Home

PKAD—Pemberitaan terkait latihan bersama (latma) TNI AD dengan Tentara Amerika Serikat viral di media. TNI AD pun menggelar konfrensi pers. Latihan ini merupakan latihan terbesar. Pusat Kajian dan Analisis Data mengdakan diskusi online via zoom dan youtube. Mengangkat tema “Latihan Bersama Garuda Shield Ke-15 Tentara Indonesia Dan Amerika Serikat, Implikasi Kedigdayaan Militerkah?”, Jumat (30/7/2021). Hadir sebagai narasumber Khairul Fahmi (Institute for Security and Strategic Studies), Marsekal Muda TNI (Purn) H. Amirullah Amin (Pengamat Militer), Dr H. Budi Mulyana, S.IP, M.Si (Dosen Hubungan Internasional). Khiarul Fahmi mengungkapkan “Jika ingin membandingkan kekuatan militer AS dengan Indonesia, maka akan terlalu ketinggian. Namun disisi lain, skala Asia Tenggara, Indonesia memiliki statistik kekuatan militer yang terbesar. Setelah Indonesia posisi kedua diisi Vietnam.” Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Road to 2024 (3): Prabowo Subianto Nyapres Juga Tho?


Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)


  Seorang Jendral. Menantu presiden Soeharto. Kini bangkit berdaya sebagai pengusaha dan pimpinan Gerindra. Prabowo Subiakto tak lekang oleh zaman. Komitmen kebangsaannya menggebu, bahkan tak bertepi. Pasca tak aktif di militer pilihan politiknya masuk Partai Golkar. Pada akhirnya mendirikan partai Gerindra.


  Menariknya, Prabowo sudah tiga kali mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden dengan Gerindra sebagai kendaraan politiknya. Pertama dilakukan pada tahun 2009. Saat itu, Prabowo menjadi cawapres dari capres Megawati Soekarnoputri. Kemudian pada Pilpres 2014, Prabowo kembali maju Pilpres. Kala itu maju sebagai calon presiden. Sementara cawapresnya adalah Ketum PAN Hatta Rajasa.


  Pada Pilpres 2019, Prabowo kembali mencoba peruntungannya memperebutkan kursi orang nomor satu di Indonesia. Kali ini Prabowo maju berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno melawan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Jika tahun 2024 mencalonkan Capres, maka ini keempat kalinya. Luar biasa.


Siap Menerima Mandat?


  Prabowo mungkin masih mendapatkan simpati dan dukungan dari beberapa kalangan. Paling fenomenal ketika Pilpres 2019. Puncak politik umat Islam yang dibarengi kalangan dengan #2019GantiPresiden. Kesadaran politik umat sedikit naik kelas. Aksi-aksi yang biasanya kecil dan tak menarik karena ada unsur politik, saat itu tak berlaku. Semua tumplek-blek dalam aksi bersama untuk menangkan Prabowo-Sandi. Harapannya ada perubahan nasib umat Islam.


  Usaha itu pun ditentang pendukung pro rezim. Media sosial penuh polusi dukung sana sini. Polarisasi politik menguat. Umpatan cebong dan kampret mencuat. Pembelahan ini diikuti dan mengkristal seolah menandakan tak ada lagi persatuan dan kesatuan bangsa. Politik demokrasi yang dijalankan begitu kapitalis liberal. Modal-modal tak jelas berseliweran. Gairah umat yang ingin perubahan dikapitalisasi dan dikooptasi. Alhasil dari itu semua dibawa sampai kini dan nanti 2024. Politik identitas menjadi awas.


Kenapa Prabowo siap menerima mandat? Inilah yang menjadikannya siap maju ke depan, meski tak mudah dan penuh aral lintang. Hal ini bisa dianalisis sebagai berikut:


Pertama, tak ada harga murah untuk nilai menjadi Presiden Indonesia. Kesiapan modal dana jadi utama. Sisanya bisa dicari pada donatur dan oligarki yang siap mendukung. Oligarki kerap tak tampil, karena sibuk berbisnis. Oligarki hanya butuh kepastian hukum yang memihak kepada kepentingan mereka. Secara kalkulasi modal dana, Prabowo masih punya.


