Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Utang Negara Mengkhawatirkan, Peneliti INDEF Ingatkan: “Jangan Sampai Gali Lubang Tutup Lubang”

 


PKAD—“Kalau kita lihat potensi berkaitan dengan gagal bayar, sebenarya kita sudah diingatkan oleh banyak pihak termasuk yang kemarin dari BPK. Meskipun ini sebenarnya sudah lama dianalisis dan potensi apabila jumlah utangnya semakin meningkat”, ungkap Rizal Taufikurahman, dalam diskusi online bersama Pusat Kajian dan Analisis Data, Rabu (7/7/2021).


Insight #45 PKAD “Awas!! Gagal Bayar Negara Ambyar?” ini menyoroti kondisi Utang Luar Negeri Indonesia (ULN) yang semakin meningkat. Baik yang ada di APBN sebesar Rp6.527 triliun, juga utang BUMN sebesar Rp2.143 triliun. Khawatir akan gagal bayar. Menghadirkan 3 tokoh yaitu Dr. M Rizal Taufikurahman, M.Si (Center of Macroeconomic and Finance INDEF), 2. M Ishaq (Bidang Riset dan Data FAKKTA), Dr. Hj. Anis Byarwati, S.Ag., M.Si. (Komisi XI Fraksi PKS).


Diawal pemaparan, Rizal menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia sebelum pandemi memang selalu tidak mencapai target. Apalagi ditambah dengan kemunculan pandemi tahun 2020. 


Jika melihat rasio atau nisbah antara pendapatan dan belanja negara gapnya semakin besar, “bayangkan ditahun 2019 antara belanja dan pendapatan masih selalu pendaptan dibawah belanja. dan sekarang gapnya semakin tinggi”, jelasnya.


Rizal menambahkan, “Bahkan kalau kita lihat defisit tahun 2021 ditargetkan minus 5,7 artinya realisasi ditahun lalu minus 6,14. Padahal di peraturannya sebelum Covid ini maksimum 3%. Inilah yang kemudian menjadi consern bahwa posisi utang pemerintah diakhir Mei cukup tinggi, 6.418 triliun. Terdiri dari pinjaman kemudian surat berharga negara. Jadi pinjaman itu 13,6% dan surat berharga negara bayangkan sangat besar dan ini ke domestik dan falas”.


Utang negara semakin meninggi, namun tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan. Justru penerimaan pajak yang menjadi indikator penerimaan negara terjadi penurunan. Ditambah lagi porsi pembayaran utang terhadap total belanja pemerintah kian meningkat hampir 14%, kalau melihat dari ruang fiskal yang sangat terbatas ini dianggaran 2021 kisaran 19,10% jadi ini yang menjadi perhatian jika pembayaran bunga utang atas PDB menjadi sangat sulit, maka harus berhati-hati dalam pengelolaan utang.


Diakhir ia berharap untuk memperhatikan betul mengatur pengelolaan utang negara. Utang bukan hanya tentang besarannya, tapi bagaimana utang mampu dikembalikan setiap tahun tanpa ada resiko macet pembayaran atas kinerja dari ekonomi, harus betul-betul diperhatiakan.


“Kalau tidak tepat dalam mengambil kebijakan dan keputusan berkaitan dengan politik pembayaran utang. Maka bisa jadi akan bayar bunga utang dengan utang lagi. Sangat memungkinkan akan terjerat ke dalam utang. Tentu akan lebih berat beban fiskalnya, bahkan APBN akan semakin terbebani dalam pembiayaan pembangunan kedepan,”pungkasnya.[]

Posting Komentar

0 Komentar