Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita dari Sudut Pandang yang Berbeda, Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Sambut Ramadhan dan Ilusi Perdamaian Gaza

 


Oleh: Indha Tri Permatasari, S. Keb. , Bd. (Aktifis Muslimah) 


Ramadhan kembali menyapa umat Islam di Indonesia—bulan suci yang bukan hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga momentum muhasabah kolektif umat. Di tengah lantunan ayat Al-Qur’an, agenda berbagi, dan seruan kepedulian sosial, Ramadhan seharusnya juga menjadi ruang kesadaran politik umat terhadap penderitaan kaum Muslimin di Palestina, khususnya di Gaza.


Sayangnya, menjelang dan selama Ramadhan, dunia kembali disuguhi narasi lama: gencatan senjata dan balance of power (BoP) sebagai solusi perdamaian. Narasi ini dikemas seolah-olah sebagai jalan keluar kemanusiaan. Namun fakta di lapangan berbicara sebaliknya—pelanggaran gencatan senjata terus berulang, dan korban sipil tetap berjatuhan.


Realitas ini menunjukkan bahwa dunia internasional terlalu naif, atau sengaja menutup mata, dengan terus mempercayai janji-janji perdamaian yang diinisiasi Amerika Serikat dan sekutunya. Sejarah panjang konflik Palestina membuktikan bahwa gencatan senjata kerap hanya menjadi jeda strategis bagi Zionis Israel untuk mengatur ulang kekuatan, bukan langkah menuju keadilan.


Lebih jauh, gencatan senjata dan BoP sejatinya hanyalah sandiwara politik AS–Israel untuk melanggengkan penjajahan. Selama akar persoalan berupa pendudukan, perampasan tanah, dan pengusiran rakyat Palestina tidak disentuh, maka perdamaian hanyalah jargon kosong. Ramadhan demi Ramadhan berlalu, tetapi penderitaan Gaza terus berulang.


Ironisnya, negeri-negeri Muslim—yang secara jumlah dan sumber daya seharusnya memiliki daya tawar besar—justru tampil tanpa keberanian politik. Dengan dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah konflik meluas, para penguasa Muslim memilih jalan aman: diam, berkompromi, bahkan ikut dalam skema BoP yang merugikan umat sendiri.


Dalam konteks inilah Ramadhan di Indonesia seharusnya tidak berhenti pada empati simbolik. Umat perlu bersikap tegas, menolak narasi perdamaian palsu yang hanya menguntungkan penjajah. Ramadhan adalah bulan pembentukan keberanian moral—melatih umat menahan diri dari yang halal, agar tidak tunduk pada yang zalim.


Kesadaran ini menuntut persatuan umat dalam visi dan arah perjuangan. Perpecahan negeri-negeri Muslim adalah sumber utama kekuatan penjajah. Sebaliknya, kesatuan politik dan kepemimpinan umat menjadi prasyarat pembebasan dari hegemoni global yang menindas.


Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari kesadaran yang benar. Bagi umat Islam di Indonesia, menyambut Ramadhan berarti menguatkan keberpihakan pada keadilan, menolak penjajahan dalam segala bentuknya, dan menghidupkan kembali agenda pembebasan umat dari sistem global yang zalim.


Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah personal, tetapi momentum kebangkitan kesadaran kolektif: bahwa penjajahan harus dihapus, bukan dinegosiasikan.

Posting Komentar

0 Komentar