Kedua, modal dari kalangan militer dan purnawirawan. Kecintaan militer kepada Indonesia begitu kuat dan mendalam. Meski ketika aktif dan menjabat tak bisa berbuat lebih karena benturan dengan komando dan kontrol penguasa. Karenanya, pasca dinas atau purnawirawan, banyak kalangan militer yang meleburkan diri dengan partai politik atau gerakan perubahan bangsa lebih baik. Memorable orde baru yang dianggap sukses, masih belum hilang dalam ingatan publik.


Publik juga mengenal Susilo Bambang Yudhoyono yang juga dari militer. Mengenang dua periodenya, rakyat masih membandingkan dengan rezim Jokowi. Meskipun ada kurang dan lebih. Modal inilah yang dimanfaatkan Prabowo untuk jejaring di kalangan militer purnawirawan.


Ketiga, memang Prabowo dekat dengan ulama seperti penuturan beberapa ulama. Karakteristik inilah yang tidak bisa ditinggal oleh siapa pun yang ingin menjadi pemimpin. Ulama di Indonesia masih dianggap memiliki kesakralan dan penarik suara terbanyak dari mayoritas umat yang awam politik. Kalaupun tak memiliki ulama, biasanya politisi memiliki guru spiritual.


Kedekatan kepada ulama ini demi kepentingan dukungan berkuasa. Komunikasi antaran menuju kepada umat Islam di bawah. Prabowo sendiri dekat dengan KH Abdul Ghofur (PP Sunan Drajat Lamongan). KH Abdul Ghofur merupakan penasehat Gerindra Nasional. Selain itu dekat dengan Almarhum KH Muhammad Maksum (PP Al-Islah Bondowoso). Jejaring ulama dan santri inilah yang modal penting. Dawuh kyai seolah menjadi sabda suci yang akan diikuti santri, alumni, dan keluarga besarnya.


Keempat, hasil survey dan deklarasi dini dari relawan semua kalangan. Survey menjadi barometer untuk maju tidaknya calon. Termasuk upaya mempengaruhi persepsi publik. Deklrasi menjadi cara untuk mencuri start pertama agar konstituen tak berpindah ke lain hati.


  Mandat menjadi api pemantik Prabowo untuk percaya diri maju. Apakah itu cukup? Tetntu tidak. Sebab masih ada langkah yang bisa menjadi tembok penghalang. Bisa jadi Presidensial Treshold, dukungan partai lain, dukungan publik, dan lobi-lobi ke lainnya. Di sisi lain, partai lain sudha mengunci capres atau cawapresnya.


Jadi Presiden Keren?


  Publik selama ini masih berkutat pada sosok siapa yang layak menjadi Presiden. Terkadang alasan menjadi Presiden seolah mendapatkan bisikan gaib dari rakyat. Semisal, kelaparan, kemiskinan, harga kebutuhan pokok naik, dan kesusahan hidup rakyat kecil. Padahal kesemua itu buah dari sistem yang diambil negara karena jauh dari syariah Islam.


  Problematika yang sistemik tidak sekadar hanya mampu dirubah dengan ganti orang. Maka butuh solusi fundamental yaitu orangnya baik dan taat syariah. Sistemnya juga dari syariah. Jadi sama-sama berkah. Bukan sekadar menjadi keren dengan jadi presiden.


  Kalau jabatan Presiden di dunia yang sementara saja diperebutkan. Bagaimana jabatan yang tinggi di akhirat kelak ketika ingin bersanding dengan baginda nabi Muhammad di firdaus-Nya. Menjadi suatu penyesalan jika menjadi Presiden tapi malah menjauhkan rakyat dari Sang Pencipta, Allah SWT. Suatu kerugian besar ketika jadi Presiden malah bertindak gegabah dan mendzalimi rakyat.


  

 Oleh karena itu, kepada Prabowo Subianto khususnya, dan calon presiden pada umumnya. Sebagai saudara seiman dan sebangsa. Ambillah syariah Islam kaffah. Anda akan keren bukan terlihat keren. Anda tidak hanya dicintai rakyat, tapi juga dicintai Allah dan Rasul-Nya serta dirindu penduduk langit.[]

Posting Komentar

0 Komentar