Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

ESENSI MAHASISWA



Oleh: Shaka Cantona (Kadep Kastrat UKMKI Unair)

Saudara-saudaraku,
Segenap elemen mahasiswa dan pemuda.
Kita adalah penyambung lidah masyarakat, jembatan aspirasi rakyat. Untuk itu, pemikiran cemerlang dan argumen kritis adalah modal yang tak terpisah dalam kehidupan mahasiswa.

Ketika modal tersebut tercederai oleh birokrasi yang otoriter, jembatan tersebut dihancurkan oleh kekuasaan yang sewenang-wenang, Maka perjuangan tersebut hanya tinggal cerita.

Esensi dari mahasiswa adalah menciptakan solusi, saling adu gagasan untuk berkontribusi memajukan agama, nusa, dan bangsa. Namun hal tersebut harus pudar tergantikan esensi merunduk.

Mahasiswa tak lagi tegap berdiri di garda terdepan perjuangan mempertahankan hak rakyat kecil.
Kini mahasiswa merunduk terkungkung dalam kekerdilan formalitas pendidikan yang mendewakan IPK. Dibungkam dengan kebijakan semena-mena oleh mereka yang berkuasa.

Persekusi mahasiswa dan ulama terus silih berganti.
Kasus Saudara Hikma Sanggala, merupakan salah satu contoh, betapa kolonialisme dalam dunia pendidikan masih gencar digalang. Tindakan otoriter yang menyiratkan memori orde baru kembali terasa.

Maka tak menutup kemungkinan akan ada Hikma-Hikma selanjutnya yang akan merasakan pahitnya ketidakadilan. Para orator dan aktivis yang mengungkap kebenaran, namun membahayakan kekuasaan bisa hilang jika tak bungkam.

Maka jika mental-mental para mahasiswa adalah kerdil, Tak akan ada lagi solusi gemerlang dari sudut kampus, dari sudut masjid, dan sudut-sudut warung kopi sepi akan diskusi.

Tapi jika mental tersebut berkobar-kobar dan tak padam. Berani mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah. Maka keadilan tak sebatas wacana dalam ruangan. Melainkan dapat direalisasi dari kaum intelektual yang membawa kita lebih mulia dari wakil-wakil tuhan.

Takbiirr
Takbiirr
Takbiirr
Merdeka!!!

Posting Komentar

0 Komentar