Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Video : Dialog Cak Nun Tentang Khilafah di Radio Suara Surabaya


Dalam Diskusi kebangsaan bersama pendengar di Radio Suara Suarabaya, Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan sapaan Cak Nun membahas mengenai ketakutan yang di ciptakan pada Khilafah Islam, seolah Islam lebih buruk daripada PKI. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.

"Yang pertama adalah tentang transformasi dari rahmat menjadi barokah. Jadi seperti kita tidak mungkin makan padi langsung, harus ditransformasikan menjadi beras menjadi nasi, seperti halnya kedelai menjadi tempe, kita harus bisa  transformasi itu, namanya managemen pengelolaan.." Ucapnya menjelaskan.

Dalam diskusi tersebut Cak Nun juga menjelaskan bahwa mustahil sebenarnya kalau di negeri ini ada orang miskin, orang ngemis yang tidak bisa makan bahkan tidak bisa bayar sekolah, karena Allah telah begitu besar memberikan rahmat kepada tanah air dan bangsa kita.

"Kita tiba2 sekarang bertentangan tentang sesuatu yang seharusnya menjadi alat kita bersama. Tidak mungkin indonesia yang tanah airnya begitu kaya raya, misal tanahnya tandus dengan lautnya saja kita bisa kaya. Jadi sebenarnya kalau melihat Allah begitu sayang merahmati tanah air indonesia dengan bangsanya ini mustahil ada orang miskin mustahil ada orang ngemis yang tidak bisa makan, mustahil ada orang kesulitan menyekolahkan anak." Lanjut Cak Nun menjelaskan

Namun fakta yang terjadi memang bertentangan dengan kemustahilan tadi, masih banyak ternyata orang miskin di negeri ini, bahkan banyak yang tidak bisa bayar sekolah.

"Kalau sampai itu terjadi, sampai masalah pembangunan adalah mengentaskan kemiskinan, ini berarti ada yang memang tidak tepat, ada yang salah dalam pengelolaan. Nah pengelolaan ini bahasa arabnya Khilafah. Terus sekarang kita anti khilafah." Tutur Cak Nun.

Suami dari Mbak Novia Kolopaking ini juga menyebutkan ketidak pahaman sebagian pihak yang menganggap Khilafah Islam lebih buruk dari PKI (Partai Komunis Indonesia/red).

"Sekarang kita ada penelitian, bahwa ini ada sekian puluh persen yang setuju dengan khilafah islam, jadi seolah-olah Islam itu lebih dari PKI buruknya. Ini kan sebenarnya penelitian dari orang-orang yang tidak faham. Jadi jawabannya tadi, tidak usah melihat, saya tidak takut. Saya bergaul dengan rakyat. Tidak ada orang yang kaya begitu" Sangkal Cak Nun..

Lebih banyak yang Cak Nun sampaikan dalam dialog bersama Radio Suara Surabaya tersebut. Simak selengkapnya dalam video berikut : []NAZ


#caknun #maiyah #suarasurabaya #khilafah #islam 

Posting Komentar

0 Komentar