Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Momen Muharram: Hijrah Menuju Tegaknya Islam Kaffah


Oleh Fauziah Nabihah

Aktivis Mahasiswa 


Setiap kali memasuki Tahun Baru Hijriah selalu menjadi momentum bagi umat untuk melakukan muhasabah. Kaum Muslim selalu mengenang peristiwa Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah. Melainkan pengingat atas peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ yang menjadi titik awal tegaknya Islam dalam seluruh lini kehidupan; sebuah perubahan yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga sosial, bahkan sistemik.


Sayangnya, memasuki bulan Muharram 1448 H, realitas yang dihadapi umat justru masih dipenuhi berbagai persoalan yang tak ada habisnya. Di dalam negeri, rakyat terus dibelit beragam masalah. Kemiskinan struktural membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Judi online semakin merusak generasi dan menghancurkan ekonomi rumah tangga. Kasus prostitusi anak, eksploitasi seksual, perundungan, hingga berbagai bentuk kekerasan terus bermunculan dengan angka yang mengkhawatirkan. Di sisi lain, berbagai kebijakan yang diharapkan menjadi solusi justru seringkali belum mampu menyentuh akar persoalan.


Sementara itu, di tingkat internasional, penderitaan saudara-saudara muslim di Palestina masih terus berlangsung. Genosida yang terjadi di Gaza telah merenggut puluhan ribu nyawa, sementara jutaan lainnya menghadapi kelaparan, kehilangan tempat tinggal, dan minimnya akses terhadap kebutuhan dasar.


Ironisnya, dunia hanya sekedar menyaksikan penjajahan atas umat muslim di Gaza, negeri-negeri Muslim pun tidak mampu memberikan perlindungan kepada mereka. Kesengsaraan ini terjadi bukanlah sekadar akibat lemahnya individu, tetapi juga sebagai peringatan ketika aturan dari Sang Pencipta tidak dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan. 


Negeri-negeri Muslim masih menghadapi ketergantungan terhadap pihak lain dalam berbagai sektor strategis, seperti ekonomi, teknologi, pertahanan, hingga pemenuhan kebutuhan pangan. Selain itu, umat Islam yang tersekat-sekat paham nasionalisme kerap berjalan sesuai kepentingannya masing-masing. Ketika salah satu negeri Muslim mengalami bencana atau krisis, respons dari negeri-negeri Muslim lainnya sering kali sebatas ungkapan simpati dan keprihatinan semata.


Untuk itu, pelajaran terbesar dari hijrah adalah umat hanya akan bangkit dari keterpurukan dan kesengsaraan dengan cara membangun kembali kehidupan Islam. Umat harus kembali bersatu dalam ikatan akidah, yaitu akidah Islam. Harus kembali menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.


Sekularisme-Kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga standar halal dan haram digantikan oleh ukuran manfaat dan keuntungan materi. Akibatnya, kebijakan publik lebih banyak mengikuti kepentingan ekonomi dan kekuasaan daripada tuntunan syariat. Selama sistem ini tetap menjadi fondasi kehidupan, berbagai kerusakan akan terus bermunculan meskipun berganti pemimpin atau kebijakan.


Ketiadaan institusi politik yang menyatukan kaum muslimin menyebabkan umat tercerai-berai dalam batas-batas nasionalisme. Saat ini, jumlah umat Islam telah melampaui dua miliar orang di seluruh dunia. Namun, sebagaimana digambarkan dalam hadis Rasulullah saw., kondisi mereka sering diibaratkan seperti buih di lautan—jumlahnya sangat besar, tetapi belum mampu memberikan pengaruh yang sepadan dengan besarnya populasi tersebut.


Setiap negeri berjalan dengan kepentingannya masing-masing sehingga tidak memiliki kekuatan politik dan militer yang mampu melindungi seluruh kaum muslimin. Padahal Islam menunjukkan bahwa persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam pernah menjadi pelindung bagi darah, harta, dan kehormatan kaum muslimin.


Oleh karena itu, Muharram seharusnya menjadi momentum hijrah yang hakiki. Hijrah bukan hanya perubahan penampilan, kebiasaan, atau peningkatan ibadah individual, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap kehidupan. Umat perlu menyadari bahwa berbagai kenestapaan yang terjadi bukanlah takdir yang harus diterima, melainkan akibat dijauhkannya aturan Allah dari kehidupan.


Hijrah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah tersebut menjadi jalan menuju tegaknya masyarakat yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Dari sanalah lahir peradaban yang memancarkan keadilan, kesejahteraan, dan kemuliaan bagi manusia.


Semangat Muharram hendaknya mendorong setiap muslim untuk ikut memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Perjuangan tersebut dilakukan melalui dakwah yang mengikuti metode Rasulullah ﷺ. Terorganisasi bersama jamaah dakwah Islam ideologis yang menyerukan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan Khilafah. Dengan demikian, hijrah tidak berhenti sebagai slogan tahunan, melainkan menjadi jalan menuju perubahan hakiki yang diridhai Swt.

Posting Komentar

0 Komentar