Home

News update : FDMPB—Upaya konstruksi sejarah Islam di Nusantara kini menemukan momennya. Apalagi bersamaan dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah 1442 H. Kajian mendalam dan kritis ini mendapat perhatian luas. Khususnya dari Intelektual Muslim Indonesia yang berhimpun dalam Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB). Akhirnya, FGD Online kelima diadakan Sabtu (29/8/2020) Pukul 08.00-11.30 WIB. Menghadirkan Intelektual yang berkompeten dibidangnya, di antaranya: Prof Dr-Ing Fahmi Amhar (Cendekiawan Muslim dan Peneliti), Dr Ahmad Sastra, MM (Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor), Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA. (Guru Besar Pemikiran Islam UIN Ar Raniry Aceh), Drs. Moeflich Hasbullah, MA (Sejarawan Muslim dan Dosen), Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd (Sejarawan dan Penulis Buku Trilogi Revolusi Islam), dan Septian AW (Sejarawan Muda Komunitas Literasi Islam). Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

MENYOAL KRITERIA RADIKAL ALA MENTERI AGAMA




Oleh : Ahmad Sastra

Beberapa hari ini umat Islam kembali dikejutkan oleh ucapan menteri agama soal indikator kaum radikal yang cenderung tendensius. Ditulis CNN Indonesia bahwa Menteri Agama Fachrul Razi membeberkan cara masuknya kelompok maupun paham-paham radikalisme ke masjid-masjid yang ada di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan di tengah masyarakat.


Beragam sikap umat Islam mencuat pasca ucapan menteri agama karena dinilai sudah menyakiti hati umat Islam. Banyak komentar netizen di media online yang umumnya menolak ucapan menteri agama. Sangat disayangkan ketika menyinggung radikalisme, menag mengkaitkan dengan umat Islam bahkan dengan ciri-ciri yang justru tidak masuk akal dan cenderung sebagai logical fallacy.


Menteri agama misalnya mengatakan bahwa dii masjid-masjid telah kemasukan paham radikal. Salah satunya dengan menempatkan orang yang memiliki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang tampak mumpuni.


"Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9).


Fachrul menyatakan orang itupun perlahan-lahan bisa mendapatkan simpati dari para pengurus dan para jemaah masjid. Salah satu indikatornya, orang tersebut dipercaya menjadi imam hingga diangkat menjadi salah satu pengurus masjid. Setelah mendapatkan posisi strategis tersebut, lanjut Fachrul, orang itu mulai merekrut sesama rekan-rekannya yang memiliki pemahaman radikal lainnya masuk menjadi pengurus masjid.


Di sisi lain, Fachrul menegaskan bahwa masjid-masjid yang berada di lingkup institusi pemerintahan dan BUMN potensial disusupi oleh paham-paham radikal. Melihat hal itu, Fachrul mewanti-wanti agar seluruh rumah ibadah khususnya di lingkungan pemerintahan dan BUMN untuk mewaspadai gerakan dari kelompok radikal di masjidnya masing-masing.


Mengatakan bahwa kaum radikal itu bercirikan good looking,fasih berbahasa Arab dan hafal Al Qur’an adalah sebuah ungkapan yang sangat berbahaya dan berpotensi menjadi kegaduhan di kalangan kaum muslimin. Jika menteri agama tidak mencabut ucapannya dan minta maaf, maka ucapannya akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.


Mengkaitkan antara radikalisme dengan umat Islam atau ajaran Islam adalah framing jahat yang dilakukan oleh Amerika. Kebijakan war on terrorism ala Amerika bertujuan untuk membungkam dan menjegal kebangkitan umat. Adalah sebuah kesalahan besar jika seorang muslim ikut mengkampanyekan narasi radikalisme ini.


Secara genealogis, istilah radikalisme ini muncul pasca terjadinya tragedi WTC yang dikemudian hari disinyalir sebagai skenario untuk menyudutkan Islam. Adalah Usama Bin Laden yang dituduh telah menjadi aktor utama tragedi itu. Bahkan kebenaran tuduhan itu hingga kini masih misteri. Yang terjadi justru sebaliknya, berdasarkan penelitian, WTC runtuh justru oleh Amerika sendiri.


Dari sinilah kemudian terus berkembang narasi radikalisme dan dikaitkan dengan Islam dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Pasca skenario tragedi WTC, maka diikuti oleh berbagai peristiwa pengeboman. Tidak sampai di situ, tiba-tiba muncul segerombolan pejahat yang mengaku sebagai muslim dan menyebut dirinya sebagai ISIS. Tapi sekali lagi, ISIS disebut sebagai bagian dari konspirasi. ISIS bukan Islam.


Adalah anomali jika Islam yang telah lahir sejak zaman Nabi Muhammad bahkan sejak Nabi Adam sebagai agama terbaik dari Allah, namun dinarasikan sebagai agama yang menyeramkan. Padahal secara jelas termaktub dalam Al Qur’an bahwa Islam adalah agama benar, cinta damai, terbaik, toleran, dan menjadi rahmat bagi seluruh manusia dan alam semesta.


