Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Polres Gresik Tidak Profesional

Foto hanya Ilustrasi.



Oleh : Agus W., warga Manyar, Gresik.

Sebagaimana diberitakan portal berita online beritajatim.com (01/09) dua anggota polisi yakni Bripka Serli dari Satlantas Polres Gresik, dan Kanit Intel Polsek Kebomas, Bripka Bambang, menurunkan bendera khilafah di bunderan Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Minggu (01/09/2019).

Ketidakprofesionalan Polres Gresik sebagai penegak hukum paling tidak terlihat dari 2 hal, yang pertama penguasaan terhadap fakta. Apa yang disebut bendera khilafah adalah merupakan ketidaktahuan parah. Khilafah itu apa, di mana ada fakta khilafah, apakah khilafah sudah memiliki bendera dan lain-lain, tentu petugas tersebut tidak bisa menjelaskan. Padahal kalau hanya sedikit mau mengaji hadits, pak polisi akan mendapati bahwa bendera yang dimaksud adalah bendera/panji Rasul yaitu Liwa' dan Royah, yang bertuliskan kalimat tauhid 'laa ilaaha illallah, muhammadur rasulullah'. Hadits yang dimaksud, diriwayatkan Imam Ahmad.

Pelarangan dan perampasan petugas Polres tentu menyakiti umat muslim yang tengah gembira menyambut tahun baru Islam. Pelarangan penuh kebencian disertai hardikan kepada pembawa panji Rasul yang membawa anak kecil (berdampak psikologis bagi anak kecil, bahwa pak Polisi jahat, karena telah menghardik ayahnya), dan menahan di mapolsek sampai tengah malam.

Ketidakprofesionalan Polres Gresik kedua adalah bahwa kejadian tersebut hanya di Polres Gresik. Padahal puluhan kegiatan menyambut tahun baru 1 Muharam 1441 di seantero Jatim, sebagian besarnya juga banyak peserta yang membawa panji Rasul, tanpa ada pelarangan dan perampasan.

Apakah Polres Gresik yang paling benar, yang dapat bermakna seluruh polres sejatim salah? Ataukah tidak sebaliknya, Polres Gresik yang tidak profesional, tidak standar dalam menjalankan tugas mengayomi masyarakat? Mengapa aparat penegak hukum berani berbenturan dengan keyakinan umat muslim? () aw

Posting Komentar

0 Komentar