Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Kesiapan Keluarga Tergantung Kesiapan Masyarakat dan Negara Hadapi Wabah Covid-19

 


PKAD- Varian baru Omicron seakan belum membuat jera para penentu kebijakan negeri ini untuk mengevaluasi kinerjanya. Dalam acara [LIVE] #121 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertajuk "Omicron Dan Kesiapan Hidup Berdampingan Dengan Covid-19," dr. Nur Erlin selaku praktisi kesehatan menegaskan adanya sinergi antara kesiapan keluarga, masyarakat dan negara dalam menghadapi wabah covid-19 ini. (Jum'at, 31/12/21) 


dr. Nur Erlin mengungkapkan bahwasanya kesiapan keluarga menghadapi wabah covid-19 ini tergantung pada institusi lainnya. Kesiapan institusi yang dimaksudkan adalah kesiapan masyarakat dan juga negara.


"Kalau bicara kesiapan keluarga, kita tidak bisa memisahkan dengan institusi lain yakni masyarakat dan negara. Keluarga, secara umum sudah memahami bahaya covid-19 sesuai tuntunan yang ada misal perlu pakai masker, jaga jarak," urai beliau.


Lanjut, beliau mengungkapkan kemungkinan keluarga tidak ada jaminan siap hadapi wabah covid-19 ini jika kesiapan institusi masyarakat dan negara tidak sinergi. 


"Apakah menjamin masyarakat yang sebagian ada yang percaya dan selebihnya tidak percaya dengan wabah covid-19 ini? Bagaimana mungkin keluarga protect jika masyarakat tidak protect? Apalagi negara juga demikian. Kesiapan keluarga tergantung masyarakat dan negaranya.” 


Tambahnya, “Jika tidak saling sinergi, maka tidak akan siap keluarga itu menghadapi kondisi-kondisi ke depan wabah ini. Masyarakat belum bisa membedakan antara covid-19 ada dan yang kontradiksi meski ada vaksin guna menurunkan gejala.”


Oleh karena itu, para ibu harus menyiapkan keluarga utamanya generasi penerus bangsa ini guna hadapi wabah covid-19 di tengah derasnya arus kapitalisme materialisme.


"Ibu harus menerangkan pemahaman yang benar tentang covid-19 bahwa ini bagian qadha dari Allah SWT. Selanjutnya, Ibu memaksimalkan ikhtiar sebagai bagian dari kewajiban seorang muslim kepada Allah SWT. yang bernilai pahala jika dilakukan hambaNya. Seperti memakai masker, jaga jarak, mengurangi mobilitas.”


Lanjutnya, “Ibu punya kewajiban edukasi ke masyarakat. Secara pribadi ikhtiar, lalu melakukan perbaikan masyarakat dan agar negara juga serius. Rasul punya konsep baku ketika ada wabah dan diteladani oleh para Khulafaur Rasyidin. Negara mencontoh Umar bin Khattab memenuhi pemenuhan pangan hingga kesehatan," tips beliau.


Kapitalisme selalu mencari kesempatan sejak lahirnya. Standar materialisme telah menjadi motivasi mencari untung dalam semua tindakan tak terkecuali ketika wabah melanda seperti saat ini. Saatnya seorang muslim kembali pada konsep baku dari Rasulullah saw. ketika menangani wabah dan sikap beliau pernah dicontoh Khalifah Umar bin Khattab.

Posting Komentar

0 Komentar