedangkan tingkat under reporting atau kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan di Indonesia yakni minimal 303% di mana rata-rata kasus bunuh diri dunia yang dilaporkan adalah 0 – 50%. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri) mencatat di sepanjang tahun 2023 sejak Januari hingga 18 Oktober 2023, terdapat 971 kasus bunuh diri di Indonesia. Tidak hanya bunuh diri secara individu saja, tetapi tak sedikit yang “mengajak” serta anggota keluarga yang lain.


Setidaknya ada dua kasus kekerasan dan bunuh diri dalam keluarga yang terjadi pada waktu berdekatan belakangan ini. Kasus pertama menimpa keluarga di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di mana seorang ayah bernama Panca Darmansyah 41 tahun tega menganiaya istrinya hingga dirawat di rumah sakit dan membunuh keempat anaknya secara bergantian pada 2 Desember 2023. Keempat anaknya masing-masing berinisial VA (6), S (4), A (3), dan As (1) ditemukan tewas dan membusuk di salah satu kamar oleh warga sekitar, sedangkan Panca tengah melakukan percobaan bunuh diri di kamar mandi. Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Ade Ary Syam menyatakan motif ayah kandung itu tega menghabisi empat nyawa anaknya karena cemburu dengan istrinya. (Kompas.com, 16/12/2023)


Kasus kedua datang dari satu keluarga di kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka adalah suami atau ayah WE (43), istri berinisial S (40) dan anak ARE (12) yang ditemukan tewas di kamar tidur rumah mereka pada Selasa (12/12/2023). WE diketahui tercatat telah diangkat menjadi guru dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Kota Malang. Berdasarkan keterangan Kasat Reskrim Polres Malang AKP Gandha Syah Hidayat diketahui bahwa motif bunuh diri tiga orang dalam satu keluarga tersebut terkait hutang.

Potret buram keluarga semacam ini tentu menjadi ancaman bagi regenerasi penerus masa depan bangsa. Kekerasan dalam rumah tangga dan bunuh diri satu keluarga merupakan bentuk ketidakmampuan anggota keluarga dalam menyelesaikan problematika kehidupannya. Sebab, cara pandang yang dipakai keluarga muslim hari ini adalah sekularisme -kapitalisme. Akibatnya, tidak ada aturan yang shahih (benar) yang mengatur hubungan dalam rumah tangga dan tata pergaulan. Tujuan hidupnya pun hanya berkutat pada materi, apabila materi tidak dapat diraih maka hilanglah dunianya. 

Belum lagi kondisi sistem ekonomi kapitalisme yang ikut menumbangkan struktur bangunan keluarga dari luar. Sulitnya lapangan pekerjaan, melambungnya harga barang-barang kebutuhan pokok, mahalnya pendidikan dan kesehatan, serta jeratan hutang ala ribawi adalah dampak diterapkannya sistem ekonomi tersebut.

Padahal, seharusnya keluarga adalah rumah teraman bagi setiap insan. Di sanalah tempat generasi dilahirkan. Tempat manusia tumbuh dan berkembang, tempat mendapatkan pendidikan pertamanya, dan tempat menempa diri agar siap menatap masa depan. Apabila keluarga rusak, apakah bisa melahirkan sosok generasi kuat dan tangguh? Tentu tidak.

Oleh karena itu, perlu solusi hakiki dalam mengurai kesemrawutan persoalan keluarga ini. Sejatinya tiada solusi terbaik selain solusi yang datangnya dari Rabb Sang Pencipta kita, Allah SWT. Islam telah mengatur kehidupan dalam berumah tangga, yakni mengatur hak dan kewajiban suami istri dan mewajibkan keduanya untuk bekerja sama saling menolong membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.

Islam mewajibkan bagi suami istri untuk saling bersikap baik dan lemah lembut, tidak kasar, serta memiliki adab yang baik satu sama lain. Laki-laki merupakan pemimpin rumah tangga (qawwam). Segala persoalan rumah tangga harus diselesaikan secara baik-baik dan tidak emosional.


Islam juga mewajibkan laki-laki mencari nafkah untuk keluarganya. Apabila ia tidak mampu, nafkah keluarga akan dibebankan kepada saudara atau keluarga dari pihak laki-laki. Apabila tidak ada yang mampu lagi, maka negaralah yang harus memberikan bantuan langsung kepada keluarga tersebut.

Dalam pergaulan, Islam akan menjaga pergaulan laki-laki dan perempuan, seperti larangan khalwat dan ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan non-mahram tanpa aturan dan hajat syar’i). Hal ini tentu akan meminimalkan terjadinya perselingkuhan, perzinahan, dan sejenisnya yang bisa saja memicu KDRT. Sistem hukum Islam punsiap dengan sistem sanksi yang tegas untuk membasmi pelaku kejahatan, termasuk KDRT.


Selain itu, Islam juga mewajibkan untuk mendidik anak dengan cara Islam. Menanamkan Aqidah Islam sejak dini sehingga kelak dapat memecahkan seluruh problem kehidupannya sesuai aturan Islam, tidak dengan mengambil jalan pintas seperti bunuh diri yang dimurkai Allah SWT.

Aturan Islam yang solutif ini tentu tidak akan tegak tanpa adanya sokongan sistem negara yang berlandaskan ideologi Islam pula. Dengan adanya negara Islam, sistem keamanan warga akan terjamin, hak hidup mereka juga terlindungi, sehingga dapat meminimalkan terjadinya tindak kriminalitas di tengah masyarakat. Negara Islam berperan penting untuk menjaga suasana hidup masyarakat yang ideal dan kondusif berdasarkan syariat Islam sehingga menyuburkan aktivitas amar makruf nahi mungkar dan penuh ketaqwaan.

Posting Komentar

0 Komentar