Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Amburadul!! Kasus IKN Dan Wadas, Suara Rakyat Kalah Dengan Bisikan Kaum Oligarki



PKAD-Fajar Kurniawan selaku keynote speaker dan analis senior PKAD mengungkapkan pertanyaan retoris, "Masihkah kita berharap pada sistem demokrasi liberal dan ekonomi kapitalisme liberal?"


Pertanyaan tersebut beliau sampaikan dalam [LIVE] FGD #44 Pusat Kajian Dan Analisis Data bertajuk "IKN Dan Wadas Tanda Bobroknya Demokrasi Liberal Dan Menguatnya Diskursus Khilafah." (Sabtu, 19/2/2022)


Fajar Kurniawan lanjut menjelaskan,"Dua contoh (IKN dan Wadas) akan membuat siapapun yang mencermati bertanya-tanya. Sesungguhnya pemerintah ini bekerja untuk siapa. Untuk proyek IKN banyak sekali aspirasi untuk tidak melanjutkan proyek. Mengingat proses persiapannya yang serampangan, tidak matang dan cenderung dipaksakan. Belum lagi kesulitan keuangan negara untuk membiayai proyek tersebut berpotensi menyedot habis keuangan negara. Sedangkan di Wadas, rakyat jelas menolak dengan alasan yang telah disampaikan ke berbagai pihak. Rakyat di Wadas menolak adanya penambangan di areanya."


Masyarakat dan tokoh-tokoh menolak kedua proyek ini. Namun sejauh ini pemerintah ternyata tetap melanjutkan prosesnya. 


"Masyarakat dan tokoh-tokoh menolak. Namun sejauh ini pemerintah ternyata tetap ngotot untuk melanjutkan proses masing-masing proyek. Hal itu menunjukkan betapa amburadulnya tatanan sistem ekonomi kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini. Termasuk sistem politik yang katanya akan menjamin suara rakyat akan menjadi perhatian utama. Tapi yang terjadi suara rakyat hampir pasti diabaikan," tegas analis senior PKAD ini.


Analis senior PKAD ini pun menunjukkan bahwa sistem demokrasi dan ekonomi kapitalisme liberal hanya pepesan kosong. Karenanya, bisikan kaum oligarki sudah sejak awal mengalahkan suara rakyat.


"Apa yang selama ini dipuja dan dipuji orang bahwa demokrasi liberal sebagai tatanan politik paling ideal ditambah kapitalisme sebagai tatanan ekonomi yang paling adil. Tapi nyatanya hanya pepesan kosong belaka. Suara rakyat yang dirindukan saat Pemilu ternyata mudah dipinggirkan pada saat mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidupnya sendiri. Suara rakyat kalah dengan bisikan kaum oligarki yang dari awal sejatinya telah membeli kekuasaan di negeri ini. Kekuasaan uang, jaringan dan kuasa sesungguhnya di tangan oligarki," pungkas beliau.[]

Posting Komentar

0 Komentar