Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

“Dari Politik, Hukum, dan Ekonomi Islam Menjadi Solusi”

 Refleksi Akhir Tahun 2020 Tokoh Lamongan Edisi 3: “Dari Politik, Hukum, dan Ekonomi Islam Menjadi Solusi”


Lamongan—Sarasehan Tokoh Lamongan Ketiga mengangkat tema Refleksi Akhir Tahun 2020. Dilaksanakan pada Ahad (27/12/2020) Pukul 19.30-22.00 WIB. Acara ini disiarkan secara live streaming melalui You Tube Muslim on Air dan zoom meeting. Tampak lebih dari 300 orang menyaksikan acara ini berlangsung.


Mengundang pembicara yang berkompeten di bidangnya dari sisi hukum, politik, ekonomi, dan keumatan. Tampak hadir:

1. Dr.Ahmad Sastra, MM- Ketua Umum Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa 

2. Ust. Ahmad Khozinudin, - Advokat, Pejuang Gerakan Islam 

3. Bung Fajar Kurniawan, - Analisis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data 

4. Bung Hanif Kristiyanto – Penulis dan Analis Politik


Host Anto Maliki memulai dengan memaparkan fakta kondisi Indonesia di tahun 2020. Banyak sekali problem yang terjadi. Kondisi ini menggambarkan jika Indonesia sedang tidak baik-baik saja.


Ahmad Khozinuddin, advokat yang kerap membela aktivis Islam membincang hukum di Indonesia. Berkaitan dengan perundang-undangan dan hukum yang terkesan suka-suka dalam penegakkannya.


“UU Omnibuslaw Cipta Kerja mendapat penolakan. Pola pembentukan undang-undang menggunkan asas ‘pokok e’. Sekali lagi ini mengonfirmasi jika jargon kedaulatan di tangan rakyat hanya mitos. Faktanya kedaulatan ada di tangan pemilik kapital,”tegas Ahmad.


Sementara itu pola penegakkan hukum masih seputar kriminalisasi dan diskriminasi. Kriminalisasi menimpa aktivis yang kritis. Peristiwa yang juga menimpa Gus Nur yang menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. 


“Pendapat Gus Nur yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar dianggap kebencian. Yang diproses dengan UU ITE. Kasus itu juga menimpa Habib Rizieq Shihab,”tambahnya.


Hanif Kristianto, Analis Politik fokus membahas sikap partai politik. Partai politik dalam sistem demokrasi melupakan aspek edukasi.


“Umat Islam jangan sampai terkecoh dengan figuritas,”pesannya.


Hanif menambahkan jika tahun 2020 KPK merilis sekitar 36 persen kasus korupsi melibatkan partai politik. Pun demikian dengan survei DPR sebagai lembaga terkorup tak mengherankan. Seperti baru-baru ini korupsi yang dilakukan di masa pandemi oleh Menteri Sosial. Mensos juga sebelumnya juga anggota DPR RI.


“Kedua partai politik belum menjadi edukator. Mereka bekerja ketika akan pemilihan berlangsung. Mereka baru gusar siapa yang akan maju dalam pilkada dengan melakukan survey mengukur elektabilitas,”tambah Hanif.


Adapun hantaman Covid-19 mampu merontokkan sendi-sendi perekonomian Indonesia. Fajar Kurniawan dari Pusat Kajian dan Analisis Data fokus pada kondisi ekonomi di masa pandemi. 

Fajar Kurniawan memaparkan data dan menarik dari perkembangan Covid-19 hingga vaksinasi. Upaya penyelamatan anggaran dengan stimulus anggaran untuk menaikkan ekonomi. Pun demikian, penemuan vaksin Covid-19 akan menjadi peluang bisnis jutaan dolar dan menjadi game changer.


Kehadiran Dr Ahmad Sastra yang juga intelektual muslim menambah khazanah pembahasan refleksi akhir tahun. Beliau mengetengahkan Islam solusi negeri dan menjadi sandaran serta harpan hakiki. 

“Secara normatif Islam sebagai kebenaran dan umat Islam sebagai umat terbaik. Ini sesuai firman Allah QS Ali Imran 19 yang menyatakan sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam,”tegasnya.


Dalam sejarah panjang umat Islam terdapat fakta menarik. Sejarah Islam sebagai pelajaran dan petunjuk. Banyak kisah yang termaktub dalam al-Quran yang bisa diambil pelajaran oleh generasi sekarang.


“Secara empiris penerapan sekularisme sebagai sumber krisis dalam kehidupan. Hal ini dikarenakan umat Islam sudah berpaling dari aturan Allah SWT sebagaimana termaktub dalam QS Thahaa 124 dan surat al-Maidah 44,45, dan 47,”simpul doktor yang juga mengajar filasafat itu.


Alhamdulillah acara berjalan lancar. Dipungkasi dengan doa berharap persoalan bangsa ini segera sirna.

Posting Komentar

0 Komentar