Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kenapa Harga BBM Tidak Turun, Saat Harga Minyak Dunia Sedang Anjlok.?

Harga minyak mentah dunia anjlok, selain karena perang harga, tak ada kesepakatan kontrol produksi minyak, juga keputusan sepihak Arab Saudi yang akan menggenjot produksi minyak (sehingga suplai berlimpah), kejatuhan harga minyak juga disebabkan demand (permintaan) yang jatuh akibat virus Covid-19.

Virus Covid-19 menyebabkan banyak mesin produksi digudangkan, tak memerlukan minyak. Pruduksi barang yang menurun juga menyebabkan distribusi barang yang kecil, sehingga banyak moda transportasi yang mengunakan energi BBM juga istirahat mesinnya.

Kumulasi dari suplai yang  berlimpah, permintaan yang menurun menyebabkan harga BBM ditingkat retail (hilir) jatuh tak terkendali. di Malaysia, harga bensin hanya di kisaran Rp. 4.500/liter. Di Amerika, perang harga antara SPBU menyebabkan harga bensin jatuh hingga menyentuh Rp. 2.500/liter.

Lantas, kenapa di Indonesian bensin masih mahal ? Kenapa Pertamina masih jualan bensin diatas Rp. 8000/liter ?

Inilah, jahatnya Pertamina dibawah kendali Ahok. Bensin dunia turun, tapi bensin Pertamina tak mau turun.

Agar terkesan filantropis, Ahok memberi diskon pada ojek online (Ojol) dengan diskon BBM 50 %. Padahal, konsumsi BBM OJOL paling cuma Nol koma sekian persen.

Ini untuk menutupi kejahatan Pertamina, kezaliman Pertamina yang mengeruk untung dari rakyat ditengah Pandemik Covid-19. Di seluruh dunia, harga BBM turun.

Sementara di sini, Pertamina bersama pemain BBM lainnya melakukan monopoli harga, dengan tetap menjual mahal BBM. Sementara rakyat, tak bisa menghukum pasar karena market bisnis BBM dikuasai Pertamina dan segelintir pemain lainnya.

Pertamina yang semestinya menjadi wakil negara bertindak menekan pemain BBM lainnya agar menjual murah BBM, justru pasang badan dengan menjual harga BBM mahal. Akibatnya, pemain lainnya seperti Shell juga ikut "Ngalap Berkah" menjual BBM dengan harga mahal, mendapat perlindungan harga dari Pertamina.

Ini Pertamina luar biasa jahat ! Menjual BBM kepada rakyat yang sedang kena musibah Covid-19, dengan harga selangit. Ini sama saja memeras darah rakyat.

Tapi Pertamina bukan sebab utama, semua ada pada kendali Presiden. Sebab, keputusan naik tidaknya BBM sangat tergantung pada Presiden.

Dulu, secara senyap Presiden mengumumkan kenaikan harga BBM berdalih kenaikan harga minyak dunia. Sekarang, akankah Presiden menurunkan harga BBM secara senyap, karena harga minyak mentah dunia jatuh? [nj]

Posting Komentar

0 Komentar