Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Seruan Jokowi Terkait 5 Poin konsensus ASEAN Untuk Konflik Myanmar, Solutifkah?



PKAD—Senin (24/1/2022) Insight # 131 Pusat Kajian Dan Analisis Data (PKAD), mengupas masalah yang sedang hangat yakni "Konflik Myanmar : Komitmen ASEAN dan Muslim Indonesia?. Menghadirkan tiga narasumber yang kompeten, salah satunya adalah Umar Syarifuddin pemerhati isu - isu politik Internasional.


Umar memaparkan bahwa " Ada dua faktor yang mempengaruhi konflik yang terjadi di Myanmar". Pertama, Internal terkait rezim militer dan kubu oposisi. Kedua, external terkait persaingan yang ketat antara Amerika dan Inggris.


"Pengaruh ASEAN tidak signifikan untuk menyelesaikan perdamaian", tambahnya. Terdapat intervensi Barat di Myanmar sehingga ASEAN sulit memegang Myanmar.


Tanggapan Umar terkait seruan Jokowi tentang 5 poin konsesnsus Asean, "Tidak berpengaruh, kecuali seruan Jokowi diikuti dengan kekuatan militer."


Harapan terhadap Jokowi, " Pertama, menuntut tindakan kriminal yang dilakukan oleh rezim Myanmar. Kedua meminta pertanggungjawaban militer. Ketiga memboikot, embargo ekonomi, pemutusan deplomasi dengan Myanmar. Keempat intervensi untuk menolong muslim disana."


" Solusi Ideologis Islam yang mampu menjawab tuntas semua masalah. Dibutuhkan solusi praktis bukan pragmatis", tutup beliau untuk menyelesaikan masalah komflik yang terjadi di Myanmar.

Posting Komentar

0 Komentar