Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Adhi Massardie KAMI: “Mengkritisi Pemerintah Asal Berbasis Konstitusi Tidak Ada Masalah”


PKAD—Tim Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) berkesempatan melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Pada kesempatan ini, Adhi Masardi selaku Ketua Komite Eksekutif KAMI menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan kondisi Indonesia hari ini. Menurut Adhi, hari-hari ini memang kita punya masalah yang sangat serius.


"Saya bilang sama teman-teman, KAMI itu bukan didesain untuk organisasi permanen. Jadi kalau Indonesia sudah selamat ya kita bubar. Nah persoalannya kan indikator selamatnya apa? Jadi kira-kira demikianlah." Ungkap Adhi pada LIVE PKAD bertajuk "Dialog Kebangsaan KAMI & PKAD" (Jumat, 3/6/2022).


Adhi berbagi pengalamannya terjun ke dunia politik. Beliau pernah berada di pusat kekuasaan. Belajar politik langsung dari Abdurahman Wahid soal politik, ketatanegaraan, dan lain-lain. Ia melihat bahwa kekuasaan itu jika digunakan dengan baik akan bermanfaat buat rakyat. 


“Kalau ada kekuasaan digunakan dengan cara tidak baik untuk kepentingan sedikit orang ini tidak benar dan harus kita ingatkan. Sebab mengingatkan itu penting,”serunya.


Adhi menyampaikan dirinya akan tetap mengkritisi pemerintah. Orang-orang termasuk keluarganya pernah bertanya mengenai aktifitasnya ini. Beliau menjawab tugasnya hanya mengkritisi. Perkara orang tersebut berubah atau tidak, apakah pemerintah akan berubah atau tidak, itu bukan keputusan kita.


"Itulah sebabnya saya bilang kepada teman-teman kalau kita digerakan itu gunakanlah filosofi muadzin. Waktunya zuhur adzan, waktunya ashar adzan, waktunya maghrib adzan. Mau adzan kita kemudian orang-orang nggak sembahyang kan bukan urusan kita. Yang penting tugas kita adzan sudah kita tunaikan sebagai muadzin,"ungkapnya lagi.


Adhi mengungkapkan, sekarang ini ada hal menarik dari situasi masyarakat yang mulai bangkit. Berbeda dengan dua tahun lalu. KAMI mancul karena masyarakat terutama kalangan intelektual dan kampus-kampus, partai politik maupun banyak orang tidak berani mengkritik karena takut dibui, di kriminalisasi, dan lain-lain. 


“Sebagai gerakan moral KAMI mengkampanyekan bahwa mengkritisi pemerintahan dan kekuasaan itu asal dengan cara berbasis konstitusi tidak ada masalah,”tandasnya meyakinkan.

Posting Komentar

0 Komentar