Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Memanggil Segenap Mahasiswa dan Pemuda Pasca 10 Tahun Sumpah Mahasiswa 18 Oktober 2009


© Adam Syailindra (Forum Aspirasi Rakyat)

Ada satu pesan yang masuk dalam sebuah diskusi hangat aktivis, bagaimana kabar "SUMPAH MAHASISWA 18 OKTOBER 2009?". Diskusi hangat itu mengingatkan publik ketika momentum heroik pada tahun 2009 di ibu kota Jakarta telah berkumpul 5.000 massa dalam sebuah Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) yang dihadiri oleh perwakilan aktivis, komunitas, dan gerakan mahasiswa dari berbagai kampus perwakilan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi dan Papua.

Sumpah Mahasiswa 2009 yang bagaimana? (sabar.. diakhir tulisan ini akan saya cantumkan). Dimedia sosial saat ini dengan sangat mudah publik mendapatkan beberapa catatan mengenai Kongres Mahasiswa Islam Indonesia ini. Poinnya mereka mengajak aktivis dan gerakan mahasiswa untuk menyatukan dan membangun visi intelektual mahasiswa menuju Indonesia lebih baik bidang Ekonomi, Politik, Sumber Daya Alam dan Pendidikan agar Indonesia berdaulat bermartabat.

Sebuah catatan sejarah mengingatkan, sejak kemerdekaan hingga lebih tujuh dekade, sekulerisme-liberalisme mencengkram Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler-liberal telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan.

Bahkan hingga kini dengan makin kerasnya cengkraman neo-imperialisme Indonesia masih terbelit oleh kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral Indonesia yang sangat berlimpah tidak mampu membuat rakyat Indonesia lebih baik. Bahkan justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan tak berkesudahan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat.

Dengan adanya refleksi SUMPAH MAHASISWA semoga mahasiswa, rakyat dan penguasa mengambil Islam sebagai solusi tuntas selesaikan problem multi dimensi, berikut isi

SUMPAH MAHASISWA
18 Oktober 2019

Setelah kami melihat, mencermati dan menganalisa fakta kerusakan yang ada serta merumuskan kondisi ideal, maka demi Allah, Zat yang jiwa kami berada dalam genggaman-Nya, kami mahasiswa Indonesia bersumpah :

1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik berbentuk kapitalis-demokrasi maupun sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah SWT – Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan – untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syari’ah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.

4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.

5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT.

Posting Komentar

0 Komentar