Home

PKAD—Chanda Purna Irawan menilai vonis HaErEs dan Pinagki ini adalah tindakan hukum yang berat sebelah sekaligus zalim. Jika memang kebohongan dianggap sebagai pidana, maka mestinya pejabat negara yang membuat statement atau kampanye yang tidak ditunaikan itu dianggap telah berbohong dan harus dipidana. Chandra Purna Irawan kemudian menyoroti mobil esemka, “Katanya ada mobil esemka, kok saya belum pernah lihat mobil merk itu ya? Nah kalau memang itu tidak nyata, berarti itu bohong dan bisa dipidana”, protesnya pada Insight #40 PKAD, Jumat, (25/6/2021). Menurut Chandra, perasaan baik-baik saja itu tidak bisa dipidana karena sifatnya privasi, hanya yang bersangkutan yang merasakannya. Sah-sah saja saat dia merasa baik-baik saja, meskipun sedang sakit, corona misalnya. Saat ditanya ada apa sebenarnya di balik vonis HaErEs ini, Chandra mengaku, ada beberapa keanehan. “Yang pertama, sebelum beliau ke Arab Saudi itu sudah berapa kali ditetapkan sebagai tersangka. Kedua, sampai di Arab infonya beliau juga terus dipantau. Ketiga, sampai di Indonesia, disambut ribuan jamaah. Nah, disini saya melihatnya aneh, kenapa dibiarkan sampai memasuki area bandara, seolah agar ada dasar atau alasan untuk diperkarakan”, paparnya. Baca berita selengkapnya di www.pojokkota.com

Shalawat Asyghil Menyatukan Dua Kubu

LBH PU News – Surabaya. Sesuai jadwal Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (17/10) pukul 10.00 adalah agenda Pembacaan Putusan Majelis Hakim terhadap terdakwa Gus Nur (Sugi Nur Raharja). Sejak pagi kawasan jl. Arjuno sudah disterilkan dari lalu lintas umum. Beredar di WA dengan narahubung cak djaz, #KyaiMemanggilSantri Bergerak, menjaga kehormatan NU, istighotsah & sholawatan start pukul 06.00 WIB. Ada yang menyebut 10.000 massa.

Pengamanan kawasan pengadilan terlihat mencolok, barikade kawat berduri dan mobil water cannon disiagakan di depan pintu masuk pengadilan. Bahkan ada mobil K-9 yang berisi anjing anti huru-hara, diparkir di halaman depan dalam pengadilan. Pemeriksaan kepada pengunjung pengadilan juga lebih ketat daripada hari-hari biasanya.

Simpatisan Gus Nur juga hadir, diposisikan di seberang Pengadilan pojok pom bensin. Jumlahnya lebih banyak, lebih dari 200 orang yang mayoritas berbaju muslim putih, dari beberapa elemen umat antara lain Sakerah Madura, GAMAN, Gema Pembebasan, Forum Komunikasi Ulama dan lain-lain. FPI melalui Kyai Miftah, menyatakan tidak hadir karena menghormati kesepakatan bersama Banser dan Kapolrestabes untuk tidak lagi mengunakan uniformnya saat di kawasan Pengadilan, dalam kerangka meredam tensi potensi friksi pasca pemukulan oknum Banser kepada seorang laskar FPI. Siang ini FPI juga mengirimkan nasi untuk konsumsi jamaah simpatisan Gus Nur sebanyak 200 buah yang hadir di Pengadilan Negeri Surabaya siang ini.

Simpatisan dan muhibbin Gus Nur sejak kedatangannya pukul 06.30 secara berangsur-angsur sampai pukul.10.15 WIB mendengarkan taushiyah dari ulama berbagai daerah diselingi lantunan shalawat asyghil. Sempat terlihat, seorang anggota polisi menyalami dan mencium tangan seorang Kyai Madura dalam kerumunan simpatisan Gus Nur, dan polisi tadi mengaku sebagai santrinya.

Memasuki pukul 09.15, mobil komando dari pendukung KH. Ma’ruf Syah sebagai pelapor Gus Nur, juga melantunkan shalawat asyghil sampai pukul 09.35 dan ditutup dengan doa. Gus Muwafiq terlihat melintas di kubu ini.

Jika ada kesamaan antara dua kubu yang pro Gus Nur dan yang memperkarakan Gus Nur dalam amalayah membaca shalawat asyghil secara jama'i kenapa sekarang berposisi berhadapan dalam perkara di pengadilan. Belum lagi sdanya kesamaan aqidah islamiyah, kesamaan Quran, kesamaan kiblat dan lain-lain. Apakah ada pihak ketiga yang mencoba mengadudombakan? () rif

Posting Komentar

0 Komentar