Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Stop Penjajahan dan Ethnic Cleansing atas Uyghur

Aliansi Umat Islam Bela Muslim Uyghur : Stop Penjajahan dan Ethnic Cleansing atas Uyghur

Foto: Samsul/apith

Pojok kota - Surabaya. "Wahai mujahid mujahidah, usir Konjen China sekarang juga. Muslim Uyghur telah lapar, haus, dilarang sholat, dilarang baca quran oleh rezim China," orasi Ust. Hamzah Baya Pimpinan Jamaah Ansharu Syariah Jatim (27/12) saat aksi yang diselenggarakan Aliansi Umat Islam Bela Uyghur di depan Konsulat Jendral China Surabaya jalan Mayjen Sungkono, pukul 13.00 - 15.15 WIB.

Aliansi Umat Islam Bela Uyghur terdiri dari berbagai elemen umat antara lain LBH Pelita Umat, Forum Komunikasi Ulama Aswaja, Jamaah Ansharu Syariah, Forum Umat Islam Bersatu Surabaya, Gerakan Amar Ma'ruf Nahy Munkar Lamongan, Muhammadiyah Surabaya, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Gema Pembebasan, Masyarakat Tanpa Riba, Syabab Hidayatullah, DDII, Syarikat Islam, Sinergi Dakwah, Emak-emak Militan Suroboyo, Al Irsyad.

Koordinator lapangan Ary Naufal memperkirakan peserta aksi tersebut mendekati 2.000 orang yang dari seluruh pelosok Jawa Timur. Sebagai pusat kerumunan massa depan konjen China, terpaksa hanya menggunakan satu jalur kendaraan yang melintas sehingga tidak terhindarkan lalu lintas menjadi tersendat.

Selepas shalat jumat, massa datang dari berbagai penjuru, menunggu gelombang barisan massa utama yang datang dari Taman Makam Pahlawan. Rencana semula panitia aksi menjadikan Islamic Centre sebagai titik start keberangkatan, tapi gubernur Jatim Khofifah berkeberatan, sebagaimana yang disampaikan pengelola Islamic Centre. Padahal aksi bela Uyghur sebelumnya yang diselenggarakan SOIS (Solidaritas Ormas Islam Surabaya) tidak ada pelarangan seperti itu.

Sebelum aksi, kawasan Mayjen Sungkono diguyur hujan sehingga membuat suasana segar. Sampai aksi selesai, mendung menaungi, dengan interupsi sejenak matahari bersinar. Host aksi oleh dua anak muda Adam dan Amil memandu para orator secara bergilir menyampaikan orasi-orasinya dalam merespon penjajahan dan _ethnic cleansing_ rezim China komunis.

Orator dari Muhammadiyah Surabaya Ustadz Ibrahim Bararay dan KH. Ahmad Sukirno dari Forum Komunikasi Ulama Aswaja Pasuruan menyerukan boikot produk China. Orator lainnya Ust. Fuadi ASOUM menjelaskan," Dulu, seorang muslimah dilecehkan kehormatannya di Amuriyah Romawi. Maka khalifah Mu'tashim di Baghdad membariskan tentara sepanjang Baghdad-Amuriyah lalu mengepungnya selama 5 bulan, 30 ribu musuh tewas, 30 ribu musuh ditawan. Sekarang, puluhan ribu muslimah Uyghur dilecehkan, disiksa atau diperkosa oleh tentara China, tidak ada yang menolong."

Orasi-orasi mengalir membangkitkan ghirah Islam, dengan selingan pekik takbir mulai dari Ust. Dipo dari Gerakan Amar Ma'ruf Nahy Munkar Lamongan, ust.  Haris dari FKU Gresik dan Ust. Carlos Abu Hamzah seorang mualaf Surabaya. Sedangkan Ust. Suhayl Karim dari Forum Umat Islam Bersatu Surabaya menyampaikan,"Muslim Uyghur telah dianiaya dan dipenjara dalam sebuah penjara raksasa ala kamp konsentrasi dengan kedok re-edukasi vokasional, karena hari ini tidak ada junnah/pelindung muslim, yaitu Khilafah." Hal ini bersesuaian juga dengan puluhan poster dan spanduk yang dicetak dengan bahasa Mandarin, Inggris dan Arab yang menyuarakan solusi khilafah.

Memasuki waktu ashar, adzan dikumandangkan dari mobil komando. Orasi terakhir berbahasa Arab. Menjelang akhir, pembacaan Pres Rilis (yang dirilis dengan dwi bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) oleh advokat Budi Harjo ketua Korwil Jatim LBH Pelita Umat. Doa dibacakan Dr. Faqih Syarif. Massa bubar  secara tertib, dalam pantauan dan sidak Kapolrestabes Surabaya Sandy Nugroho. [] rif

Posting Komentar

0 Komentar