Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

PEMBACAAN PUTUSAN HAKIM UNTUK GUS NUR, DITUNDA

LBH PU News – Surabaya. Saat yang ditunggu-tunggu yaitu pembacaan putusan sidang oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya (17/10) yang menangani dakwaan kepada Gus Nur (Sugi Nur Raharja) dengan delik aduan pencemaran nama baik, ternyata ditunda Kamis depan (24/10). Sigit Sutriyono Humas PN Surabaya mengatakan, penundaan sidang putusan atau vonis Gus Nur karena musyawarah mufakat majelis hakim belum selesai.

Skenario pegamanan yang mencolok dan skenario pemisahan dua kelompok massa terlihat sacara kasat mata. Kapolrestabes sukses mengakhiri pengamanan sampai selesai, dalam kondisi aman terkendali dan damai sentausa.
Sidang tetap dibuka, tapi lebih maju setengah jam-an dari jadwal pukul 10.00 WIB. Dibuka sebentar, dinyatakan agenda pembacaan putusan ditunda Kamis depan (24/10). Penasihat Hukum Gus Nur yaitu Ahmad Khozinuddin, keluar gedung pengadilan, menuju para simpatisan Gus Nur yang berada di seberang Pengadilan bersama lawyer lainnya, lalu menyapa para muhibbin yang sebagiannya adalah kolega Gus Nur sesama Ulama.
“Persidangan ini bukanlah antara Gus Nur dengan Generasi Muda NU atau antara elemen umat Islam lainnya, tapi ini adalah antara umat Islam dengan rezim represif yang mengkriminalisasi ulama.

Sebagaimana juga yang telah menimpa Ustadz Alfian Tandjung, Habib Bahar, Ustadz Abdus Shomad dan lain-lain,” teriak Khozinuddin bersemangat ketika memberikan keterangannya di depan para wartawan dalam pengamanan ketat aparat kepolisian. “Aktivitas yang dilakukan Gus Nur selama ini adalah aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan dakwah, yang dijamin konstitusi. Kami mohoan maaf kepada para asatidz, alim, ulama dan habaib dalam melakukan pembelaan Gus Nur belum maksimal. Dan Insya Allah doa-doa panjenengan semua akan dipertimbangkan Allah SWT dengan putusan bebas untuk Gus Nur. Takbir !”, tambahnya.

Disusul taushiyah sebentar lalu ditutup dengan doa, dan jamaah membubarkan diri secara tertib. Siapkan waktu dan simpan energi untuk kembali memberikan dukungan kepada Gus Nur pada Kamis depan tanggal 24 Oktober 2019, Insya Allah. [] rif

Posting Komentar

0 Komentar