Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Maulid Nabi: Sekadar Perayaan atau Momentum Perubahan?

Oleh : Fahira Mutya Mutmainna, S.Si (Aktivis Muslimah)


Maulid Nabi Muhammad SAW kembali hadir dengan semarak shalawat, tabligh akbar, kajian, hingga pawai. Semua itu menunjukkan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, di balik semarak tersebut, ada hal yang patut direnungkan: Sudahkah Maulid benar-benar membangkitkan kesadaran umat untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW secara menyeluruh, termasuk dalam perjuangan mewujudkan kehidupan yang diatur dengan syariat Islam?


Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan berbagai kegiatan. Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW disampaikan dan kecintaan kepada beliau kembali digaungkan. Namun, tidak jarang substansi maulid berhenti pada aspek ritual dan emosional. Pembahasan tentang ittiba’ pun sering kali lebih ditekankan pada keteladanan akhlak pribadi, seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan kelembutan. Padahal, Nabi Muhammad SAW tidak hanya hadir untuk memperbaiki akhlak individu, tetapi membawa risalah yang mengubah kehidupan masyarakat secara menyeluruh. (rri.co.id, 22/08/2026).


Di tengah kondisi tersebut, tuntutan perubahan sebenarnya mulai muncul di tengah umat Islam. Banyak yang menyadari bahwa persoalan umat tidak cukup diselesaikan dengan perubahan individu atau kebijakan sesaat, tetapi membutuhkan perubahan yang lebih mendasar. Namun, arah dan metode perubahan yang ditempuh masih sangat beragam, bahkan tidak sedikit yang berbeda dari metode perjuangan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, semarak Maulid semestinya tidak hanya membangkitkan rasa cinta, tetapi juga mendorong umat memahami risalah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW secara utuh.


Ketika berbicara tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, persoalannya bukan lagi apakah umat mencintai beliau. Kecintaan itu telah begitu nyata dalam berbagai bentuk penghormatan dan peringatan maulid. Persoalannya adalah apakah kecintaan tersebut melahirkan ittiba’ dan keterikatan terhadap risalah yang beliau bawa. Allah Swt. berfirman: “Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 31)

Ayat tersebut menegaskan bahwa cinta harus dibuktikan dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW. Maka, ittiba’ tidak cukup hanya dengan meneladani akhlak beliau, tetapi juga mengikuti ajaran dan metode perjuangan yang beliau tempuh.


Nabi Muhammad SAW diutus untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan kepada selain Allah. Beliau menghadapi masyarakat jahiliyah yang tidak hanya mengalami kerusakan moral, tetapi juga hidup dalam tatanan yang jauh dari aturan Allah. Nabi Muhammad SAW kemudian menyeru manusia untuk mengesakan Allah dan menjauhi segala bentuk thaghut.

Allah Swt. berfirman: “Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat agar kalian menyembah Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl [16]: 36)


Dalam kehidupan saat ini, penghambaan kepada selain Allah tidak selalu berupa penyembahan terhadap berhala. Ia juga dapat terlihat ketika manusia menjadikan aturan buatan manusia sebagai dasar pengaturan kehidupan serta menjadikan materi, kebebasan tanpa batas, dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme mendominasi banyak negeri Muslim, sementara agama cenderung dipisahkan dari kehidupan publik.


Akibatnya, Islam sering kali ditempatkan sebatas pada ibadah dan moral individu. Sementara aturan Islam dalam politik, ekonomi, pendidikan, hukum, pemerintahan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya justru dipisahkan. Padahal, Islam merupakan agama yang sempurna dan memiliki aturan untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Allah Swt. berfirman:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3)


Karena itu, perubahan yang dibutuhkan umat bukan sekadar pergantian individu atau kebijakan, sementara sistemnya tetap sama. Perubahan hakiki menuntut perubahan cara pandang dan aturan yang menjadi landasan kehidupan. Di sisi lain, sistem kapitalisme-sekuler akan berupaya mempertahankan eksistensinya sehingga gagasan perubahan sistemik tidak mudah diterima. Maka, kebangkitan umat membutuhkan pemahaman yang benar tentang apa yang harus diubah sekaligus bagaimana perubahan itu dilakukan.


Di sinilah pentingnya kembali mempelajari perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak melakukan perubahan secara instan ataupun melalui kekerasan untuk mendirikan pemerintahan Islam. Perubahan ditempuh melalui dakwah yang terarah: membina individu dengan akidah dan tsaqafah Islam, berinteraksi dengan umat untuk membangun kesadaran, kemudian memperoleh dukungan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan.


Metode tersebut dikenal melalui tiga tahapan, yaitu tatsqif, tafa’ul ma’al ummah, dan istilamul hukmi. Tatsqif merupakan pembinaan umat dengan tsaqafah Islam; tafa’ul ma’al ummah merupakan interaksi dengan umat untuk membangun kesadaran terhadap Islam; sedangkan istilamul hukmi merupakan penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. Dengan metode tersebut, Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dan pemerintahan Islam di Madinah setelah memperoleh dukungan penduduk Madinah melalui Baiat Aqabah.


Karena itu, mengembalikan makna ittiba’ berarti mengikatkan diri kepada syariat Allah sekaligus mengikuti metode perjuangan Nabi Muhammad SAW. Penerapan Islam secara kaffah bukan sekadar persoalan ibadah individu, tetapi membutuhkan institusi yang mampu menerapkan seluruh hukum Islam dalam kehidupan. Dalam perspektif politik Islam, institusi tersebut adalah Khilafah, sebagaimana pemerintahan Nabi Muhammad SAW di Madinah dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)


Maka, Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada kemeriahan acara, lantunan shalawat, atau kisah tentang kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Semua itu hendaknya menjadi pintu untuk menghadirkan kembali kesadaran tentang risalah beliau secara utuh. Mencintai Nabi Muhammad SAW berarti mencintai apa yang beliau bawa, mengikuti apa yang beliau ajarkan, dan menjadikan perjuangan beliau sebagai teladan dalam menghadirkan Islam dalam kehidupan.

Allah Swt. berfirman: “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107).


Maka, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperbarui komitmen untuk mengikuti risalah beliau. Jangan sampai kecintaan hanya berhenti pada perayaan, sementara kehidupan umat masih jauh dari aturan yang beliau bawa. Nabi Muhammad SAW meninggalkan bukan sekadar kisah untuk dikenang, tetapi risalah untuk diikuti dan perjuangan untuk diteladani, agar Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh sebagaiman Rasul menerapkan Islam dimasa beliau hingga dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. 


Wallau’alam bisawab.

Posting Komentar

0 Komentar