Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Ulama Tak Gentar! Terus Berjuang untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

FGD PKAD #9: Ulama Tak Gentar! Terus Berjuang untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kehadiran ulama di FGD Online Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) #9 menjadikan forum lebih istimewa dan memberikan suntikan semangat perjuangan. Ulama’ yang hanif dan mukhlis tak pernah gentar membela Islam. Justru ulama harus berada di garda terdepan. Apalagi muncul ancaman pidana pada pesantren, ulama, dan khilafah.

KH Thoha Cholili (Ulama Ahlussunah wal Jama'ah Madura) yang merupakan keluarga besar dari Syaikhona Cholil Bangkalan menjadi pembicara yang luar biasa. Komitmen beliau dalam membela Islam, kemuliaan umat Islam, dan perjuangan khilafah tak diragukan lagi.

Beliau sangat senang bisa hadir dalam diskusi yang mengambil tema “Fix, Ancaman Pidana Pesantren, Ulama, dan Khilafah?” pada Sabtu (5/9/2020). Berkaitan dengan peran ulama dan pesantren beliau menjelaskan panjang lebar.

“Pondok pesantren merupakan basic ulama dalam membimbing dan membina secara langsung. Muhadharah. Kalau ponpes dicurigai dan perlu izin yang ketat, bahkan ada ancaman pemidanaan yang termasuk dalam RUU Omnibuslaw. Ini aneh?”

“Harusnya bangga tidak hanya kuantitas tapi juga kualitas. Islam menyebar cepat dengan membentuk kerajaan, kesultanan, dan negeri-negeri Islam untuk menerapkan syariah Islam,”tandasnya.

Sistem pendidikan di pesantren selama ini bisa mengembangkan dan memberikan perhatiannya. Mengajarkan aqidah, ilmu-ilmu Allah, tafsir, quran, hadits, dan akhlak Islami. Pesantren juga yang memberikan inspirasi Sumpah Pemuda. 

Beliau pun heran dengan sikap phobia dan ketakutan dengan Islam melalui upaya pidana di RUU Omnibuslaw Cipta Kerja.

“Sangat aneh jika pesantren harus melalui izin ketat seperti dalam RUU Omnibus Law. Sangat aneh phobia dengan khilafah. Khilafah meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. Tidak hanya terkait shalat, puasa, dll tapi juga terkait ri’asah. Kalau aneh dengan khilafah berarti aneh dengan Islam.”

Demikian halnya dengan kehadiran KH. Thoha Yusuf Zakariya Lc. (Pimpinan Ponpes Al Ishlah Bondowoso) menambah forum kian bersemangat. Jika ulama saja begitu semangat luar biasa, maka ini sinyal kepada umat untuk turut membersamai dalam perjuangannya.
“Serangan kepada umat Islam ini sudah terstruktur, sistemis, dan massif (TSM). Aqidah dilemahkan, hukum, ekonomi, politik dilemahkan. Ukhuwah juga dilemahkan. Yang repot itu kan statement ada pemuda good looking dianggap rekrutmen untuk gerakan terorisme dan radikalisme. Ini statemen salah kaprah,”ungkapnya mengawali penyampaian diskusi.

Beliau menilai ini bisa merusak citra umat Islam dan memecah belah. Mereka melancarkan penistaan Islam dan persekusi terhadap ulama, habaib, aktifis dakwah dan melancarakan tuduhan tidak berdasar kepada mereka.

“Sikap pemberangusan kepada Islam dan khilafah ini seperti pemberangusan umat Islam di Indonesia. Ini seperti ada operasi One Belt One Road (OBOR),”tegasnya.

Tambahnya, “Khilafah bagian dari Islam. Jika pesantren harus izin dan kyainya dipenjara dan denda 1 miliar, ini seperti cara Komunis. Pesantren itu agent of change. Indonesia merdeka berkat peranan kyai dan pesantren.”

Adapun upaya menghapus peran jejak kyai dan pesantren seperti mengaburkan dan menguburkan jejak perjuangan khilafah di bumi Nusantara. Pesannya juga bahwa semua elemen umat harus terus bergerak mencerdasakan umat dengan hati tulus, ikhlas karena Allah, sabar, dengan baik dan benar. Inilah pentingnya perjuangan dengan dakwah bersama-sama.

“Rapat dan lurusnya barisan akan mendatangkan ma’unah Allah SWT. Tidak berdakwah mati, berdakwah mati. Maka berdakwahlah sampai mati. Lebih baik mati di medan tempur, daripada mati di atas kasur,”pesan akhirnya.
Takbir!! Takbir!! Takbir!! Peserta pun mengepalkan jarinya dan suasana heroik pun seketika. Luar biasa![hn]

Posting Komentar

0 Komentar