Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

pakar Pendidikan dan Peradaban Islam, Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan dugaan kebangkitan neo komunisme di Indonesia.

Kala Dua Guru Besar Bicara Neo-Komunisme:”Komunisme Tidak Sesuai Fitrah Manusia dan Kita Harus Lakukan Kerja-kerja Intelektual untuk Menghadang Komunisme”

Lebih jauh, Guru Besar yang sekaligus pakar Pendidikan dan Peradaban Islam, Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan dugaan kebangkitan neo komunisme di Indonesia. Beliau merinci syarat-syarat sosiologis.


Pertama, proses pemburuhan besar-besaran terjadi melalui persekolahan paksa massal. Tujuannya menyiapkan suatu masyarakat buruh yang bekerja untuk investasi asing. Komunis menunggu-nunggu kebangkitannya pada saat kapitalisme sempoyongan. 


“Kapitalisme mengandung cacat bawaan karena menimbulkan pertentangan kelas. Kesenjangan dan ketimpangan sebagai lahan subur komunisme tumbuh,”ungkapnya.


Kedua, sorotan pada generasi milenial. Perkembangan teknologi 10-20 tahun ini yaitu penggunaan internet, medsos, dan sebagainya itu mengalamai pendangkalan ruang dan waktu bagi milenial. Karena mereka lebih banyak menghadapi layar 2 dimensi dari pada layar 3 dimensi. 


“Mereka juga mengalami pendangkalan sejarah. Apalagi pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan. Ini disengaja agar lupa dengan jati diri kita,”Prof Daniel turut prihatin.


Tambahnya, “Dikombinasi dengan dinamika global yang selama ini diambil oleh AS itu kosong. Kekosongan itu diisi oleh China komunis. Walaupun disadari oleh Barat yang kemudian terjadi konflik akhir-akhir ini.”


Pesan penting dari Prof. Daniel kepada publik agar tidak boleh lengah dan mesti bersatu, memberi penyadaran, butuh kerja-kerja intelektual. Agenda ke depan bisa dilakukan dengan membuat film-film baru mengenai peristiwa penting supaya milenial menyadari. Jangan sampai milenial asyik di negeranya sendiri seperti di Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya.[hn]


Baca juga halaman sebelumnya (page 1).

Posting Komentar

0 Komentar