Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

FGD Online PKAD #5: Arogansi Oligarki dan Aroma Komunisme di Balik RUU Haluan Ideologi Pancasila

FGD Online PKAD #5: Arogansi Oligarki dan Aroma Komunisme di Balik RUU Haluan Ideologi Pancasila

PKAD—Ragam pencerdasan publik melalui Focus Group Discussion dilaksanakan oleh Pusat Kajian dan Analisis Data, Sabtu (6/6/2020) Pukul 08.00-11.30 WIB. Antusiasme peserta baik melalui zoom meeting dan live streaming You Tube luar biasa. Tercatat peserta di Room Meting full 300 orang. Total tayang di You Tube saat live streaming ialah 12.000 viewers.

Bertema Ancaman Kebangkitan Komunisme dan Arogansi Oligarki di balik RUU Haluan Ideologi Pancasila? Hadir sebagai Keynote Speaker Prof. Dr. KH Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015).

Pembawaan Prof. Din Syamsuddin sungguh luar biasa. Gagasan intelektual dan kekayaan pengetahuan ilmiah menarik untuk disimak. Perjuangannya luar biasa berada di garda terdepan dalam amar ma’ruf nahi munkar.

“Banyak yang menyatakan komunisme tidak bisa bangkit. Padahal faktanya kebangkitan itu nyata. Pun demikian, saat ini timbul gejala kediktatoran konstitusional melalui upaya produksi legislasi,”ungkapnya.

Prof Din juga membeberkan bahaya RUU HIP yaitu memberikan tafsir sepihak Pancasila dan menghilangkan jejak agama. Karena itu, harus ada upaya perjuangan untuk meluruskan kiblat bangsa ari upaya penyelewengan secara nyata dari pendukung komunisme.

“Upaya pelurusan kiblat bangsa menuju rel yang benar merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.”

Tambahnya terkait oligarki dan penguasaan negara oleh sekelompok elit, Prof Din menjelaskan bahwa ketika oligarki berkolaborasi dengan kleptokrasi, maka sempurnalah kerusakan dan kedaulatan negeri ini.

Diskusi yang diawali dari pemaparan Prof Din mendapatkan sambutan hangat dari pemirsa FGD PKAD. Antusiasme ditunjukkan dalam komentar di channel Youtube PKAD dan chat zoom meeting.

Selain, Prof Din Syamsudin, hadir juga  Prof Suteki, S.H., M.Hum. (Guru Besar dan Pengajar Pancasila), Prof Daniel M Rasyid, Ph. D., M.RINA (Pakar Kemaritiman dan Pendidikan), Dr. Abdul Chair Ramadhan., S.H., MH (HRS Center), Dr. Masri Sitanggang (Ulama dan Tokoh Nasional), Dr. Ahmad Yani, SH. (Anggota Komisi III DPR RI periode 2009-2014 ), MH., KH Aam Wahib Wahab Hasbullah (Tokoh NU),  KH M. Ismail Yusanto (Jubir HTI), KH Thoha Zakariya (Ponpes Al-Islah Bondowoso), KH Asep Syarifuddin  (Jubir MPUII) dan Gus Nur.

Pada saat sesi diskusi dan paparan materi pembicara, peserta dan penonton memberikan dukungan positif dari acara FGD ini. Banyak yang menyatakan menolak RUU HIP karena diduga kuat dijadikan tameng untuk menggusur peran agama dalam kehidupan umat.[hn]

Posting Komentar

0 Komentar