Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

pakar Pendidikan dan Peradaban Islam, Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan dugaan kebangkitan neo komunisme di Indonesia.

Kala Dua Guru Besar Bicara Neo-Komunisme:”Komunisme Tidak Sesuai Fitrah Manusia dan Kita Harus Lakukan Kerja-kerja Intelektual untuk Menghadang Komunisme”

Lebih jauh, Guru Besar yang sekaligus pakar Pendidikan dan Peradaban Islam, Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan dugaan kebangkitan neo komunisme di Indonesia. Beliau merinci syarat-syarat sosiologis.


Pertama, proses pemburuhan besar-besaran terjadi melalui persekolahan paksa massal. Tujuannya menyiapkan suatu masyarakat buruh yang bekerja untuk investasi asing. Komunis menunggu-nunggu kebangkitannya pada saat kapitalisme sempoyongan. 


“Kapitalisme mengandung cacat bawaan karena menimbulkan pertentangan kelas. Kesenjangan dan ketimpangan sebagai lahan subur komunisme tumbuh,”ungkapnya.


Kedua, sorotan pada generasi milenial. Perkembangan teknologi 10-20 tahun ini yaitu penggunaan internet, medsos, dan sebagainya itu mengalamai pendangkalan ruang dan waktu bagi milenial. Karena mereka lebih banyak menghadapi layar 2 dimensi dari pada layar 3 dimensi. 


“Mereka juga mengalami pendangkalan sejarah. Apalagi pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan. Ini disengaja agar lupa dengan jati diri kita,”Prof Daniel turut prihatin.


Tambahnya, “Dikombinasi dengan dinamika global yang selama ini diambil oleh AS itu kosong. Kekosongan itu diisi oleh China komunis. Walaupun disadari oleh Barat yang kemudian terjadi konflik akhir-akhir ini.”


Pesan penting dari Prof. Daniel kepada publik agar tidak boleh lengah dan mesti bersatu, memberi penyadaran, butuh kerja-kerja intelektual. Agenda ke depan bisa dilakukan dengan membuat film-film baru mengenai peristiwa penting supaya milenial menyadari. Jangan sampai milenial asyik di negeranya sendiri seperti di Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya.[hn]


Baca juga halaman sebelumnya (page 1).

Posting Komentar

0 Komentar