Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Laskar BMI: ”Cuitan Ferdinan Hutahaean Diduga Ujaran Kebencian Bernuansa SARA”



PKAD— Ketua Laskar Brigade Muslim Indonesia, Ustadz Muhammad Zulkifli menanggapi cuitan Ferdinan Hutahaean di akun twitternya yang dianggap adalah sebuah cuitan yang mengandung dugaan unsur kebencian. Serta menyebarkan ujaran kebencian yang bermuatan SARA.  


“BMI berinisiatif melakukan pelaporan ke Kepolisian pada tanggal 5 Januari jam 10 pagi,”tandasnya di Insight #124, Jumat (07/01/2022) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.


Ustadz Muhammad Zulkifli menyampaikan terdapat dua kalimat yang dilontarkan oleh Ferdinan. Kalimat pertama adalah " Kasihan sekali Allahmu, ternyata lemah dan harus dibela.


“Ini adalah kalimat yang menurutnya ditujukan kepada seluruh penganut yang menyembah Allah SWT, dalam hal ini adalah umat Muslim. Kalimat ini tidak pantas disampaikan oleh Ferdinand karena secara tegas mematahkan sifat wajib Allah yang diyakini oleh umat Islam,” tegasnya dalam diskusi tema “Allahmu Lemah. Tangkap Ferdinan Hutahaean?


"Kalau dia berbicara misalkan bahwa Allah itu sudah Maha Kuat, Maha kaya, tidak perlu dikasihani, tidak perlu dibela Karena dia sudah Maha Kuat, Iya saya sependapat karena memang sifat Allah seperti itu,”tambahnya.


Lebih lanjut, “Dia Maha Kuat, Dia Maha Besar, Dia Maha kaya, dan maha segala-galanya. Tetapi yang dilakukan Ferdinand tidak, justru kalimat kasihan itu adalah kalimat yang ditujukan kepada orang-orang yang dianggap lemah. Iya kan. Orang-orang yang dianggap bisa saja miskin, sehingga harus dikasihani. Ini yang membuat kami menganggap ini adalah sebuah bentuk kalimat yang sangat menghina umat Islam," ungkap Ustadz Muhammad Zulkifli.


Kemudian di kalimat kedua, Sebaliknya Allahku Maha kuat. Allahku maha segala-galanya. Dia Maha Kuat dan tidak perlu dibela." Ini adalah bahasa yang membandingkan antara satu Tuhan dengan Tuhan yang lain. 

 

“Ini tidak boleh, sebab Ferdinan memposisikan Tuhannya sebagai Tuhan yang selayaknya memang dianggap sebagai Yang Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa, yang tidak perlu dibela, sementara dia memposisikan Tuhan umat muslim itu sebagai Tuhan yang lemah dan harus dikasihani.”


Pada pungkas pernyataan Ustadz Zulkifli menyatakan "Inilah yang menjadi penyebab sehingga saya menganggap bahwa di dalam kalimat ini diduga terdapat ujaran kebencian yang bernuansa Sara, yang saya anggap adalah sesuatu yang sangat berbahaya, yang bisa memecah persatuan di NKRI ini."[]

Posting Komentar

0 Komentar