Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kenapa Harga BBM Tidak Turun, Saat Harga Minyak Dunia Sedang Anjlok.?

Harga minyak mentah dunia anjlok, selain karena perang harga, tak ada kesepakatan kontrol produksi minyak, juga keputusan sepihak Arab Saudi yang akan menggenjot produksi minyak (sehingga suplai berlimpah), kejatuhan harga minyak juga disebabkan demand (permintaan) yang jatuh akibat virus Covid-19.

Virus Covid-19 menyebabkan banyak mesin produksi digudangkan, tak memerlukan minyak. Pruduksi barang yang menurun juga menyebabkan distribusi barang yang kecil, sehingga banyak moda transportasi yang mengunakan energi BBM juga istirahat mesinnya.

Kumulasi dari suplai yang  berlimpah, permintaan yang menurun menyebabkan harga BBM ditingkat retail (hilir) jatuh tak terkendali. di Malaysia, harga bensin hanya di kisaran Rp. 4.500/liter. Di Amerika, perang harga antara SPBU menyebabkan harga bensin jatuh hingga menyentuh Rp. 2.500/liter.

Lantas, kenapa di Indonesian bensin masih mahal ? Kenapa Pertamina masih jualan bensin diatas Rp. 8000/liter ?

Inilah, jahatnya Pertamina dibawah kendali Ahok. Bensin dunia turun, tapi bensin Pertamina tak mau turun.

Agar terkesan filantropis, Ahok memberi diskon pada ojek online (Ojol) dengan diskon BBM 50 %. Padahal, konsumsi BBM OJOL paling cuma Nol koma sekian persen.

Ini untuk menutupi kejahatan Pertamina, kezaliman Pertamina yang mengeruk untung dari rakyat ditengah Pandemik Covid-19. Di seluruh dunia, harga BBM turun.

Sementara di sini, Pertamina bersama pemain BBM lainnya melakukan monopoli harga, dengan tetap menjual mahal BBM. Sementara rakyat, tak bisa menghukum pasar karena market bisnis BBM dikuasai Pertamina dan segelintir pemain lainnya.

Pertamina yang semestinya menjadi wakil negara bertindak menekan pemain BBM lainnya agar menjual murah BBM, justru pasang badan dengan menjual harga BBM mahal. Akibatnya, pemain lainnya seperti Shell juga ikut "Ngalap Berkah" menjual BBM dengan harga mahal, mendapat perlindungan harga dari Pertamina.

Ini Pertamina luar biasa jahat ! Menjual BBM kepada rakyat yang sedang kena musibah Covid-19, dengan harga selangit. Ini sama saja memeras darah rakyat.

Tapi Pertamina bukan sebab utama, semua ada pada kendali Presiden. Sebab, keputusan naik tidaknya BBM sangat tergantung pada Presiden.

Dulu, secara senyap Presiden mengumumkan kenaikan harga BBM berdalih kenaikan harga minyak dunia. Sekarang, akankah Presiden menurunkan harga BBM secara senyap, karena harga minyak mentah dunia jatuh? [nj]

Posting Komentar

0 Komentar