Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Digelar Multaqo Ulama Aswaja di Pamekasan, sehari setelah Kirab Kebangsaan di Sampang


Pamekasan - 09 Februari 2020 sehari pasca digelar kirab kebangsaan di lapangan Wijaya Kusuma Kabupaten Sampang, digelar Multaqo Ulama Aswaja di Kota Pamekasan Madura.

Multaqo Ulama tersebut ternyata di hadiri oleh para Alim Ulama dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk dari berbagai wilayah Madura.

Multaqo Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah ini digelar di Masjid At Taufik Jungcangcang Pamekasan Madura. Di awali dengan pembacaan Tilawah Alquran kemudian sambutan-sambutan dan pemaparan orasi beberapa perwakilan Ulama yang hadir.

Yang menarik dari agenda tersebut adalah pernyataan sikap Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah bahwa tahun 2020 merupakan tahun umat Islam. Hal ini di dasarkan pada banyaknya kekecewaan masyarakat termasuk didalamnya para Alim Ulama atas hasil pemilu tahun 2019 lalu. Yang kemudian sadar bahwa jalan perubahan melalui sistem demokrasi kapitalisme hanyalah ilusi semata.

Praktek Politik yang di lakukan para elit ternyata tidak bisa membawa dampak kebaikan bagi Kaum Muslimin, malah semakin memperburuk keadaan yang ada dengan semakin jauhnya ketimpangan sosial di masyarakat.

Di akhir acara, para Ulama yang hadir sepakat bahwa tidak ada jalan lain bagi kebangkitan Umat Islam selain dengan berjuang mencontoh perjuangan Rasul dan para sahabat menerapkan sistem pemerintahan Islam Khilafah.

Meski banyak pihak yang mencitraburukkan Khilafah, para Ulama malah bertekat untuk memahamkan umat bahwa Khilafah justru adalah solusi segala problematika yang selama ini mendera kaum Muslimin.

"Jadi jangan takut mendakwahkan Khilafah, karena sejatinya Khilafah memang akan mengancam, tapi bukan mengancam kita umat Islam, Khilafah justru akan mengancam segala bentuk kedzaliman, kerusakan, kemaksiyatan serta ketidakadilan. Siap berjuang menegakkan Khilafah?!" Tanya salah satu orator, kemudian disambut pekik Takbir bersahutan oleh para peserta Multaqo.

Tepat sebelum dzuhur Multaqo Ulama di akhiri dengan pembacaan doa penutup, sholat berjamaah kemudian dilanjutkan ramah tamah bersama. [NAZ]

Simak kilasan acara Multaqo Ulama Aswaja tersebut dalam video berikut :

https://youtu.be/g1ze-eGnQ7g

Posting Komentar

0 Komentar