Home

Temukan Informasi Terkini dan Terpercaya di PojokKota.com: Menyajikan Berita Terkini Tanpa Basa-basi! www.pojokkota.com

Pengeroyokan Guru Terjadi Lagi, Bukti Buruknya Arah Pendidikan


Oleh : Wardatil Hayati, S.Pd (Peme porhati Ibu dan Generasi)

Terjadi lagi. Bermula dari seorang guru menegur pelajar berseragam SMA yang sedang merokok. Kasus ini viral di Balikpapan, Kalimantan Timur sebab si pelajar tidak terima atas teguran tersebut, lalu melakukan aksi pengeroyokan terhadap korban (guru). Polisi menetapkan 3 tersangka dalam kasus ini, yakni dua pelajar SMA dan satu orang dewasa yang merupakan paman pelaku. Dua tersangka anak tidak ditahan karena masih dibawah umur dan masih masih sekolah, sehingga hanya jaminan orang tua dan wajib lapor (www.detik.com, 27/7/2026) 

Menjadi guru memang tidak mudah, bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, tapi juga ada tanggung jawab moral ketika murid ataupun lingkungan melakukan kesalahan. Karena itu seharusnya teguran dipahami sebagai bentuk kepedulian seorang pendidik. Bukan sebagai ancaman ataupun penjatuhan harga diri. Emosi yang tidak terkontrol adalah bukti kegagalan pendidikan kita hari ini. 

Kasus ini bukan sekadar persoalan kenakalan seorang atau dua orang remaja. Lebih jauh, ini menunjukkan memudarnya penghormatan kepada guru dan lemahnya pembentukan adab pada generasi.

Memudarnya adab kepada guru tidak dapat dilepaskan dari arah sistem pendidikan hari ini yang orientasinya hanya pada pencapaian akademik, siswa yang mampu menyelesaikan soal, meraih nilai tinggi, melek teknologi, masuk kampus favorit atau diterima di perusahaan yang bergengsi. Intinya memiliki keterampilan dan mampu bersaing. Namun, pendidikan tentang bagaimana mengendalikan emosi, menghormati orang lain, menerima nasihat, dan memiliki rasa takut kepada Allah tidak selalu mendapatkan porsi yang sama. Akhirnya lahirlah generasi yang memiliki pengetahuan, tetapi kurang memiliki adab dalam interaksi, termasuk kepada guru. 

Di sisi lain, anak tidak hanya dibentuk oleh sekolah. Mereka juga tumbuh dalam keluarga, lingkungan pergaulan dan masyarakat yang setiap hari memberikan berbagai pengaruh. Ketika lingkungan kehidupan semakin menormalisasi perilaku bebas, kekerasan, budaya mengejek, dan pemuasan hawa nafsu, anak pun rentan menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang biasa. 
Hal diatas lahir dari sistem kehidupan yang diterapkan saat ini yaitu liberalisasi atau kebebasan yang berdasarkan HAM, inillah yang menjadikan anak-anak semakin jauh dari kehidupan dan adab sesuai Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dianut dinegri ini.

Hingga kita tidak perlu kaget jika anak-anak tumbuh dengan cara berpikir dan berprilaku liberal sebab pemahaman inilah yang mereka pahami dan mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari sehingga membentuk pola piker dan pola sikap anak-anak kita. 

Maka, tidak cukup jika kita mellihat apa yang dilakukan anak-anak kita saat ini hanya sebatas bagaiman memberikan hukuman, walau hukuman memang diperlukan agar ada efek jera dan keadilan bagi korban. Namun yang harus dipastikan kita menyelesaikan masalah anak-anak kita ini dengan penyelesaian mendasar.

Maka jika bicara bagaimana membentuk anak-anak kita menjadi pribadi yang beradab, jawabannya jelas kita temukan didalam Islam.

Sebagaimana yang disampaikan salah seorang ulama bersar Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizhomul Islam, akhlak tidak berdiri sendiri. Akhlak harus dibangun bersama akidah, sehingga perilaku seseorang lahir karena keterikatannya kepada perintah dan larangan Allah.

Islam memandang pendidikan sebagai proses membentuk manusia, bukan sekadar mencetak manusia berprestasi. Karena itu, pendidikan harus menanamkan akidah Islam sejak dini. Anak tidak hanya diajarkan bahwa merokok, berkata kasar atau melakukan kekerasan adalah perilaku buruk, tetapi juga ditanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Keluarga harus menjadi tempat pertama pembentukan adab. Orang tua perlu membiasakan anak menghormati orang lain, menerima nasihat, mengendalikan amarah, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Sekolah harus mengembalikan posisi guru sebagai pendidik. Guru bukan sekadar penyampai materi dan pengejar target kurikulum, tetapi orang yang ikut membentuk kepribadian peserta didik. Karena itu, guru juga harus mendapatkan perlindungan dan dukungan ketika menjalankan fungsi mendidik.

Semuanya saling terkait, masyarakat harus menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya kepribadian Islam. Anak tidak mungkin dibentuk menjadi baik jika setiap hari jika lingkungan kehidupannya justru menawarkan nilai yang bertentangan dengan pendidikan yang diterima di sekolah dan rumah. 

Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari nilai ujian, jumlah prestasi, atau kemampuan akademik. Keberhasilan pendidikan juga harus terlihat dari lahirnya generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Sebab jika pendidikan hanya menghasilkan generasi yang pintar tetapi kehilangan adab, maka yang sedang kita bangun bukanlah generasi emas, melainkan generasi cemas yang memiliki ilmu tanpa kepribadian.

Islam menawarkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk pola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam. Dengan pendidikan seperti inilah diharapkan lahir generasi berilmu sekaligus beradab, sehingga guru kembali dihormati dan ilmu kembali ditempatkan sebagai jalan menuju ketaatan kepada Allah SWT.

Wallahu 'alam bis showwab.

Posting Komentar

0 Komentar