Adalah anomali atau paradoks jika Islam yang justru telah berjasa besar atas berdirinya negeri ini justru dituduh sebagai agama berpaham radikalisme. Padahal kata radikal itu sendiri bukanlah kata yang berasal dari terminologi Islam, melainkan dari epistemologi Barat. Islam hanya bisa ditimbang berdasarkan sumber hukumnya yakni Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.


Maka jika kata radikal yang merupakan produk pemikiran Barat disematkan kepada Islam akan terjadi sebuah kerancuan. Kata radikal yang secara etimologi bermakna akar adalah netral belaka. Namun memahami Islam secara mendalam hingga ke akar-akarnya adalah kebaikan dalam Islam. Pemahaman Islam yang mengakar kuat inilah yang kelak menjadi basis teori dan propaganda radikalisme oleh Barat.


Secara politis, ikut menyebarkan narasi radikalisme ini sesungguhnya telah menguntungkan Barat dan merugikan Islam dan kaum muslimin. Islam sebagai tertuduh akan terus diframing sebaga agama bar-bar yang penuh kekejaman. Ujung dari framing radikalisme atas Islam adalah munculnya islamophobia di seluruh dunia.


Efek domino dari islamophobia ini sungguh mengerikan. Di berbagai negara, kaum muslimin menjadi sasaran diskriminasi yang telah melampaui nilai-nilai kemanusiaan. Perlakuan diskrininatif kepada kaum muslimin terjadi dari yang paling ringan seperti pelecehan hingga genosida. Inilah tragedi kemanusiaan akibat narasi radikalisme yang dibuat oleh Barat.


Kita bisa lihat beberapa hari ini telah terjadi pelecehan terhadap Al Qur’an dan kepada Rasulullah oleh manusia-manusia kafir. Inilah gejala islamophobia akibat framing negative atas ajaran Islam yang mulia. Adalah kebodohan dan kejahatan jika ada muslim yang justru membebek kepada kafir Barat memframing negative ajaran Islam.


Tidak hanya sampai disitu, narasi radikalisme ini hingga sampai kepada pelarangan atribut-atibut keislaman. Jilbab sebagai identitas muslimah yang telah diwajibkan Allah justru dilarang dikenakan di salah satu negara. Ceramah-ceramah agama Islam yang merupakan urusan internal umat seringkali dicurigai, bankan ada yang dibubarkan.


Bahkan kalimat tauhid yang merupakan identitas paling fundamental bagi seorang muslim dipersoalkan. Framing radikalisme atas Islam adalah sebuah kejahatan besar dalam peradaban modern ini. Meskipun secara historis, Rasulullah terlebih dahulu mendapat fitnah dan tuduhan dari kaum kafir Quraisy. Sejarah memang akan terus berulang.


Oleh karena itu catatan penting untuk pemerintahan yang baru, janganlah ikut-ikutan membangun rasa ketakutan di negeri ini dengan terus mempropagandakan narasi radikalisme ini. Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia dan bahkan mungkin terkaya di dunia. Seluruh kekayaan di negeri ini merupakan anugerah dari Allah SWT.


Yang justru seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana membangun SDM bangsa ini berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang beradab karena keimanan adalah lebih baik dari pada mempersoalkan keimanan seorang muslim. Kegaduhan narasi radikalisme ini tidak akan pernah menjadikan negeri ini baik.


Kohesi sosial yang telah lama terbina di negeri ini justru akan karut marut akibat propaganda Barat atas narasi radikalisme ini. Hal ini semestinya disadari oleh bangsa ini. Indonesia adalah negara yang punya potensi strategis untuk menjadi negara adidaya di dunia. Dengan catatan bangsa ini kembali kepada jati diri sebagai negara yang religius, beradab dan bekerja keras.


Sebab Allah telah menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi bagi suatu negeri yang bangsanya beriman dan bertaqwa kepadaNya. Sebagaimana perkataan Imam Al Ghazali, agama dan negara adalah seperti saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu stop bicara soal radikalisme, sebab semua orang sudah tahu bahwa narasi radikalisme adalah agenda politik Barat untuk menghalangi kebangkitan Islam dan kaum muslimin.


Oleh sebab itu, ungkapan menag yang mengkaitkan kaum radikal dengan ciri-ciri keimanan dan ketaqwaan seperti jadi imam, pengurus masjid, hafal al Qur’an, dan bahkan yang fasih berbasa Arab secara esensial adalah adalah salah. Kriteria radikal ala menag ini selain salah juga akan menimbulkan kegaduhan baru di kalangan umat Islam. Bahkan ada yang menilai indicator radikal ala menag telah menyakiti hati umat Islam.


(AhmadSastra,KotaHujan,03/09/20 : 21.40 WIB)

Posting Komentar

0 Komentar