Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Main Character Muslim: Cara Islam Mencetak Generasi Juara

  

Talk show Muslimah /Novi Noor

Menghadapi tingginya tekanan era digital dan ancaman krisis moral di kalangan anak muda, sekitar 120 pelajar putri dan mahasiswi memadati Talk Show bertajuk Main Character Muslim yang berlangsung di Pendopo Bupati Tenggarong pada Sabtu (5/9/2026). Forum ini digelar guna membentengi Generasi Z khususnya pada perempuan agar mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus mencetak generasi juara yang berprestasi di dunia dan berorientasi akhirat.


Sesi awal menghadirkan Rina Hariyani, S.E. dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Tenggarong. Dalam pemaparannya, Rina menegaskan bahwa kondisi pergaulan remaja di Kutai Kartanegara saat ini bagaikan fenomena gunung es. Banyak kasus kekerasan dan kejahatan seksual yang belum terekspos ke publik, dengan korban terbanyak menyasar anak usia sekolah (SMP).


"Generasi hari ini dihadapkan pada tekanan media sosial, mulai dari fenomena FYP, FOMO, takut dianggap tidak gaul, hingga kebiasaan membandingkan diri. Tanpa filter yang kuat, arus informasi tak tersaring ini berujung pada perundungan, kekerasan seksual digital, hingga melonjaknya kasus HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)," ujar Rina.


Rina menambahkan, lemahnya pengawasan keluarga, minimnya pemahaman individu, serta sikap pembiaran di tengah masyarakat membuat korban perundungan maupun kejahatan seksual kerap takut melapor.


Mengurai Akar Masalah dan Solusi Komprehensif


Sementara itu, pemateri kedua, Annisa Nurul, S.I.Kom. selaku trainer Smart With Islam, menyoroti bahwa berbagai persoalan remaja tersebut tidak muncul secara kebetulan. Menurutnya, ada akar masalah mendasar yang membentuk pola hidup masyarakat saat ini, yaitu paham sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan liberalisme (kebebasan tanpa batas).


"Paham kebebasan membuat remaja merasa bebas mengakses maupun memproduksi konten melanggar syariat. Hal ini memicu menguatnya sikap individualistis hanya peduli pada diri sendiri atau sekadar menjalankan ibadah ritual tanpa menjadikan Islam sebagai panduan dalam kehidupan sosial," tegas Annisa.


Guna menyelesaikan persoalan ini secara tuntas, Annisa memaparkan empat pilar solusi komprehensif. Dari individu yang membangun ketakwaan sebagai benteng utama pertahan diri. Sekolah yang menerapkan pendidikan dengan sistem edukasi membentuk kepribadian Islam. Masyarakat yang membangun kepedulian sosial dan kepedulian moral melalui budaya amar ma’ruf nahi mungkar. Ditambah negara yang hadir sebagai pengurus (ra'in) dan pelindung (junnah) rakyat dengan menerapkan regulasi hukum yang tegas, memberikan sanksi berefek jera, serta memblokir seluruh situs atau media yang merusak generasi.


Diskusi Antusias: Menjaga Konsistensi Hijrah


Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab interaktif. Menjawab pertanyaan peserta bernama Febi terkait cara menjaga konsistensi (istiqomah) di tengah risiko dijauhi teman, pemateri memberikan dorongan moral agar peserta tidak berkecil hati.


"Tujuan hijrah adalah mencari ridha Allah, bukan kepuasan manusia. Apa pun yang hilang karena kita berusaha berbuat baik pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik. Kuncinya, fokus pada Allah dan cari circle pertemanan yang saling mendukung dalam ketaqwaan," pungkas Annisa.


Terkait dengan naluri menyukai lawan jenis, pemateri menekankan bahwa Islam tidak melarang perasaan tersebut. Namun, energi tersebut perlu dialihkan ke hal-hal yang produktif, mengubah mindset, serta menghentikan aktivitas pacaran demi menjaga kehormatan diri.


Melalui agenda ini, para peserta diharapkan tidak hanya menjadi penonton di era digital, tetapi mampu tampil sebagai main character remaja muslim sejati yang sehat, berkarakter, produktif, dan membawa manfaat luas bagi masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar