Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Ustaz Ahmad Fathoni, Prihatin terkait Modernisasi di Arab Saudi

Ustaz Ahmad Fathoni,


Merespon modernisasi di Arab Saudi dengan konsep sektor pariwisata yang mengadopsi budaya barat, aktivis Harokah Research Center, Ustaz Ahmad Fathoni, merasa prihatin dan menyesalkan kejadian tersebut. 


"Saya prihatin dan menyesalkan atas terjadinya westernisasi di Arab Saudi. Ini sangat memukul dunia Islam, karena selama ini Saudi Arabia dikenal sebagai penjaga dua tanah haram."ujar Ahmad Fathoni di saluran _YouTube_ PKAD Rabu (27/10/21). 


Kemudian ia melanjutkan bahwa hal ini sangat disayangkan karena seluruh kaum muslim punya hak untuk menjaga tanah haram dan tanah haram adalah milik kaum muslim. Sementara pihak yang diberikan amanah yaitu Arab Saudi tidak bisa menjaga amanah ini sebaik-baiknya. 


"Maka ini patut untuk dipertimbangkan kembali jika Saudi Arabia dijadikan sebagai penjaga tanah haram," tegas Ahmad Fathoni. 


Ahmad Fathoni kemudian melanjutkan, dengan fakta ini, seharusnya bisa membuka mata dunia khususnya dunia Islam, kalau selama ini Arab Saudi dijadikan sebagai representasi dari negara Islam, maka saat ini bisa dilihat secara nyata bahwa hal ini tidak benar. 


"Buktinya sekarang liberalisasi terjadi di Arab Saudi, kemaksiatan dibuka sedemikian rupa. Bahkan Arab Saudi sekarang sangat condong pada budaya barat dan kebijakan-kebijakannya tidak pro Islam," paparnya. 


Lalu fathoni menjelaskan, oleh karena itu maka harus bisa membedakan antara negeri Islam dan negara Islam. Pemahaman tentang hal ini sering salah kaprah di kalangan umat Islam. 


"Negeri Islam adalah apabila mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Indonesia, Malaysia termasuk Arab saudi. Sedangkan yang dikatakan negara Islam adalah apabila negara itu memenuhi dua syarat, hukum yang diterapkan di negara tersebut adalah hukum Islam kafah dan kedua, keamanan negara tersebut dipegang oleh kaum muslim. Oleh karena itu Arab Saudi bukan representasi negara Islam."tutupnya.

Posting Komentar

0 Komentar