Stunting Naik Lagi: Rakyat Disalahkan, Sistem Terlupakan
Oleh: Ririn Arinalhaq
Lagi-lagi persoalan stunting di negeri ini kembali menuai perhatian, di tengah gencarnya program MBG nyatanya angka stunting justru meningkat. Padahal generasi cerdas dan unggul salah satunya dipengaruhi oleh asupan gizi pada saat tumbuh kembang.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud turut menanggapi angka stunting di Balikpapan. Dari peninjauan yang telah dilakukan, ditemukan adanya kenaikan angka stunting.
Nurlena menyebut, hal ini memang menjadi momok bagi kota Balikpapan. Sebab, dari peninjauan yang dilakukan, kasus tersebut sempat turun drastis hingga ke angka 17 persen.
“Sebenarnya kami menginginkan bagaimana angka stunting bisa menyentuh hingga 11 persen, dari data tahun lalu yang mencapai 23-24 persen. Awal 2026 sudah turun menjadi 17 bahkan 15 persen. Setelah dicek lagi ke lapangan ternyata meningkat kembali,” jelasnya.
Fenomena ini, kata dia, disinyalir tak lepas dari meningkatnya angka penduduk yang datang dari luar daerah. Keluarga yang telah berpindah dan menetap, kemudian sang ibu bersalin di sini sehingga terdata sebagai warga kota.
Terkait ini pun, lanjut dia, pihaknya terus melakukan koordinasi intens dengan dinas terkait. Seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), serta Dinas Kesehatan (DKK) Balikpapan. “Termasuk kader-kader PKK, bagaimana sinergi semua pihak bisa mewujudkan misi bersama untuk menekan angka stunting di Balikpapan,” tambahnya. (KaltimPost, 30 Juli 2026)
Penyebab dari meningkatnya angka stunting ini memang banyak faktor, misalnya faktor ekonomi keluarga, asupan gizi yang tidak mencukupi, kondisi gizi dan kesehatan ibu, pola asuh serta pengetahuan orang tua dan akses terhadap layanan penduduk. Namun beberapa faktor ini sebenarnya hanyalah akibat atau cabang dari satu akar permasalahan yaitu dengan diterapkannya sistem kehidupan yang rusak yaitu sistem kapitalisme.
Sistem kapitalisme inilah yang saat ini sedang menguasai dan mengatur kehidupan di seluruh berbagai penjuru dunia tak terkecuali Indonesia. Ciri yang paling menonjol dalam sistem ini yaitu menjadikan berbagai macam hak dasar rakyat sebagai tempat mencari keuntungan. Misalnya saja dalam bidang kesehatan, sistem kapitalisme menjadikan kesehatan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan.
Realisasinya bisa kita lihat di lapangan di mana tidak ada rumah sakit dan obat serta vitamin yang gratis bahkan hanya sekedar periksa kesehatan saja rakyat harus bayar. Sehingga hanya rakyat yang memiliki uang saja yang bisa mengakses fasilitas kesehatan, padahal kesehatan adalah salah satu hak dasar seluruh rakyat yang wajib diperhatikan dan dipenuhi oleh negara. Akibat dari mahalnya kesehatan ini muncul beberapa permasalahan baru yang itu berperan dalam peningkatan angka stunting.
Tak hanya itu, sistem kapitalisme ini melahirkan kesenjangan yang signifikan antara orang kaya dan orang miskin. Hal ini karena sistem kapitalisme tidak memiliki aturan distribusi kekayaan yang baku karena dalam sistem ini semua orang boleh menguasai segala sesuatu sekalipun itu sumber daya alam yang jumlahnya sangat banyak (liberalisme kepemilikan). Namun lagi-lagi rakyat yang memiliki uang banyak yang memiliki modal serta mengambil keuntungan dalam pengelolaan SDA tersebut. Dampak dari mekanisme ini adalah mahalnya berbagai macam kebutuhan dasar hidup masyarakat seperti air, listrik, serta bahan bakar sehingga masyarakat yang berpenghasilan kecil akan sangat kesulitan dalam memenuhi segala kebutuhan dasar hidupnya.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk memenuhi perut ala kadarnya, tidak lagi peduli bergizi atau tidak karena yang terpenting adalah bisa makan. Maka wajar jika angka stunting akan terus meningkat.
Jika ditelusuri lebih dalam, stunting tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengubah pola makan atau memberikan bantuan makanan tambahan. Sebab, stunting berkaitan erat dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan bergizi, kesehatan, sanitasi, dan pendidikan. Ketika kebutuhan tersebut sulit dipenuhi, maka perlu dievaluasi bukan hanya perilaku masyarakat, tetapi juga sistem yang mengatur kehidupan mereka.
Maka Islam memandang kesehatan dan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab negara. Di mana negara wajib menjamin kebutuhan pokok masyarakat, menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta memastikan tersedianya fasilitas umum yang layak. Negara pun wajib memastikan setiap rakyat dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan tidak menyerahkan seluruh pemenuhannya kepada mekanisme pasar yang berorientasi keuntungan.
Selanjutnya Islam memiliki sistem ekonomi yang berbeda dengan kapitalisme. Dalam sistem Islam sumber daya alam yang menjadi kebutuhan masyarakat tidak boleh dikuasai segelintir pihak untuk mencari keuntungan. Pengelolaannya harus berada dalam tanggung jawab negara dan hasilnya digunakan untuk kemaslahatan rakyat.
Rasulullah Saw bersabda:
قال رسول الله ﷺ: «الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَاءِ، وَالْكَلَإِ، وَالنَّارِ»
“Kaum Muslim berserikat (memiliki hak bersama) dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api (energi).”(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Untuk itu jika pengelolaan kekayaannya benar negara pasti memiliki sumber dana untuk menyediakan layanan kesehatan, air bersih, pangan, sanitasi, serta pelayanan ibu dan anak secara memadai. Karena itu, penanganan stunting tidak cukup dengan terus meminta orang tua memperbaiki pola makan, sementara harga kebutuhan pokok dan layanan kesehatan semakin sulit dijangkau. Apalagi jika negara hanya fokus menyalahkan para pendatang yang sebelumnya tidak terdata. Padahal seharusnya negara fokus menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap keluarga baik itu keluarga asli ataupun pendatang agar mampu memenuhi kebutuhan gizi anaknya.
Rasulullah Saw bersabda:
“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa penguasa memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus rakyat. Maka, persoalan stunting seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kesalahan keluarga, tetapi juga sebagai persoalan sistem yang harus diselesaikan secara menyeluruh.
Sudah saatnya umat tidak hanya mengkritisi angka stunting, tetapi juga menyadari akar persoalannya. Islam menawarkan sistem yang menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai tanggung jawab negara, mengelola kekayaan alam untuk kemaslahatan rakyat, serta menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, umat perlu kembali kepada penerapan syariat Islam secara menyeluruh agar terwujud kehidupan yang sejahtera, adil, dan penuh keberkahan. Wallahualam bi ash shawwab.


0 Komentar