Home

News update : FDMPB—Upaya konstruksi sejarah Islam di Nusantara kini menemukan momennya. Apalagi bersamaan dengan peringatan Tahun Baru Hijriyah 1442 H. Kajian mendalam dan kritis ini mendapat perhatian luas. Khususnya dari Intelektual Muslim Indonesia yang berhimpun dalam Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB). Akhirnya, FGD Online kelima diadakan Sabtu (29/8/2020) Pukul 08.00-11.30 WIB. Menghadirkan Intelektual yang berkompeten dibidangnya, di antaranya: Prof Dr-Ing Fahmi Amhar (Cendekiawan Muslim dan Peneliti), Dr Ahmad Sastra, MM (Dosen Filsafat Pascasarjana UIKA Bogor), Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA. (Guru Besar Pemikiran Islam UIN Ar Raniry Aceh), Drs. Moeflich Hasbullah, MA (Sejarawan Muslim dan Dosen), Rachmad Abdullah, S.Si, M.Pd (Sejarawan dan Penulis Buku Trilogi Revolusi Islam), dan Septian AW (Sejarawan Muda Komunitas Literasi Islam). Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Gaza Diserang Jelang Ramadhan: Adakah HAM Sejatinya?


Oleh : Indha Tri Permatasari (Praktisi Kesehatan) di Surabaya
Ramadhan seharusnya disambut dengan suka cita oleh umat Islam seluruh dunia. Tapi tidak dengan Gaza, yang menyambut bulan suci dengan duka Sedikitnya 24 warga Palestina tewas di Gaza. Mereka adalah korban serangan udara Israel yang dilancarkan pada akhir pekan, sehari sebelum bulan puasa.
Israel berdalih, serangan tersebut dilancarkan sebagai pembalasan atas 400 roket yang ditembakkan milisi Gaza. Menurut Israel, 250 dari roket itu berhasil ditangkis oleh sistem anti-rudal Iron Dome. Empat orang warga Israel tewas. Walau Israel mengatakan serangan udara mereka mengincar target tertentu, tapi nyatanya warga sipil jadi korban. Dua di antara korban di Gaza adalah wanita hamil, tiga anak-anak. Serangan Israel juga menghancurkan markas kantor berita Turki, Anadolu. (https://kumparan.com/@kumparannews/foto-gaza-sambut-ramadan-dengan-duka-1r1ZkChL0DJ?utm_medium=post&utm_source=Facebook&utm_campaign=int )
Gaza diserang dunia bungkam. Tidak ada yang menyuarakan bahwa Israel melangar HAM (Hak Asasi Manusia) padahal HAM Sejak dideklarasikan pada 10 Desember 1948 silam, sebagian besar penduduk di muka bumi ini menjadikan HAM sebagai harapan baru dalam mewujudkan hak-hak universal, seperti perdamaian, keamanan, keadilan, dan sebagainya. Dari istilah Fundamental Human Right hingga istilah Human Rights, ide HAM bertujuan untuk menciptakan tatanan dunia yang hidup secara layak dan berkeadilan. HAM berkembang pesat menjadi pembicaraan internasional, baik dalam tataran konsep maupun dalam tataran jumlah perangkat hukum yang mengaturnya.
Namun ida HAM nyatanya tidak mampu memerikan kemerdekaan yang diharapkan warga Gaza dan Palestina untuk melindungi hak-hak muslim yang ada malah atas nama HAM menjadi legitimasi penjajahan bagi muslim di dunia.
Ide HAM muncul dari hasil perkembangan Peradaban Barat (Kapitalisme) dan merupakan produk sejarah Eropa. Abdul Qadim Zallum secara mendalam memaparkan pemikiran mengenai HAM berpangkal dari pandangan ideologi Kapitalisme terhadap tabiat manusia, hubungan individu dengan masyarakat, fakta masyarakat, dan tugas negara.
Dari beragam fakta HAM tersebut, tampak jelas AS( Amerika Serikat) telah menjadikan HAM sebagai alat politik luar negerinya untuk mencapai berbagai tujuan dan kepentingan mereka atas negara-negara lain. Gembar-gembor Barat tentang HAM selalu dilandasi standart ganda. Untuk perkara yang seharusnya diperlakukan sama, boleh terjadi perbedaan penanganan antara satu dan lainnya, tergantung kepentingan mereka.
Jadi, pada hakikatnya propaganda HAM oleh AS dan Eropa adalah strategi represif untuk menjustifikasi cengkeraman mereka terhadap urusan negara-negara lain agar tetap dapat didominasi dan dieksploitasi. Oleh kerana itu, tidak salah kalau banyak pakar HAM menilai propaganda HAM merupakan salah satu agenda imperialis moden dari negara Barat kepada negara-negara lain di seluruh dunia.
Sudah saatnya kaum muslim sadar bahwa yang mampu membebaskan Palestina dan negeri-negeri muslim bukan lagi berharap pada bantuan barat atau perjanjian damai atas nama perdamaian dunia di bawah lembaga PBB. Namun dengan kembalinya Khilafah yang mampu membebaskan dari tangan penjajahan kafir barat, karena Khilafah ibarat ibu yang mampu melindungi anak-anaknya yakin negeri-negeri muslim.

Posting Komentar

0 Komentar